Neuroplanologi - Bahagia Untuk Menjadi Kuat

Kota Bahagia adalah Kota yang mampu memberikan kebahagiaan bagi warganya. Saya ingin memulainya dari defenisi yang sederhana tentang Kota Bahagia, sesederhana yang saya pikirkan tentang jalan kebahagiaan.

Urbanisasi dan Masyarakat Kota

Urbanisasi muncul karena ada kebutuhan, begitupun dengan kota sebagai sebuah peradaban. Kota lahir karena kebutuhan, bukan secara alamiah, melainkan dibentuk dengan sengaja oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Neuroplanologi - Jalan Menuju Kota Bahagia / Happy City

Mungkin sudah saatnya sebuah pendekatan baru lahir, dengan memadukan disiplin Planologi dan Neurosains untuk mewujudkan sebuah kota yang bahagia. Dengan kajian yang lebih fokus membahas sebuah perencanaan yang lebih memberikan pengaruh terhadap saraf otak dan membuat manusia lebih bahagia. Semoga tak terlalu dini, saya ingin menyebutnya sebagai NEURO PLANOLOGI.

Silverqueen - Berhenti Menangis

Selalu ada kisah haru pada malam-malam disaat musim hujan yang pernah kita lalui bersama. Kau disana, dan aku disini, hanya kita berdua. Belum cukup setahun kita kenalan, tapi rasanya sudah bertahun-tahun kita berteman. Sangat akrab, dan kau selalu saja buatku rindu.

Pak Udin, Penjaga Tradisi Suku Bajo Mola di Wakatobi

Pak Udin merupakan seorang Suku Bajo yang berasal dari Mola, pemukiman suku bajo terbesar didunia yang berada di Pulau Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. Layaknya suku bajo yang selalu dikatakan dalam berbagai literatur, pak udin sangat menggantungkan hidupnya pada laut.

Rabu, 23 Oktober 2019

Pasar vs Penimbunan Laut

Kondisi Pasar Laino, Jalan Menuju Penjual Ikan
Pembangunan sarana wilayah dilakukan untuk menunjang aktifitas sehari-hari warga, karenanya, dalam pembangunannya sangat perlu memperhatikan kebutuhan dasar warga setempat. Pasar sebagai sarana perdagangan dan penimbunan laut, mungkin sama-sama punya manfaat buat masyarakat Muna. Tapi antara keduanya ada perbedaan tingkat kepentingan yang harus dipertimbangkan untuk didahulukan pembangunannya. Memperbaiki pasar dengan melakukan penimbunan laut, manakah diantaranya yang lebih dibutuhkan Muna?.

Pasar merupakan pusat aktifitas wilayah yang tak mengenal strata sosial. Semua manusia didalamnya hanya dibedakan atas 2 jenis, bukan kaya-miskin, bukan juga bangsawan dan jelata, melainkan pembeli dan penjual. Penjual adalah mereka yang menyediakan segala jenis barang yang dibutuhkan, sedang pembeli adalah mereka yang membutuhkan suatu barang yang memiliki nilai tertentu. Dengan kata lain, dalam pasar yang ada hanyalah hubungan saling membutuhkan antara pembeli yang butuh barang, dan penjual yang butuh uang.

Berdasarkan jenis transaksinya, pasar dibedakan atas pasar tradisional dan pasar modern. Ciri utama yang membedakan keduanya adalah, adanya proses tawar menawar harga barang. Di pasar tradisional, penjual masih membuka diri menerima tawaran harga dari pembeli, sedangkan itu tidak didapatkan di pasar modern. Membicarakan pasar modern, berarti membicarakan sebuah tempat dengan barang-barang yang telah diberi label harga. Mengambilnya berarti siap membayar sesuai harga yang tertera pada label, tidak lebih dan tidak kurang.

Pasar Laino sebagai Pasar sentral di Kabupaten Muna, dapat dikategorikan sebagai pasar tradisional, sebagaimana yang terdapat dibanyak Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia. Sependek pengetahuan saya, Pasar Sentral Raha sudah 4 kali dipindahkan, dan Laino adalah tempat terakhir saat ini, entah setelah ini akan kembali dipindahkan atau dipertahankan.

