Neuroplanologi - Bahagia Untuk Menjadi Kuat

Kota Bahagia adalah Kota yang mampu memberikan kebahagiaan bagi warganya. Saya ingin memulainya dari defenisi yang sederhana tentang Kota Bahagia, sesederhana yang saya pikirkan tentang jalan kebahagiaan.

Urbanisasi dan Masyarakat Kota

Urbanisasi muncul karena ada kebutuhan, begitupun dengan kota sebagai sebuah peradaban. Kota lahir karena kebutuhan, bukan secara alamiah, melainkan dibentuk dengan sengaja oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Neuroplanologi - Jalan Menuju Kota Bahagia / Happy City

Mungkin sudah saatnya sebuah pendekatan baru lahir, dengan memadukan disiplin Planologi dan Neurosains untuk mewujudkan sebuah kota yang bahagia. Dengan kajian yang lebih fokus membahas sebuah perencanaan yang lebih memberikan pengaruh terhadap saraf otak dan membuat manusia lebih bahagia. Semoga tak terlalu dini, saya ingin menyebutnya sebagai NEURO PLANOLOGI.

Silverqueen - Berhenti Menangis

Selalu ada kisah haru pada malam-malam disaat musim hujan yang pernah kita lalui bersama. Kau disana, dan aku disini, hanya kita berdua. Belum cukup setahun kita kenalan, tapi rasanya sudah bertahun-tahun kita berteman. Sangat akrab, dan kau selalu saja buatku rindu.

Pak Udin, Penjaga Tradisi Suku Bajo Mola di Wakatobi

Pak Udin merupakan seorang Suku Bajo yang berasal dari Mola, pemukiman suku bajo terbesar didunia yang berada di Pulau Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. Layaknya suku bajo yang selalu dikatakan dalam berbagai literatur, pak udin sangat menggantungkan hidupnya pada laut.

Jumat, 21 Juni 2019

Mengurai Benang Kusut Wacana Pemekaran Muna


Ekonomi kita sulit, untuk membangun saja kita masih membutuhkan utang. Daerah sangat tergantung pada utang, karena beban gaji para PNS saja sudah terlalu melambung, dan saat ini ada pada kisaran 80% dari DAU. Maka saat ini kita butuh pemekaran, agar supaya jumlah PNS di Kabupaten Muna dapat terbagi dengan Kota Raha ketika nanti terbentuk. Dengan begitu tanggungannya pun akan dibagi 2 daerah, Kota dan Kab. Induk, sehingga dana yang tersisa untuk pembangunan, kemungkinan masih cukup besar.

Coba lihat, ketika Raha dapat menjadi kota, maka daerah akan lebih maju, lebih banyak dana yang masuk dalam bentuk investasi. Sudah banyak contoh Kota yang berhasil, kata temanku. Dengan ekspresi sangat serius, dia berusaha meyakinkanku yang sedari tadi duduk mendengarkan dengan baik dan serius.

Dari matanya, saya melihat tekad yang sangat kuat untuk membangun daerah menjadi lebih baik. Namun sebagai teman yang baik, saya pun harus mengatakan beberapa hal penting padanya. Terkait pemekaran yang tengah diperjuangkannya, saya menangkap beberapa poin penting yang jadi pokok masalahnya. Yaitu ; Gaji PNS yang terlampau besar, Kurangnya Anggaran Pembangunan daerah, dan Raha yang akan lebih berkembang ketika memisahkan diri untuk menjadi Kota.

Yang pertama mengenai Gaji PNS yang bersumber dari DAU. DAU atau Dana Alokasi Umum merupakan salah satu transfer dana pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk memenuhi kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Alokasi DAU Kabupaten Muna pada tahun ini cukup besar, bahkan di Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan yang ke-2 terbesar setelah Kab. Konawe Selatan. Meskipun penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk pelayanan kepada masyarakat, bukan berarti DAU merupakan dana yang dialokasikan untuk pembangunan, apalagi pembangunan fisik.

Besarnya jumlah DAU yang mencapai ratusan miliar dan tiap tahun masuk ke Muna, masih menimbulkan efek kejut mengenai penggunaannya yang terlalu besar untuk pembayaran gaji PNS. Karenanya muncul anggapan bahwa dana sebesar itu, harusnya sebagian besar dapat dipakai untuk membangun Muna menjadi lebih baik. Sementara ketika berbicara pembangunan fisik daerah, maka dana yang mesti dibicarakan adalah dana DAK atau Dana Alokasi Khusus. DAU dan DAK sama-sama merupakan dana dari APBN yang diberikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah, namun berbeda dalam pengalokasiannya. DAK dialokasikan khusus untuk pembangunan daerah dari berbagai bidang yang diusulkan,  untuk membantu mendanai kegiatan khusus dan sesuai dengan prioritas nasional.

Dari jumlahnya, mungkin saja DAK tak sebesar DAU, karena dalam DAK, Pemerintah Pusat harus melihat keselarasan cita-cita dengan Pemerintah Daerah. Daerah harus menyeleraskan tujuan dengan Pusat, agar supaya mendapat porsi cukup besar dalam pembangunan nasional hingga mampu masuk kedalam salah satu prioritas pembangunan nasional. Untuk itu, tentu banyak sektor yang harus digenjot, namun apabila melihat konsen Pemerintah Pusat dalam beberapa tahun terakhir, maka Sektor Pariwisata merupakan yang paling mendekati. Hal itu memiliki kemungkinan paling besar untuk dapat menjadi salah satu prioritas nasional, karena selaras dengan visi Pemerintah Pusat yang ingin menciptakan banyak bali baru sebagai destinasi wisata internasional.

Memang sudah seharusnya DAU untuk pembayaran gaji PNS, dan tidak ada yang salah dengan itu semua. Bahwa gaji PNS seluruh daerah di Indonesia, ditanggung oleh Pemerintah Pusat yang pembayarannya melalui daerah, dan bersumber dari APBN yang disalurkan dalam bentuk DAU. Hal itu yang membuat nilai DAU tiap daerah berbeda, karena dalam perhitungannya menggunakan pendekatan celah fiskal, yaitu selisih antara kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal daerah dan alokasi dasar, berupa jumlah gaji PNS daerah. Formulasinya adalah sebagai berikut :

DAU = Alokasi Dasar (AD) + Celah Fiskal (CF)
AD : Gaji PNS Daerah
CF : Kebutuhan Fiskal - Kapasitas Fiskal
(Sumber : www.djpk.depkeu.go.id)

Yang kedua mengenai kurangnya anggaran pembangunan daerah. Kalau yang dimaksud dengan itu adalah sejumlah biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembangunan, mungkin yang harus dibicarakan adalah mengenai pembiayaan pembangunan. Membicarakan pembiayaan pembangunan, tidak terbatas hanya pada persoalan besar kecilnya dana, tapi lebih luas membicarakan mengenai bagaimana upaya pemerintah menemukan sumber-sumber pembiayaan lain sebagai solusi. Selama ini, pembiayaan pembangunan Kabupaten Muna bersumber dari DAK Fisik, PAD, DBH (Dana Bagi Hasil), DID (Dana Insentif Daerah) dan Utang.

Ada banyak hal menarik pada poin ini, ketika kurangnya anggaran pembangunan seringkali dijadikan dalih untuk mengajukan pinjaman atau utang pada Bank Swasta. Dimana dana pinjaman nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan beberapa proyek besar yang sedang berjalan agar tidak terbengkalai kemudian mangkrak. Sebagai contoh, saat ini terdapat beberapa proyek besar yang belum rampung 100%, yaitu ; RSUD Muna, Pasar Sentral Laino, Jalan Poros Lohia, Jalan Poros bagian warangga dan yang terakhir Reklamasi Pantai Laino.

Seluruh dana yang dikeluarkan daerah untuk melaksanakan kegiatan pembangunan fisik mulai dari perencanaan sampai dengan pembangunan selesai, dinamakan anggaran belanja daerah. Hal itu sebelumnya telah disusun sebagai program tahunan dalam sebuah Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau RAPBD. Rancangan ini kemudian akan dibahas oleh Pemerintah Daerah bersama DPRD, dan ketika telah disetujui maka akan dilegalkan dalam bentuk PERDA atau Peraturan Daerah. Prosesi itu akan dilakukan setiap tahun dan menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam merencanakan dan menjalankan pembangunan daerah. Jadi, semua proyek-proyek besar yang kemudian akan direncanakan dan telah mulai pengerjaannya, sudah pasti akan ada dalam RAPBD dan dibahas oleh Pemda dan DPRD secara bersama.

Ketika RAPBD telah disetujui, kemudian menjadi APBD dan dijadikan peraturan daerah, maka artinya seluruh pembahasan mengenai penganggaran telah selesai. Terkait adanya lebih dari satu proyek besar, darimana sumber pembiayaannya dan berapa lama waktu pelaksanaannya, mestinya telah selesai dibahas ketika RAPBD telah disetujui. Ketika semua itu berjalan sebagaimana mestinya sesuai prosedur, maka munculnya istilah kekurangan anggaran pembangunan disaat pembangunan telah berjalan, tidak akan pernah ada. Karenanya segala hal yang berkenaan dengan kendala teknis maupun administrasi dalam pelaksanaan pembangunan, sebelumnya telah dianalisa dan dicarikan solusinya.

Dana pinjaman atau Utang, bukanlah sesuatu yang negatif, selama penggunaannya untuk sektor produktif dan daerah memiliki kemampuan untuk mengembalikan, serta tidak menumpuk. Meski begitu,  utang bukan satu-satunya sumber pembiayaan, karena masih banyak sumber lain yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai pembangunan. Alternatif lain yang dapat dicoba adalah dapat berupa KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha) dan PHLN (Pinjaman dan Hibah Luar Negri) dan Kerjasama Antar Daerah.

Yang ketiga, pemekaran Kota Raha yang akan memisahkan diri dari Muna Induk menjadi DOB (Daerah Otonom Baru). Pemekaran Kota Raha akan baik untuk Kota Raha sendiri, ketika nantinya berkembang menjadi pusat perdagangan dan jasa baru di Pulau Muna. Harapan masyarakat agar Kota Raha menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Sulawesi Tenggara, yang dapat bersaing dengan Kota Baubau dan Kota Kendari begitu besar. Namun semua itu tidak akan terjadi begitu saja dalam waktu singkat, semua butuh usaha dan keseriusan pemerintah kota guna mengejar ketertinggalan dengan 2 kota besar tadi. Sedangkan lahirnya Kota Baru, bukan jaminan utama masuknya anggaran dalam jumlah besar.

Ada beberapa permasalahan utama yang seringkali terjadi pada daerah otonom baru yang memisahkan diri dari daerah induk. Masalah ini merupakan yang paling sering didapati, bahkan ada yang tidak selesai meski telah pisah dari daerah induk setelah beberapa tahun lamanya. Masalah yang dimaksud adalah mengenai aset daerah berupa gedung beserta peralatan, sengketa batas wilayah, pemindahan pegawai serta kualitas sdm pns yang tidak memadai dan dokumen-dokumen daerah yang akan mengalami perubahan guna menyesuaikan dengan wilayah baru. Berdasarkan data hasil evaluasi Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, menunjukkan bahwa 87,71 % daerah induk belum menyelesaikan penyerahan pembiayaan, personel, peralatan dan dokumen (P3D) kepada daerah otonom baru. Sebanyak 79 % daerah otonom baru belum memiliki batas wilayah yang jelas, 89,48 % daerah induk belum memberi dukungan dana kepada daerah otonom baru sebagaimana yang disyaratkan dalam UU Pembentukan Daerah Baru, 84,2 % PNS sulit dipisahkan dari daerah induk ke daerah otom baru, kemudian 22,8 % pengisian jabatan tidak berdasarkan standar kompetensi, dan 91,23 % daerah otonom baru belum memiliki RTRW atau Rencana Tata Ruang Wilayah.

Yang paling jelas terlihat dilapangan adalah, aset daerah induk berupa sarana dan prasarana yang sebagian besar berada pada wilayah administrasi daerah otonom baru. Sebut saja bangunan kantor dan peralatan dinas lainnya yang menjadi aset Kabupaten Muna. Sebagian besar aset tersebut terdapat di Kota Raha, sedangkan apabila Kota Raha menjadi DOB, maka Ibukota Kabupaten Muna akan dipindahkan kedaerah diluar Wilayah Administrasi Kota Raha. Dari sini kemudian akan muncul banyak permasalahan, apakah aset Pemkab Muna akan tetap menjadi milik Pemkab Muna?, kalau tidak apakah ada skema jual beli yang akan dilakukan 2 Pemda?. Hal tersebut tidak akan selesai begitu saja dalam waktu singkat, karena tarik menarik kepentingan akan sangat mempengaruhi. Sedangkan disisi lain, kebutuhan akan gedung dan peralatan baru untuk menjalankan Pemerintahan di Kabupaten Muna Induk, akan sangat mendesak. Untuk menunggu pembangunan gedung baru beserta pengadaan peralatan barupum, akan sangat memakan waktu lama. Hal ini berbeda dengan pemekaran Muna Barat sebelumnya, yang mana aset Pemda Muna tidak sebanyak yang ada didalam Kota Raha.

Berbeda dengan Kota Raha yang mendapat banyak keuntungan dari pemekaran, Kabupaten Muna sebagai induk, akan mendapat sangat banyak kerugian. Sebagai daerah baru yang memiliki Ibukota Kabupaten baru, Muna seperti habis dirampok oleh Kota Raha, kemudian diasingkan ketempat lain. Tempat yang tidak punya akses air minum baik, tidak punya akses jalan baik dan tidak punya apa-apa selain lahan baru yang hanya siap dibanguni. Entah akan butuh berapa tahun Muna yang baru akan seperti Muna yang sekarang ini.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip tulisan Dian Ratna Sari dalam kolom politik LIPI yang berjudul "Menyoal Moratorium Pemekaran Daerah". Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan proses pemekaran daerah ditumpangi oleh kepentingan elite lokal yang menyaru sebagai aspirasi masyarakat. Diantaranya adalah kasus gagasan pemekaran Imekko, Sorong Selatan, di mana beberapa elite terindikasi memanfaatkan wacana pemekaran untuk kepentingan Pilkada 2014 dan menduduki jabatan di birokrasi. Bahkan, terjadi upaya untuk menggiring jawaban masyarakat di akar rumput agar sesuai dengan kondisi ideal pemekaran daerah.


Jumat, 14 Juni 2019

Tokoh Yang Menginspirasi

Sejak kecil dia sudah meninggalkan tanah kelahiran. Berpindah dari pulau asal ke kepulau seberang, kemudian kembali lagi kepulau asal. Adalah Tujuan pendidikan, yang kemudian menggerakan kakinya menapaki tiap anak tangga kehidupan, hingga mengantarnya menuju Ibukota. Dahulu dia hanya seorang camat diseberang pulau, kemudian takdir memilihnya menduduki jabatan tinggi di negri ini. Dia, Syarifuddin, Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementrian Dalam Negeri.

Posisi Dirjen bukan hal mudah tuk diraih, bukan pula jabatan politis yang didapat hanya dengan kedekatan dengan penguasa. Syarifuddin memilih melaluinya setapak demi setapak sebagai seorang Aparatur Sipil Negara. Pelan tapi pasti, dengan langkah yang cukup elegan, akhirnya dia sampai pada tingkatan yang orang muna hanya dapat memimpikannya.