Sebagai pasar sentral, Pasar Laino memegang peranan penting dalam memutar roda perekonomian Kabupaten Muna, terutama Kota Raha. Hampir semua kebutuhan sehari-hari masyarakat Kota Raha diperoleh dari pasar laino, karenanya setiap beberapa detik akan terjadi transaksi. Pasar Laino juga merupakan suatu titik yang memiliki arus pergerakan orang paling tinggi di Kabupaten Muna. Arus datang dan pergi hampir selalu sama besar dalam setiap harinya.

Sebagai pusat ekonomi, Pasar Laino memiliki beberapa masalah mendasar yang berpengaruh terhadap kenyamanan pembeli dan juga pergerakan orang didalam kawasan pasar. Kenyamanan dapat membuat orang lebih sering datang belanja, sedangkan apabila pergerakan dalam kawasan baik dan lancar, akan memudahkan dalam menemukan barang yang dicari. Berikut beberapa masalah mendasar yang dimaksud :

1. Kumuh
Kekumuhan Pasar Laino terlihat dari kondisi lingkungan pasar yang kotor dan becek akibat dari pembuangan limbah dan kondisi selokan/drainase yang tidak terencana dengan baik. Pada beberapa titik tak terdapat saluran drainase, padahal merupakan area dengan jenis barang basah dengan penggunaan air cukup tinggi. Kondisi ini telah berlangsung sangat lama, sampai saat ini belum ada perbaikan dan terkesan dibiarkan saja. Air tergenang juga becek yang seringkali terjadi pada jalan-jalan tanah yang belum permanen, lebih memperparah keadaan ketika tiba waktu hujan.

Selain itu, tak ada penanganan limbah yang memadai, padahal kawasan Pasar Laino terletak di pesisir pantai Kota Raha. Limbah yang berasal dari penjual makanan, sayuran busuk dan juga air rendaman ikan, dibuang begitu saja, tanpa selokan langsung ketanah dan seringkali tergenang sampai kejalan.

2. Penataan kawasan
Penataan kawasan Pasar Laino tak dilakukan dengan baik, atau dengan kata lain masih sangat amburadul. Penjual beras dan bumbu yang digolongkan dalam jenis barang kering dan berbau, masih bercampur dengan penjual sayur yang digolongkan pada jenis barang basah dan tidak berbau. Belum ada alokasi ruang khusus yang memisahkan para pedagang berdasarkan jenis barangnya, kecuali penjual pakaian yang terpisah.

Selain itu beberapa prasarana pendukung kawasan juga belum memadai, seperti jalan penghubung antar area yang belum dibuat menjadi permanen (paving, aspal, beton). Juga jalan poros yang tersambung langsung dengan jalan Baypass, sampai sekarang masih belum diaspal masih berupa pengerasan dari batu kapur. Pada saat seperti sekarang ini, debu jalanan seringkali tertiup angin dan masuk ke mata juga hidung, sebagian lain menempel dibaju dan kendaraan. sementara lubang yang ada ditengah jalan justru bertambah besar. Belum adanya tempat parkir, sehingga kendaraan yang datang selalu menggunakan area terminal untuk parkir.

3. Sampah
Masalah sampah pasar perlahan-lahan sudah mulai diperhatikan, sudah tersedia kontainer sebagai TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang diletakan dimedian jalan. Hal ini harusnya tidak terjadi, karena akan menganggu lalu lintas pasar. Sampah yang berbau dan seringkali tumpah kejalan akan menganggu pengendara. Yang paling penting adalah ritasi mobil sampah perlu ditingkatkan, supaya sampah bisa diangkat sekali dalam 2 hari, dan tidak tertimbun agak lama sampai berbau.

4. Pengaturan sistem pergerakan
Pengaturan sistem pergerakan pasar mengatur mengenai arah pergerakan kendaraan dan juga orang. Pengaturan sistem pergerakan atau sirkulasi, akan memudahkan para pembeli menemukan barang yang dicari, dan juga berpindah tempat antar area dalam pasar dengan lebih cepat. 