Perjalanan hidup Syarifuddin mungkin seperti mimpi bagi sebagian orang. Mungkin juga seperti sinetron tv, yang penuh drama namun kemudian menjadi nyata. Kisah seorang dari daerah terpencil yang pindah ke Ibukota, kemudian sukses menjadi pejabat tinggi negara. Meskipun begitu, dia tetaplah orang muna seperti yang lain, yang masih memiliki niat besar melihat kampung halamannya menjadi lebih baik.

Dalam tingkatan golongan, dia dalah ASN golongan 1, atau pimpinan tinggi madya dengan pangkat Pembina. Hal ini yang membuatnya memenuhi persyaratan pokok, yang kemudian jadi pertimbangan penting dalam terpilihnya menjadi seorang Direktur Jenderal dilingkungan Kementrian.

Dia telah menjadi inspirasi dan panutan banyak ASN di daerah, bagi yang ingin menapaki karir secara vertikal dari daerah menuju Ibukota. Pada sudut yang lain, dia ibarat pisau tajam, yang menusuk sampai kejantung segala manipulasi dan kong kalingkong dalam penyusunan anggaran. Namun Dia juga dapat menjadi lilin, yang dengan cahaya redupnya mampu bedakan baik dan buruk dalam pengelolaan keuangan daerah.

Saya sendiri belum pernah berbincang lama dengannya. Kalaupun ada kesempatan, tentu saja banyak hal yang ingin kutanyakan dan pelajari darinya. Untuk beberapa alasan, saya menganggapnya telah berjasa besar dalam membangun Muna. Saya tak setuju dengan mereka, yang mengatakan, sebagai Dirjen dia tidak memberikan apa-apa untuk Muna. Sepertinya berbuat untuk daerah, hanya dibatasi ketika Dirjen mengikuti apapun keinginan pemerintah daerah.

Tahun ini dia terpilih sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara di Jakarta. Mungkin dia satu-satunya ketua kerukunan Sultra yang pernah menjabat PJ Gubernur Jawa Tengah. Sebagai ketua, dia memberikan banyak waktunya untuk mengayomi dan menerima segala keluhan masyarakat Sultra di Jakarta. Dia bukan seperti kebanyakan pejabat di daerah, yang mendadak memiliki sifat berbeda ketika dalam genggamannya ada kuasa. Dia juga bukan karakter pencari kenyamanan, yang akan menimbun kekayaan lewat proyek-proyek besar untuk perkaya diri.

Di zaman ini, Syarifuddin adalah simbol keberhasilan pemuda Sultra, yang mampu sampai kepusat dengan melewati jalur eksekutif. Ia mengawalinya dengan kerja keras, kerja bersih dan disiplin tinggi. Dia merupakan salah satu pejuang transparansi dalam pengelolaan keuangan, yang menjunjung tinggi asas partisipatif, efektif, efisien, akuntabel dan kompetitif dalam pengelolaan keuangan.

Sebagai manusia, dia merupakan pribadi yang akan berdiri digaris depan untuk memperjuangkan hak asasi manusia. Namun begitu dia juga memiliki sisi lain, yang kritis terhadap watak pemerintah arogan, tidak toleran dan kerapkali melupakan nilai-nilai kemanusiaan dalam program serta kebijakan yang dijalankan.


Sampai kini dia masih terus menjalankan kerja-kerja kemanusiaan. Menerima keluhan, konsultasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang segala hal. Dalam bidangnya, dia juga terus membantu dan memberi masukan para ASN pusat yang berasal dari Sulawesi Tenggara, khususnya Kabupaten Muna. Dalam waktu yang cukup singkat, dia juga telah berhasil menyelesaikan tugas sebagai PJ Gubernur Jateng dengan rapor sangat memuaskan. Jejaknya tentang itu tentu tak akan mudah hilang, dan senantiasa tersimpan dibenak seluruh masyarakat Muna dengan penuh kebanggan.

Saya akan sangat senang, ketika membayangkan ada banyak putra asli Muna yang mampu mencapai posisi serupa setelahnya. Yang mampu mengambil peran lain untuk mengawal dan memberi solusi demi pembangunan daerah kearah lebih baik. 

Atas prestasi dan popularitasnya ditingkat nasional, kiranya dia sangat pantas menjadi Brand Ambasador Pariwisata Kabupaten Muna. Semoga tulisan ini menjadi pembuka, untuk ulasan mengenai tokoh-tokoh lain asal muna yang menginspirasi masyarakat Kabupaten Muna.

Minggu, 02 Juni 2019

Ozil Bounce


Sering kali membuat assist yang brilian, ternyata kemampuan mencetak golnya sangat unik dan berkelas. Meski tak seperti Ronaldo dan Mesi yang selalu mencetak 2 digit gol dalam semusim, beberapa gol yang lahir dari kakinya merupakan sebuah kreasi yang indah dari seorang seniman lapangan hijau.

Namanya Mesut Ozil dan dia dahulu dikenal sebagai seorang raja assist. Dengan image itulah orang-orang mengenalnya, baik pemain maupun penikmat sepak bola,  sudah terbiasa menyaksikan assist brilian seorang Ozil yang kemudian dapat dikonversi menjadi gol. 

Julukan itu (raja assist) merujuk pada jumlah assist yang ditorehkannya dalam beberapa musim selama membela Real Madrid. Dimana rerata assist yang ditorehkannya kala itu mampu mencapai rasio 0,51 assist dalam setiap pertandingan. Artinya, Ozil hampir dapat membuat 1 assist dalam setiap pertandingan yang dilakoninya di Real Madrid.

Angka itu tidak jauh berbeda dengan torehannya saat bermain di Liga Jerman bersama klub Werder Bremen. Dimana dalam 108 pertandingan yang dimainkannya bersama Werder Bremen, Ozil mampu mencetak 55 assist atau rata-rata 0,51 assist tiap pertandingan.

Mesut Ozil seperti dilahirkan hanya untuk membuat assist bagi para striker dan pencetak gol. Cristiano Ronaldo adalah orang yang paling banyak mendapat pelayanan berkelas dari kaki kirinya.

Namun ada yang berubah pada dirinya selama beberapa tahun memperkuat Arsenal, atau lebih tepatnya dalam tahun-tahun terakhir ketika Arsene Wenger melatih Arsenal. Ozil, yang menurut pengakuannya sendiri lebih merasakan nikmatnya sepak bola ketika mampu memberi assist yang berbuah gol, kemudian oleh wenger diharuskan juga menjadi seorang pencetak gol bagi tim kala itu.

Dan dia tetaplah Mesut Ozil, pemain Nomor 10 profesional yang harus siap mengikuti apapun arahan dan instruksi yang diberikan pelatih padanya. Karenanya, dalam beberapa tahun terakhir kita disuguhi kepiawaian seorang Maestro Assist dalam mencetak gol.

Sejak saat itu pula Ozil kemudian lebih sering mencetak gol dan mendapatkan Hatrick pertamanya dalam sebuah pertandingan Liga Champion (2016/2017), ketika mengalahkan wakil Bulgaria Ludogorets.

Ada beberapa gol unik yang diciptakan Ozil, dengan menggunakan teknik andalannya dia mampu memperdaya beberapa kiper kelas dunia. Sebut saja Manuel Neuer yang merupakan rekannya di timnas jerman, dan Thibaut Courtois, kiper klub rival yang dibuat terlihat bodoh ketika tidak mampu membaca arah bola sepakan Ozil yang berujung gol.

Bounce Shoot, adalah sebuah teknik menendang bola kearah bawah, untuk menghasilkan pantulan berbentuk parabola. Teknik ini seringkali diperlihatkan Ozil dalam beberapa tahun terakhir, bahkan telah menjadi teknik andalannya dalam mencetak gol.

Pada pertandingan terakhir ketika melawan Bournemouth yang berakhir dengan kemenangan 5-1 untuk Arsenal, Ozil lagi-lagi menggunakan teknik Bounce Shoot untuk menaklukan Artur Boruc.


Berbeda dengan chip bola biasa, ini adalah teknik khas yang dengan sengaja dilakukan Ozil untuk mengelabui kiper lawan. Sebagaimana yang ditulis dalam the18.com, dikatakan bahwa dia (Ozil) menembakan bola ke tanah untuk menciptakan gaya angkat yang cukup unik. Itu dilakukan untuk membuatnya tampak seolah-olah ingin menembak rendah, tetap bola kemudian memantul jadi tinggi.

Bukan baru sekarang Ozil memamerkan teknik bouncenya, pada bulan 9 tahun 2016 lalu ozil telah melakukannya ketika Arsenal menaklukan Chelsea dengan skor 3-0. Setelah mendapat umpan crossing Alexis Sanchez, Ozil melakukan Bounce Shoot yang berhasil mengelabui Thibaut Courtois sehingga terlihat bodoh. 


Melihat gerakan kakinya, Courtois mengira Ozil akan melakukan tendangan voli mendatar, namun ternyata Ozil melakukan hal lain dengan menendang bola kearah rumput, kemudian bola melambung melewatinya dan masuk kegawang. 

Tendangan voli yang sama sebelumnya juga pernah dilakukan Ozil ketika Arsenal dikalahkan United 3-2 kala bermain di Old Trafford tahun 2016. Setelah croshing dari kanan tak menemui sasaran, para pemain united mengantisipasi, namun bola bergulir liar didepan gawang United. Ozil yang berdiri bebas melakukan tendangan teknik Bouncenya untuk menaklukan De Gea.

Untuk Bounce yang dilakukan Ozil saat melawan Bournemouth, mendapat perhatian lebih dari para pengamat dan komentator bola. Hal itu tergolong unik, karena dilakukan bukan dalam keadaan voli, tapi ketika bola bergelinding kecil diatas rumput. Setelah lama mengamati diketahui bahwa itu dilakukan Ozil dengan sadar.

Teknik Bounce sebetulnya lebih dikenal dalam permainan bola basket. Bounce Pass adalah operan yang dilakukan dengan cara memantulkan bola ke lapangan sebelum ditangkap kawan. Hal ini dilakukan untuk menghindari lawan ketika melakukan hadangan didepan atau dijalur lari.

Dan istilah ini mulai masuk dalam dunia sepak bola belum lama ini. Yaitu ketika ada fenomena unik yang ditunjukan Mesut Ozil, dimana awalnya banyak yang mengira hal itu adalah suatu kebetulan. Karena Ozil sudah seringkali menggunakannya, hal itu kemudian menjadi perhatian khusus untuk diteliti.

Dan hasilnya menyimpulkan bahwa teknik Bounce dalam sepak bola adalah teknik khas Mesut Ozil. Yang hampir serupa dengan tendangan biasa, namun memiliki ritme lebih unik dalam pantulannya yang seringkali membuat kiper susah mengantisipasi.

Teknik bounce bukanlah teknik yang mudah dilakukan, dibutuhkan ketrampilan dan perhitungan yang baik untuk dapat memantulkan bola dengan kekuatan yang cukup sehingga bola tidak melambung tinggi pada jarak tertentu dengan gawang. Dan hal itu sangat akrab dengan Mesut Ozil.

Kamis, 02 Mei 2019

Jompi dan Masa Depan Kita (Bagian 4)


“Jernihnya ini air di?”, saya bertanya kembali pada teman-teman
“Iya, bemana langsung dari mata air”
“Kalo banyak orang yang mandi pasti kabur”
“Disini juga masih dalam dan dasarnya masih bagus”
“Kira-kira 20 tahun lagi, kalo kita sudah besar semua, sudah punya anak juga, jompi masih begini ato tidak di?”
“Terlalu jauh pikiranmu, yang dekat-dekat saja kone, 10 tahun lagi supaya kita masih muda juga”
“Biar 10 tahun, siapa tau ada yang sudah kawin?”
“Iyo di, bisa saja”
“20 tahun lagi, mungkin kita semua sudah punya anak. Kalo hari minggu kita moajak mandi-mandi disini, masih bisa ato tidak di?”
“Tetau juga e, sekarang tahun 2001, 20 tahun lagi berarti tahun 2021. Sapatau sudah robot-robotmi semua”
“Sekarang saja banyak sekali orang tebang jati, di warangga saja hampir tiap malam orang mengangsur lewat smp 1”
“Di kontu sana e, orang sudah jadikan kebun, jatinya habis dipotong”
“Didepan sma 2 dan smp 3 juga hampir tiap malam orang mengangsung, sapernah dipanggil ikut” kata La Endo yang sedikit kesal
“Di jompi sini orang sudah mulai menebangmi juga”
“Iyo, baru tida susah mengangsur kalo disini, kasi lewat air selesai”
“Kalo habis jatinya jompi, kira-kira airnya masih banya begini ato tidak? Ini mata 2 masih jernih dan dalam begini ato tidak?
“Iya juga di, siapa tau keringmi juga dengan jompi”
“Huuss, masa mau kering, koteliat kah itu mata air banyanya, dari atas mata 3, di mata 3 n mata 2, banya sekali mata air baru besar semua” sanggah La Angko, yang tidak yakin kekeringan akan menimpa jompi.
“itu karna banya kayu to?, bemna kalo itu hutan diatas sana gondol?” Tangan La Firman menunjuk kearah bukit diatas mata air mata 3.

La Angko yang tidak setuju dengan pemotongan kayu, dan La Firman terlibat perdebatan kecil, dan kami ber 4 tidak ingin terlibat didalamnya.
“Siapa juga yang bodo-bodo mau potong kayu diatas itu” Kata La Angko
“Banya to, kokira uang sedikit itu kayu kah?”
“Kaya dorang tetau saja, temungkin dorang potong”
“Soktau kau, demi uang siapa yang tidak mau”
“Kau yang sok tau”
“Sekarang samau kasi kau uang 300 ribu, asal koikut saya potong kayu, komau ato tida?”
“Samau, tapi jangan kayu dijompi”
“Komau uang ato tidak?”
“Samau tapi bukan kayu disini”
“Hahaha, sama saja semua kayu jati”
“Beda to, di jompi dengan di warangga”
“Kalo dijual sama saja harganya”
“Sudami kone, kalau mau, potong saja, kalau temau ikut silakan saja, saya terus terang saminta maaf tebisa ikut”, kataku mencoba menengahi. “Coba kamorang liat ini air, lompat didalam baru menyelam, habis itu naik n dengar itu burung-burung. Habis itu Coba kamorang pikir, kalo semua ini rusak, apa yang kamorang mau ceritakan sama ana-ananya kita nanti?”.

Kemudian La Endo meneruskan “Kalo kamorang ceritakan, mungkin dorang hanya menghayal saja, pas datang disini sudah lain dengan ceritanya kamorang”.

“Marimi kita pulang kalo begitu”, panggil La Endo

Baru kali itu perjalanan kami sunyi, tiada tawa seperti yang biasa terjadi, tiada pula canda yang keluar dari mulut La Angko yang biasanya selalu tertawa. Saya hanya berusaha berjalan untuk sampai dirumah, terus membasuh kembali badan dengan air bersih dan ingin tidur yang lelap. Ini hanya pertengkaran kecil diantara kami, paling besok akan reda dan semua kembali seperti biasa, kataku dalam hati.