Yang belum terdapat di Pasar Laino adalah : Pertama, sistem sirkulasi masuk dan keluar kawasan pasar atau yany ditandai dengan pintu masuk dan pintu keluar. Ketika ada pintu masuk dan pintu keluar, maka harus ada jalan utama kawasan yang merupakan jalan poros dan dapat dilalui orang maupun kendaraan. Khusus untuk kendaraan, perlu adanya pembatasan, misalnya hanya kendaraan roda 2 yang boleh masuk, tapi hanya dijalan poros, tak bisa masuk kejalan-jalan lokal kawasan.

Pengaturan itu belum ada di pasar laino, sehingga kendaraan roda 2 bahkan pernah roda 4 masuk sampai kejalan kecil penjual ikan. Padahal lebar jalan hanya 2 meteran, dan disekitarnya terdapat penjual sayur dan penjual ikan yang duduk dipinggir jalan. Paling sering terlihat adalah kendaraan roda 2 yang menerobos kerumunan manusia dengan tujuan yang tak jelas entah kemana. Kadang jalan lokal malah menjadi macet, ketika motor dan gerobak yang berlawanan arah bertemu disatu titik.

5. Sistem Tata Informasi
Sistem informasi dapat digunakan sebagai penunjuk arah ataupun memuat informasi mengenai pelarangan-pelarangan yang diberlakukan dipasar. Seperti kendaraan roda 2 dilarang, atau dilarang parkir, dan sebagainya, yang mana semua itu digunakan untuk menertibkan. Selain berupa larangan, informasi penunjuk arah juga sangat penting, untuk memudahkan pembeli berpindah dari area satu ke area lainnya, seperti dari membeli perabotan dapur dan akan membeli ikan. Dengan adanya sistem informasi penunjuk arah, dapat memudahkan pembeli.

Hal itu belum terdapat di Pasar Laino. Bahkan papan nama Pasar Sentral Laino saja sampai saat ini belum ada. Semoga itu bukan pertanda pasar akan dipindahkan lagi, kedepannya.

***
Bagaimana dengan penimbunan laut?. Reklamasi pantai motewe direncanakan akan menjadi kawasan kota baru Motewe. Penimbunan laut seluas 283 Ha itu, sebagian besar pengelolaannya akan diberikan pada pihak pengembang atau pengusaha. Didalamnya direncanakan akan diisi bangunan-bangunan besar nan megah, seperti Pelabuhan Kontainer, Lapangan Sepak Bola, Mall, Gedung Serbaguna yang rencananya dapat menampung 5000 orang lebih, Hotel Berbintang 5 dan juga Rumah Sakit.

Setidaknya ada beberapa fakta lapangan yang berkaitan langsung dengan penimbunan laut dipesisir pantai motewe. Pertama, penganggaran pengerjaan penimbunan laut kawasan kota motewe telah dimulai tahun 2017, kemudian dilanjutkan pada tahun 2018 secara bertahap. Sampai pada tahap ke-2, penimbunan laut telah menelan anggaran sebesar 25 Miliar yang bersumber dari APBD Kabupaten Muna. Sedangkan untuk jasa konsultansi perencanaan kawasan, juga telah dilakukan sebanyak 2 kali dan menghabiskan anggaran sebesar 450 juta.

Kedua, beberapa bangunan yang direncanakan akan dibangun dikawasan hasil penimbunan laut sudah ada ditempat lain dalam Kota Raha. Muna telah memiliki Lapangan Sepak Bola bernama Stadion Paelangkuta, yang memiliki nilai historis dan seringkali dipergunakan pada acara PORDA (Pekan Olahraga Daerah). Stadion Paelangkuta telah menjadi ikon Kota Raha, yang telah mempersatukan pemuda diseluruh Kota Raha untuk bermain bola.