***
“Ganti rokok kah?, sakira rokok kretek koisap?” La Angko menjulurkan tangannya kearahku, menyambar sebatang rokok filter putih dari bungkusnya, dan tak berapa lama mendarat dibibirnya.

“Korek? Masa Cuma rokok, ini mau dimakan atau diisap?” dan diapun tertawa.

Sudah dari sore tadi tak hentinya dia membuat kami tertawa, dengan mimik dan bahasanya yang selalu nyeleneh, “ini ee, itu dekatnya bapanya firman, kecuali kominta lagi koreku” dalam keadaan tertawa saya mengambilkannya korek kayu dari atas meja.

“Haduuh, korek jaman belanda lagi kokasi, ini korek yang dipake belanda waktu jajah Indonesia” ditengah riuh tawa seisi ruangan dia membakar rokoknya, diisapnya rokok itu kemudian dihembuskan, diisapnya dan dihembuskan lagi. Seperti kereta api Bandung-Surabaya dalam nyanyian anak-anak.

Ini malam kamis di tahun 2019, dan besok adalah Hari Raya Idul Fitri yang oleh banyak orang dikatakan hari kemenangan. Sementara Jam didinding menunjukan pukul 20.45, suara tawa kami terus menggema dalam ruangan berukuran 3x5 yang juga merupakan ruang tamu rumah La Firman.

“Kamorang masih ingat waktu kita mandi di jompi dulu?” Tanya la Endo
“Pastimi, masa samau lupa, sampe sekarang belum 20 tahun ingka, tapi semua sudah punya anak” jawab La Angko yang kembali tertawa.
“Siapa yang sudah pergi di jompi?”, Tanya La Elang.
“Siapa yang sudah ajak anaknya pergi dijompi?” sambung La Wyq.
“Kamorang sudah ceritakan itu sama ananya kamorang tentang jompi?” giliran La Firman yang menyampaikan pertanyaan.
“Pasti belum ada to?, jawabku, “Karena saya sudah semuanya”. Sasudah pergi dijompi, sama anakku dan istriku, kita mandi di Mata Air mata 2.
“Saya sasudah pergi juga” jawab La Angko dan La Firman
“Saya baru dari jompi kemarin dulu” kata La Endo
“Bagimana jompi menurutnya kamorang?” dan saya kembali bertanya pada mereka.
“Hampir rusak” jawab La Endo. “Untung sudah kurang orang menebang, tidak kayak dulu, kalo tidak bisa kering jompi”

“Iya, di mata 3 sampe mata 1 sudah kotor, bukan pasir n batu lagi didasarnya, tapi tanah”
“Koliat itu tanggul disamping kiri kanannya?, itu karena sebelumnya jompi sudah dangkal, makanya dibikin tanggul supaya mengecil badan sungai dan tutup bendungannya ditambah”.
“Memang tamba dalam mata 2, tapi tiadami jalan untuk kesana. Jalan lewat hutan yang dulu kita biasa lewati, sudah tatutup pohon-pohon, teperna dilewati orang. Jalan bawah yang pipa besar biasa kita lewati, sudah dipondasi dan hanya bisa dilewati 1 orang”.

“Seperti ditutup jalan menuju mata 2, betul kasian, kayak dilarang orang datang disana”
“Kasian sekali jompi” kataku. “Dulu bisa ratusan orang datang disana tiap hari sabtu, sekarang kayak hutan purba saja. Kenapa tidak dijadikan tempat wisata saja, supaya jompi tetap terjaga tapi orang-orang disekitarnya juga bisa dapat uang. Coba bayangkan, tiket masuk dan parkir saja kalo dikelola baik-baik, bisa banyak pemasukannya dorang dan itu bisa dikelola anak-anak muda disana”.
“Betul sekali bro”, sambung La Endo. Kalo jadi tempat wisata, semua titik-titik dijompi bisa diakses orang, mungkin bisa juga ditambakan wahana lain bemana menurutmu?”
“Pasati bisa to” Jawab La Angko. “Masih bisa pasang Flying fox dan penyewaan peralatan berenang tuk dewasa dan anak-anak”.

“Kalo ada camping ground pasti lebih bagus lagi”, mantap itu wyq potong la Elang. “Selain camping ground bisa juga kafe ato fila, pasti senang orang datang dan nginap disitu”. “Konturnya juga bagus, sungai dari atas berbentuk S dan disampingnya ada tebing batu yang tidak terlalu tinggi. Orang luar pasti lebih pilih nginap disini daripada di hotel”.

“Iyo di” kata La Firman, ”itu lapangan tenis diatas bisa dijadikan tempat parkir mobil, kolam renang dibawah yang sudah ditimbun bisa jadi parkir motor, bagusnya kalo begitu”
“Tinggal dicarikan posisi yang bagus untuk tempat jualan, seperti ubi goreng dan jualan-jualan kecil lainnya”.
“Ada yang kamorang lupa” kataku memotong pembicaraan mereka. “Di mata 1 bagusnya dibikin jembatan kayu diatasnya, bisa jadi tempat lewat dan bisa juga jadi tempat berfoto, bagimana?”
“Cocok, Mantap sekalimi itu, spot Photo Hunting perlu sekali dalam tempat wisata. Karena salah satu yang bikin orang datang yaitu hanya untuk foto-foto”.
“Jadi kapan kita pergi di Jompi?”

Dan kamipun hanyut dalam suasana malam, yang gelap tanpa penerangan yang cukup, dengan sedikit gerimis yang nampak romantis dibawah sinar lampu diluar sana.
***

Selasa, 30 April 2019

Jompi - 6 Orang Penebang Kayu (Bagian 3)


Ada sebuah cerita bahwa air biru merupakan salah satu area yang dikeramatkan diwilayah jompi, tidak sembarang orang dapat mandi dan berenang disitu. Melihat air biru dari sini adalah melihat sebuah keindahan, air berwarna biru yang diatasnya terdapat batu besar menyerupai penutup.

Sekitar 1 meter dibelakangnya terdapat tebing batu yang cukup tinggi, tebing batu berwarna coklat keputih-putihan, seperti yang terdapat didalam gua. Tingginya kurang lebih 10 meter, menjulang keatas dan membuat kami takjub. Setiap kali datang di Jompi, tempat ini merupakan salah satu yang selalu membuat kami berhenti untuk melihat-lihat sambil menikmati keindahan alam.

Tak jauh didepannya ada mata air, mata air ini adalah penanda bahwa kami telah memasuki area pemandian mata 2. Kami melalui jalan tanah dengan membuka sendal, sebelum sampai di mata air, kami harus turun melewati pipa baja besar yang sedikit terendam air.

Ada 2 pipa besar peninggalan jaman belanda, yang memanjang dari bak besar diatas mata 3 sampai kerumah pompa diatas air terjun. Masih dengan membuka sendal, kami berjalan diatas pipa baja besar yang bersusun sampai ketempat tujuan kami di mata 2.

Sebagian dari kami telah membuka baju sedari tadi, saat sampai di mata 2 kami menaruh baju dan sendal di bebatuan, kemudian dari atas pipa baja ini kami melompat bersama-sama kedalam air.

Dari dalam air ada yang menyelam menuju batu besar ditengah sana, dan sebagian naik kepermukaan dan berenang kembali ke pipa. Kami terus melompat dan menyelam sampai kedasar sungai, ada pula yang berenang dengan gaya belakang dan ada juga yang mengapung dipermukaan dengan hanya kepala yang muncup diatas air.