Muna juga telah memiliki RSUD yang pembangunannya belum rampung hingga saat ini. Beberapa gedung utama masih dalam proses pembangunan, juga halaman RSUD yang masih dalam proses pengerjaan. Sayang kalau harus membangun lagi RS baru, sementara RSUD yang dibiayai dengan APBD Pemda Muna masih belum rampung pembangunan dan pengelolaannya.

Ketiga, Penimbunan laut atau Reklamasi pantai motewe tidak memiliki dokumen penunjang yang lengkap, yaitu tidak memiliki dokumen Faseability Study atau Studi Kelayakan. Sebagaimana amanat UU 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, pasal 34 poin (3) mengatakan perencanaan dan pelaksanaan reklamasi diatur dengan Peraturan Presiden (Perpres). Perpres 122 tahun 2012 tentang Reklamasi Diwilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Pasal 18 mengatakan bahwa permohonan izin pelaksanaan reklamasi wajib memiliki beberapa dokumen, salah satunya adalah Dokumen Studi Kelayakan Teknis dan Ekonomi Finansial

***
Dari gambaran-gambaran tersebut, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Pertama, Reklamasi dilakukan ketika sudah tidak adalagi lahan didaratan, atau lahan yang tersedia tidak mencukupi. Hal ini berbeda dengan kondisi eksisting Kota Raha, yang mana masih terdapat banyak lahan kosong. Selain itu, kawasan hasil reklamasi yang dilakukan Bupati sebelumnya Ridwan Bae, masih menyisakan banyak lahan kosong yang daoat dimanfaatkan untuk membangun mall ataupun bangunan monumental lainnya.

Kedua, terkait pembangunan Lapangan Sepak Bola dan Rumah Sakit baru, hal ini tidak cukup mendesak, alangkah lebih baik pabila menyelesaikan dulu RSUD yang saat ini belum rampung. Masih banyak pekerjaan rumah yang dimiliki RSUD saat ini, dari segi pengelolaan SDM, kebersihan ruangan, pengadaan alat-alat kedokteran untuk jenis penyakit keras, kurangnya tenaga kedokteran yang handal, dan juga ruang serta peralatan operasi yang belum memadai. Untuk Lapangan Bola baru, lebih bijak apabila memilih merenovasi Lapangan Paelangkuta, yang memiliki kualitas rumput baik dan tidak tergenang ketika hujan. Hal ini sudah dibuktikan ketika Porda yang dahulu diselenggarakan di Muna.

Ketiga, pembangunan kota motewe yang mengangkat konsep Kota Baru, agaknya masih kurang tepat. Kota Baru dibangun ketika kota yang ada memiliki banyak masalah komplek yang cukup berat untuk diurai. Seperti masalah kepadatan pemukiman dan masalah urbanisasi. Kedua masalah ini yang kemudian menjadi dasar awal membangun Kota Baru. Jadi, Raha masih perlu melihat kondisi saat ini, apakah Kota Raha telah menjadi daerah tujuan urbanisasi?, apakah Kota Raha telah padat oleh pemukiman?, kalau belum, berarti pembangunan Kota Baru masih belum diperlukan.

Keempat, Pasar Sentral Laino lebih membutuhkan perhatian untuk dibangun lebih baik lagi, dengan sarana dan prasarana penunjang yang jauh lebih baik. Hal tersebut dilakukan untuk lebih memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pembeli, supaya lebih sering datang dan berbelanja di Pasar Laino. Anggaran besar yang dialokasikan untuk penimbunan laut, mungkin jauh lebih baik apabila dialokasikan untuk perbaikan Pasar Sentral Laino. 

***
Kondisi ini seharusnya jadi perhatian besar Pemerintah untuk menempatkan Pasar Laino sebagai salah satu prioritas pembangunan. Setidaknya tidak ada ketimpangan pembangunan yang dilihat masyarakat, karena Pasar Laino belum diperbaiki sementara penimbunan telah dilakukan. Rencana Pemerintah menggandeng pengusaha merupakan hal yang sangat baik, namun yang lebih penting lagi adalah menjadikan Muna sebagai daerah tujuan bisnis juga tujuan wisata, dan itu tak mudah.

Jumat, 18 Oktober 2019

Menonton Film I Can Only Imagine

Sebelum mendownload film, biasanya saya mencari info atau sinopsis tentang sebuah film, kalau ceritanya bagus menurutku, maka saya putuskan untuk mendownload. Kali ini berbeda, saya hanya melihat judul dan cover depannya, dengan kata lain saya membiarkan instingku berperan dalam menilai bahwa sepertinya ini film bagus.

Judulnya "I Can Only Imagine" atau dalam Bahasa Indonesia "Saya Hanya Bisa Membayangkannya". Film ini menceritakan perjalanan hidup seorang Bart Millard, dari yang semula atlet american footbal, kemudian menjadi seorang vocalis band. Nama bandnya "Mercy Me", yang menjadi sangat terkenal dengan hitsnya berjudul "I Can Only Imagine", ya, judul yang sama dengan film ini.

Saya menyukai Bart sebagai atlet dan juga musisi. Menonton kisahnya, saya langsung membayang diriku ketika masih SMA. Kala itu saya sangat menyukai musik dan sangat serius menekuni gitar. Saya sendiri memiliki 2 guru berbeda, satu yang mengajarkan cara membaca not balok dalam bermain gitar akustik, satunya lagi mengajarkan teknik-teknik bermain gitar elektrik. Selain musik, saya juga sangat menyukai olahraga khususnya sepak bola. Saat SMA, saya pernah ikut berlatih di 2 klub lokal, Handayani dan Sowite Junior.

Ada banyak film yang mengangkat kisah masa lalu seorang tokoh, film dokumenter dan film biografi biasanya mengajarkan banyak pelajaran hidup. Namun sangat sedikit film yang dapat menyentuh sisi emosional terdalam penonton, sehingga dapat menangkap perasaan yang ingin disampaikan seorang tokoh lewat film. Saya sendiri tak percaya, dadaku bergemuruh, rasanya sesak dan sedikit sakit, saya sampai menangis ketika menonton beberapa bagian dalam film ini.

Setidaknya ada beberapa hal yang menarik perhatian saya setelah menonton film ini.

Pertama, I Can Only Imagine menjadi lagu kristiani nomor 1 di amerika. Lagu ini terus berkumandang bukan hanya di gereja, bahkan menjadi lagu yang seringkali digunakan untuk mengenang kepergian orang-orang tercinta. Saat tragedi penyerangan gedung kembar di Amerika pada 9 September 2011, lagu ini menggema sebagai bentuk toleransi dan juga ungkapan kesedihan yang membawa pesan harapan pada semua keluarga korban.

Kedua, Tuhan yang maha kasih selalu menunjukan kasih sayangnya pada mahluknya, karena percikan kasih sayangnya itu hati seseorang tersentuh kemudian berubah sikap. Dari semula keras dan kasar kemudian menjadi pribadi yang baik, pemaaf dan penuh perhatian. 

Apa yang terjadi pada Ayah Bart Millard adalah salah satu contoh nyata. Penyakit kanker yang menggerogotinya membuatnya sadar, bahwa hidupnya sudah takkan lama lagi. Karenanya dalam kondisi sakit parah, dan juga hidup dalam kesendirian akibat ditinggal Bart, dia menemukan tuhan sebagai satu-satunya teman. Kemudian dia menjadi taat beragama dan ikut dalam ritual-ritual keagamaan.

Pada tahap ini kita cenderung mencari sesuatu yang hilang pada diri kita, yaitu sisi spiritual, yang jalannya diterjemahkan dalam bentuk ritual keagamaan. Salah seorang psikolog bernama Karl Gustaf Yung pernah berkata, dari pengalamanku menjadi dokter jiwa, aku menemukan bahwa orang Tidak bisa dikembalikan kepada kehidupannya yang normal sebelum aku kembalikan dia kepada keberagamaan dia, sebelum dia menangkap kembali dimensi spiritual dari hidupnya.