Gaya mengapung adalah salah satu teknik yang juga kami kuasai, dimana leher sampai kaki berada didalam air dan hanya sebagian leher dan kepala yang berada dipermukaan air untuk bernapas. Kami dapat melakukan gaya mengapung seperti ini sampai beberapa menit di air tanpa capek atau kesemutan.

Ditengah sana ada sebuah batu besar, cukup besar hingga bagian atasnya sedikit terlihat keluar dari permukaan air, disitulah tempat kami beristrahat saat berenang. Aku sedang duduk diatas batu besar ini, melihat keatas sedang menikmati langit biru yang luas dan sedikit berawan. Dedaunan pohon besar yang tinggi menjulang jauh keatas, membingkai langit biru nan indah dalam pandanganku, sangat indah. Diatas pipa baja hitam 3 orang temanku duduk berbaris, sedang asik bercerita suatu hal yang tak kuketahui. Entah apa yang diceritakan, saya hanya menangkap wajah ceria mereka yang sedang tertawah terbahak-bahak.

Air didepanku berbunyi keras, karena hantaman tangan-tangan kuat yang sedang beradu cepat. 2 orang temanku sedang lomba berenang, La Angko dan La Firman, dengan gaya bebas mereka melaju berusaha saling mengalahkan. Tinggal sedikit lagi dan La Firman akan memenanginya, tapi La Angko dengan sigap menarik kakinya, menariknya kebelakang dan berusaha memenangi lomba.

Ini lomba yang telah berkali-kali mereka lakukan, dan hasilnya selalu saja sama, berakhir dengan tanpa ada yang menang dan kalah. Tarikan La Angko akan dibalas kuncian tangan oleh La Firman, dan merekapun akan melakukan gulat air, layaknya pegulat profesional yang sedang memperebutkan medali emas olimpiade.

"Ooii, apa kobikin menghayal disitu, kayak putri duyung saja" teriak La Endo kepadaku
Saya melompat kedalam air kemudian menyelam sampai ke pipa tempat mereka berkumpul.

"Koliat tadi dalam hutan, banyak orang tebang kayu to?" Tanya La Firman kepadaku
"Iya saliat"
"Bemana kalo kita tebang juga?", tiba-tiba dia mengulangi pertanyaannya
"Itumi dari tadi juga sapikir-pikir, kan banyak kita, 6 orang pasti bisa kita bawa keluar" sambung La Elang, "Baru lagi mahal sekarang harga kayu"
"Berapakah 1 batang?", tanyaku penasaran, yang kemudian dijawab oleh La Firman
"Yang panjang 2 meter saja bisa sampe 500 ribu"
"Wuih, 1 pohon saja bisa dapat 1 juta"
"Teusah pikir pembeli, sekarang banyak orang tampung kayu jati, mumpung belom habis jati"
"Iya di, daripada dorang kasi habis sendiri"
"Selama ini kita hanya ambil batang-batang yang kecil seukuran paha, laku juga dijual jadi pagar, to?"

"Apalagi kalo batang besarnya". Nada bicaranya semakin mendesak, tentu saja ini peluang bagus untuk lebih cepat dapat uang. Apalagi uang jajan kami kesekolah selalu pas-pasan, bahkan seringkali tanpa uang jajan, dan kami menahan lapar sampai waktu pulang sekolah.

Akhir-akhir ini memang penebangan kayu jati semakin ramai, banyak anak seumuran kami jadi penebang jati dan ikut dalam kelompok-kelompok kecil penebang jati. Penebangan jati biasanya dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 3 orang, 2 orang secara bergantian menebang kayu dengan kampak, sedangkan 1 orang lagi memantau situasi dan memberikan kode ketika ada polisi atau ada gangguan lain yang mengancam. Ketika ingin mengangsur kayu, mereka akan memerlukan bantuan 2 orang lagi. 1 orang akan bertugas memantau situasi, sedangkan 4 orang lainnya akan mengangkat kayu keatas gerobak, setelah itu 1 orang dari mereka akan beralih tugas menjadi pengendali gerobak, dan 3 sisanya mendorong dari belakang.

Memotong dan mengangkut semua dilakukan pada malah hari, ketika malam telah larut sekitar jam 10, apabila kondisi tidak memungkinkan atau sedang ada patroli, pengangkutan akan dilakukan saat subuh sebelum shalat subuh. Begitupun ketika penebangan dilakukan, semua tak dilakukan hanya dalam semalam, melainkan beberapa malam, mulai dari memantau, memotong dan mengangsur.

“Kamorang sudah yakin mau tebang jati kah?" tanyaku pada yang lain
La Firman hanya menjawab singkat, "Kalo kosetuju jadi, kalau tidak, pikir-pikirmi dulu"

"Sebentarmi kita bicarakan kone itu, kita berenang dulu sekarang" kata La Endo. Kemudian saya ikut melompat kedalam air, menyelam jauh sampai kedasar sungai. Saya memegangi pasir halus yang ada didasar, juga melihat bebatuan berumur puluhan tahun yang sejak lama menghuni dasar sungai ini. Ketika mataku melihat kedepan, kusaksikan jernihnya air sampai batas akhir jarak pandang, seperti membentuk sebuah tembok biru.

Kami masih terus berenang, tapi pikiranku sedang gelisah memutuskan apakah setuju atau tidak untuk jadi penebang kayu. Banyak resiko yang tentu saja akan kami hadapi ketika jadi penebang jati, dari kecelakaan besar dalam hutan sampai resiko terburuk yaitu ditangkap polisi yang sedang patroli.

Saya masuk lagi kedalam air kemudian menyelam sampai kedasar, mencari batu yang cukup halus untuk meggosok belakang. Kami biasa melakukannya, bersih-bersih belakang dan seluruh badan dari kotoran hasil endapan keringat yang menempel di belakang, lengan dan juga paha sampai betis. Kami melakukannya berpasang-pasangan dan saya berpasangan dengan La Endo. Saya memulai dengan menggosok belakangnya, setelah selesai La Endo akan balas menggosok belakangku dengan batu yang tadi kami ambil dari dasar sungai. Sungainya tak begitu dalam, mungkin Cuma sekitar 3 meter dengan air yang sangat jernih, apabila dilihat dari atas maka dasar sungai yang berpasir dengan bebatuan kecil akan sangat keliatan.

Bersambung...

Senin, 29 April 2019

Jompi - Hutan dan Kesenangan Masa Kecil (Bagian 2)


“Tapi kau yang angkat kasi lewat itu kali yang disana”, tawanya kembali meledak, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. La Angko adalah orang yang selalu membuat kami tertawa, dalam kelompok kami, dia seorang pelawak yang tak pernah kehabisan bahan untuk membuat orang lain tertawa. Kalaupun bukan dengan cerita-cerita lucu, ekspresi wajah ataupun gaya bicaranya sudah cukup membuat kami tertawa untuk beberapa saat.

“Ayomi kita jalan pale, nanti bisa malam kalo trolama kita temani ini kayu jati”, kataku pada yang lain. Dan kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Apabila melewati hutan, jarak menuju jompi tidak terlalu jauh, hanya saja jalanan yang berbukit dan berbatu membuat waktu tempuh kami sedikit bertambah.

Masih dalam formasi berbaris memanjang kebelakang, kami berjalan menyusuri hutan jati. Didepan sana terlihat sebuah bukit kecil, bukit dengan tanah hitam berbatu yang telah biasa kami lewati. Sesekali oleh kami terdengar bunyi mobil truk dari kejauhan. Kicauan burung yang bersahut-sahut serta bunyi daun jati yang saling beradu ketika ditiup angin, menemani perjalanan kami menyusuri hutan jati yang sangat luas.

Melihat hutan jati dari dalam sangat jauh berbeda dengan hanya melihatnya dari luar, atau dari kejauhan, atau bahkan hanya mendengar cerita orang maupun kisah-kisah dalam tulisan. Pohon-pohon jati ini sangat tinggi, melihatnya menjulang keatas, seperti daun pohon ini sedikit lagi akan menyentuh awan. Pada batang dan beberapa cabangnya, terdapat tumbuhan anggrek yang sangat indah, ada yang telah berbunga namun ada pula yang tidak berbunga, hanya berupa daun hijauh memanjang dan melengkung kearah bawah. Oleh orang-orang di Muna, tumbuhan itu disebut sebagai “Anggrek Hutan”.

"Tidak dirasa to?
"Iya, itu sudah kelihatanmi jompi",
"Kalo lewat jalan tadi, pasti panas",
"Tepapa juga kalo panas, kan mau mandi juga dijompi"
"Kalo begitu besok coba kolewat dijalanan sendiri, kita lewat disini saja, bemana?"
"Kalo kotemani samau" canda La Angko ketika menjawab pertanyaan La Firman

Dari sini jompi sudah terlihat, air terjun yang letaknya paling depan terlihat jelas dari atas sini, untuk sampai kesana kami punya 2 pilihan jalan, lewat lapangan tenis atau lewat pintu gerbang sebelum jembatan. Dan kami memilih lewat pintu gerbang masuk.

Sebelum itu kami harus menuruni bukit, hanya ada 1 jalan menurun yang tidak cukup lebar, bahkan untuk dilewati 1 orang pun harus berhati-hati. Permukaan jalan tanah yang berbatu, cukup miring dan kadang menjadi lebih licin ketika tiba musim hujan. Kami melewatinya dengan perlahan dan La Endo memulainya dengan jalan paling depan, kemudian secara berurutan kami mengikutinya dari belakang. Atas petunjuk dari La Endo kami harus jalan ataupun berhenti untuk sesaat, dijalan yang kecil dan licin seperti ini kami selalu butuh seorang yang pemberani seperti La Endo. Kami selalu mangandalkannya, karena sudah beberapa kali dia menunjukan sikap yang lebih berani dari kami semua.

"Berhenti dulu" la endo memberi aba-aba dengan mengangkat tangan kanannya.
"Kenapa Hen?"
"Ada batang kayu didepan, tapi tidak terlalu besar, bisa sakasi pindah dulu".

Dia memindahkan batang kayu itu seorang diri dan kami tak dapat membantunya. Jalan ini tidak cukup bagi 2 orang untuk bersisian, kalaupun cukup, jurang disamping kanan dan tebing tanah disamping kiri akan sangat berbahaya bagi kami semua. La Endo dan kami sangat paham akan hal itu, karenanya dengan sikap pahlawan dia tak pernah mengeluh sedikitpun apabila mendapat kondisi seperti itu.

"Oke, jalanmi", kata La Endo yang kemudian disambut teriakan kami semua "Siaappp".
Kami lalu menuruni bukit. Didepan sana ada sungai kecil mirip saluran air, diatasnya dipasangi papan kayu sebagai jembatan bagi orang-orang yang ingin lewat. Setelah melewatinya, jalan menjadi cukup lebar, meskipun masih jalan tanah tapi cukup datar bagi kami untuk mempercepat langkah. Tak butuh waktu lama, kami telah sampai dijembatan pintu gerbang Jompi.

Didepan sana air terjun, arusnya cukup deras, sedangkan dibawah seperti sebuah mangkok kaca hijau berisi air bening yang diletakan dibawah air terjun. Air terjun ini merupakan sebuah bendungan yang dibangun sejak zaman belanda, untuk mengatur kekuatan aliran arus sungai. Kami melihat-lihat dari atas dan kepikiran untuk ikut berenang, apalagi sore ini cukup banyak anak-anak seumuran kami dan yang sedikit lebih dewasa juga berenang disana.

"Bemana, kita mandi disini saja?, tanyaku pada La Endo
"Trobanya orang disini bela, coba koliat, semua batu besar dibawah sudah ada yg pake, tiada tempat istrahat"
"Iya, masa kita mau berenang terus dan tidak istrahat?"
"Kalo La Angko mungkin bisa"
"Bisa juga, tapi kokasi napas bantuan kalo sa pingsan Firman"

Ada seorang anak, kira-kira usianya sedikit lebih tua dari kami, dia sedang memanjat rumah pompa dibagian kanan atas air terjun, dengan cepat dia memanjati bangunan tua yang sudah tak beratap itu. Dan dia telah sampai diatas, dengan sedikit memperbaiki tempat pijakannya dia kelihatan sedang bersiap untuk melakukan sesuatu.

Tempat itu cukup tinggi bagi anak-anak bahkan orang dewasa, dari permukaan air dibawah sampai dipuncak sana tempat anak itu berdiri, kira-kira tingginya sekitar 10 hingga 12 meter. Melihatnya saja saya merasa cukup ngeri, apalagi ketika sedang berada disana.

Anak-anak yang sedang berada dibawah mulai menghindar secara perlahan, sepertinya mereka sedang mengosongkan area bagian tengah air terjun. Tak lama kemudian si anak yang berada diatas bangunan tadi mulai melompat, dia melayang diudara, dengan gaya terbang ala bintang film. Wuush, dan dia jatuh dengan sempurna, tak ada yang sakit sedikitpun, karena sebelum menghantam air, dia dengan cepat merubah gaya seperti udang untuk mengantisipasi rasa pedis didada akibat menghantam air dari tempat tinggi.

Itu adalah teknik yang hampir dimiliki semua anak seumuran kami, yang terbiasa berenang di air terjun jompi. Kami pun memilikinya, hanya saja untuk melompat dari tempat yang sangat tinggi membutuhkan keberanian yg besar.

"Kobisa lompat dari situ Hen?" tanya La Angko
"Sabelom pernah lompat begitu, kalo jatuh duluan kaki saberani"
"Sateberani saya e, kalo dari atas air terjun sini saberani, paling hanya 8 meter tingginya kalo disitu" sambil menunjuk bagian atas bendungan.
"Jadi kita mandi di mata 2 saja kalo begitu"
"Ayomi pale, daripada cuma nonton orang disini"

Sebelum mata 2, kami melewati mata 1, disini banyak orang sedang mencuci, ada yang muda dan ada juga yang tua. Kawasan mata 1 merupakan tempat mencuci dan bermain anak-anak kecil, airnya tidak dalam hanya sebatas pinggang orang dewasa yang sedang berdiri. Kami kembali berjalan, melewati jalan tanah kecil yang dipermukaannya muncul akar-akar dari pepohonan besar disamping kanan dan kiri. Jompi merupakan kawasan hutan lindung berbukit yang juga dipenuhi pohon jati, terdapat sungai bersih nan jernih yang memanjang dari dalam hutan sampai kelaut, dan terdapat cukup banyak pohon besar lainnya.

Lewat bawah kami menyusuri sisi sungai menuju mata 2, sungai dikiri dan tebing batu dikanan menemani perjalanan kami. Didepan sana ada air biru, begitu orang-orang menyebutnya, dikarenakan airnya yang biru sementara dasarnya berpasir dan sedikit berbeda dengan air dibagian lain. Langkah kami hentikan sejenak untuk melihat-lihat air biru, tak ada yang berani berenang disini termasuk kami.

Bersambung...

Minggu, 28 April 2019

Jompi - Cerita Dari Masa Lalu (Bagian 1)


Kasihan Jompi, tempat yang dulu selalu ramai, sekarang seperti hutan tak terjamah. Jalan tanah menyusuri hutan yang dulu selalui dilalui banyak orang, kini dipenuhi semak belukar, pertanda sangat jarang dilewati. Dahulu ketika ke mata 2, seringkali kami berpapasan dengan orang lain yang berlawanan arah, saat datang maupun pulang, permandian ini tak pernah sepi oleh pengunjung.

Tapi  kini semua itu seperti cerita dongeng, penebangan kayu secara liar merusak nilai wisata kawasan ini. Jompi seakan diisolasi dari pengunjung dan orang ramai, demi memudahkan penebangan dan pengangkutan kayu lewat sungai. Untuk kerusakan yang telah terjadi, banyak pihak yang harus bertanggung jawab.

***
Kebun coklat ini tidak cukup besar, tanahnya tak terlihat lagi karena tertutup banyaknya dedaunan coklat yang mengering. Saya harus melewatinya  untuk sampai dibagian samping rumah temanku, namanya Hendrawan, biasa dipanggil La Endo.

"Heen, Heen", dari samping rumah saya memanggil namanya, saya terus memanggil karena cukup lama tak mendapat jawaban. Tak puas memanggil dari samping, saya menuju kedepan, tepat didepan pintu masuk rumahnya kemudian saya berteriak, "Heeeen".

"Ssssssttt, jangan keras-keras, masih tidur orang didalam", saya cukup kaget ketika tiba-tiba dia menjawabku, suaranya berasal dari bagian samping kanan rumahnya.

"Maaf, bemana kotidak menjawab sapanggil dari tadi", sambil senyum-senyum karena malu saya datang menghampirinya.

Seperti biasa, disore hari temanku ini sangat sibuk dengan ayamnya, dimulai dari memberi makan, memandikan, mengurut sampai menjemur ayam jagonya. Rambutnya masih acak-acakan, dan bagian kulit telinganya masih agak basah oleh air cuci muka, "berarti dia habis tidur siang beberapa waktu lalu", kataku dalam hati.

Kedatanganku tidak mengagetkannya, karena siang tadi kami sudah bertemu sewaktu pulang sekolah, dan janjian akan pergi ke Jompi sore ini.
"Bemana, jadi kita pergi dijompi to?" saya bertanya untuk memastikan kesiapannya.
"Iya jadi, tapi tunggu sebentar, saganti dulu baju n celana", lewat pintu samping diapun masuk kedalam rumahnya. Tak lama berselang adiknya La Elang keluar, kemudian disusul kakaknya La Firman dan dia yang terakhir, dari penampilannya sepertinya mereka sudah siap untuk jalan.

Sambil melangkahkan kaki keluar untuk meraih sendalnya, La Elang bertanya padaku, "La Aman mana?", saya belum sempat menjawab ketika adikku muncul dari samping rumah dan menjawab, "hadir". "Sakira koteikut, samau singgahi sebetulnya, karena kau yang tadi bilang mau pergi", kata La Firman yang disambut tawa kami semua.

Kami bergegas melewati jalan setapak, disamping kirinya tumbuh subur bambu kecil yang tersusun rapi menjadi pagar.
"Kita singgahi juga La Angko e?" kataku pada yang lain.
"iya, karna tadi debilang mau ikut juga, tapi deminta disinggahi”.

Tak berapa lama kami telah sampai didepan rumahnya, nampak La Angko sedang duduk dikursi depan rumahnya. "Angko, sinimi kita jalan", kata La Firman. Dengan bergabungnya La Angko berarti semua telah berkumpul, perjalanan menuju jompi pun dimulai, saya menawarkan supaya lewat dihutan karena dijalan raya masih panas oleh sinar matahari. Dan merekapun setuju.

Untuk menuju hutan, kami melewati jalan raya dan beberapa rumah penduduk, lorong kecil yang tidak begitu besar membuat kami membentuk formasi berbaris layaknya semut. Didepan sana hutan telah terlihat, ada pohon bambu disebelah kanan, pohon jambut mete yang disebelah kiri jadi penanda batas kebun warga. Jalan tanah yang terbentuk secara alami karena seringkali dilewati, tersambung jauh sampai menembus hutan, memanjang kedalam lalu hilang diantara rimbunnya semak belukar.

Sebelum memasuki hutan kami melintasi sungai mati, cukup lebar dan dalam hingga melewati kepala, sampai harus turun dan kemudian memanjat kembali tanah disisi sebelah untuk melewatinya. "Maju terus" kata La Angko yang jalan kedua dari depan, dia berteriak lantang kemudian tertawa, "coba liat, kotor bajunya" sambil mengejek dia menunjuk kearahku dan tawanya disambut tawa yang lain. Memang tadi sewaktu turun kedalam sungai saya tergelincir tapi tak sampai jatuh "salah injak tadi saya, untung tidak jatuh", kataku yang ikut tertawa.

Kami terus berjalan, memasuki hutan jati yang luas dengan semak belukar yang rimbun, sesekali kami bernyanyi, kadang lagu yang serius kadang pula lagu yang menggembirakan, atau hanya sekedar nana nana untuk menghibur diri.

"Coba lihat ini pohon-pohon jati, banyak skali, mungkin hanya di Muna ada hutan jati banyak bgini"
"Iya juga, temungkin ditempat lain ada hutan jati yang luas kayak di Muna"
"Lama sekalimi ini hutan jati, sudah dari jaman belanda katanya orang tua"

Tak jauh dari tempat kami, ada pohon rebah yang masih basah, dari kondisinya sepertinya baru beberapa hari ditebang. Dengan penuh curiga kami mendekatinya.

"Coba liat isi dalamnya" sambil menunjuk kearah batang jati yang telah ditebang orang, "sudah coklat, tua sekali ini kayu, pasti keras, yang begini tidak mampan digigit rayap, bisa patah giginya".
"Jangankan rayap, kampak kecil saja patah kalau potong yang begini".

Kami mengerumuni pohon jati yang belum lama ditebang orang, melihat dan memeriksanya, berbekal pengetahuan seadanya tentang jati, yang hampir tiap hari didengarkan dari pembicaraan orang-orang.

"Siapalagi yang tebang ini pohon kasian, tamba banyak saja orang tebang jati sekarang ini”
“iya, Kemarin malam saliat juga orang mengangsur dijalan atas sana, besar skali kayunya”
"Liat disana, ada lagi jati yang ditebang, disana juga ada"

Kami pergi melihat jati lain yang ditebang, menuju kesana tak perlu tenaga atau parang tajam untuk memotong semak belukar yang menghalangi. Oleh para penebang kayu, semak belukar telah dibersihkan, itu dilakukan untuk memudahkan semua proses dari penebangan sampai pengangsuran. Pengangsuran merupakan aktifitas memindahkan batang jati yang telah ditebang, dari dalam hutan menuju tempat penyimpanan sebelum dijual.

Kami hanya saling bertatapan dengan wajah keheranan, sebelum La Firman membuat kaget dengan bertanya satu hal yang sama sekali belum kami pikirkan. "Bemana kalo kita ambil ini jati?". Mengambil jati orang adalah sesuatu yang sulit dan sangat berbahaya, untuk anak-anak seperti kami pemukulan atau hal buruk lainnya bisa menjadi resikonya.

“Apa? ambil kayu?” karena kaget yang bercampur lucu La Angko tertawa terbahak-bahak, menertawai maksud La Firman yang cukup mustahil buat anak-anak macam kami.

Kami masih anak-anak kala itu, jiwa humor kami tentu masih sangat kuat, kami akan otomatis ikut tertawa ketika ada teman lain yang tertawa, apalagi ketika La Angko yang mulai tertawa dan berkisah tentang cerita-cerita lucunya. “Bisa juga kita ambil, kalau mau”, sesaat La Angko menghentikan tawanya dan mulai berbicara, dari raut wajahnya kelihatannya dia akan serius, sedangkan kami masih belum bisa berhenti tertawa sepenuhnya.

Bersambung...