Meski kadang egois, manusia akan selalu mencari tuhan ketika mendapati dirinya dalam keadaan terpuruk dalam hidup. Apa yang dikatakan Yung dan dialami Ayah Bart, adalah tanda bahwa manusia merupakan makhluk rapuh yang butuh sandaran, butuh Tuhan untuk mengembalikannya kejalan yang benar dan kembali hidup normal sebagai manusia.

Ketiga, banyak karya besar lahir dari pengalaman pribadi. Tiap orang punya kisah dan pengalaman hidup yang akan menginspirasi banyak orang pabila diceritakan, hanya saja kita terkadang malu atau takut mengungkapkan. Dalam sebuah kasus, seseorang cenderung lebih berani menceritakan pengalaman yang baik-baik saja, yang dapat memberikan nilai plus ketimbang yang memberikan hal negatif padanya.

Begitu banyak film dan karya berbentuk tulisan yang menceritakan kisah hidup seseorang, kemudian mendapat sambutan hangat dari para penonton dan pembaca. Sebut saja film Bolywood berjudul Padman, banyak cerita tak menyenangkan tentang kehidupan Arunachalam, mulai konflik rumah tangga sampai prasangka buruk masyarakat tentang dirinya. Tanpa kisah itu, mungkin kita tak dapat merasakan begitu emosionalnya ketika dia berhasil merubah mindset warga india karena alat ciptaannya.

Bagi yang pernah membaca buku Chicken Soup, disana ada begitu banyak cerita inspiratif yang diangkat langsung dari kisah pribadi orang-orang. Coba ingat-ingat, kamu pasti punya pengalaman hidup yang menyenangkan dan juga menyakitkan, bagaimana itu terjadi, kenapa itu terjadi dan bagaimana kamu mengatasinya. Jawaban atas 3 pertanyaan itu adalah pelajaran hidup yang dapat memberi pelajaran hidup oada banyak orang. 

Ada begitu banyak kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat dalam hidup, kita hanya perlu membaginya pada orang-orang supaya yang lain bisa terhindar atau bangkit ketika mengalami nasib serupa. Kita selalu bisa menjadi orang baik bagi yang lain, mulailah dari membagikan sesuatu yang dapat menyelamatkan, menyemangati atau sekedar menghibur orang-orang supaya bisa tertawa.

Keempat, perilaku buruk seorang ayah dapat merusak mental anak saat mereka dewasa. Lingkungan bukan faktor dominan pembentuk karakter dan perilaku seseorang, sudah banyak penelitian yang membenarkan hal itu. Bahkan lingkungan seringkali jadi tempat pelarian atau pelampiasan seseorang akibat permasalahan dalam rumah. Dalam makna yang positif, lingkungan dapat menjadi tempat bagi anak mengaktualisasikan atau mempraktekan apa yang didapatnya dalam lingkungan keluarga.

Orang tua adalah guru pertama seorang anak, banyak sifat anak turun dari orang tuanya, yang ketika kecil diperlihatkan lewat cara-cara berkomunikasi. Dari komunikasi itu, seorang anak banyak meniru yang dilakukan orang tuanya padanya. Bart yang sejak kecil ditinggal ibunya, kemudian tinggal berdua bersama ayahnya, yang memperlakukannya dengan keras dan kasar.

Menurut penuturan seorang psikolog bernama Paul Golding, anak lelaki di usia 2 tahun sedang memasuki masa "terrible two".  Yang mana Pada usia tersebut, muncul peningkatan testosteron yang membuat perilaku anak jadi lebih agresif dan kerap membuat "sakit kepala" para orang tua. Pada fase ini peran seorang ayah sangat dibutuhkan dan krusial. Bermain penuh energi yang menguras fisik, sangat dibutuhkan anak lelaki di usia tersebut dan orang yang paling pas untuk mendampinginya adalah ayah, kata Paul Golding.

Namun, apabila seorang ayah kerap kesulitan menahan emosi, anak yang dimarahi atau sering melihat orang tuanya cekcok, berisiko mengalami hal-hal seperti :
1. Anak akan dipenuhi rasa ketakutan, merasa tertekan, kurang berpendirian, dan mudah dipengaruhi oleh orang lain.
2. Anak suka berbohong atau enggan berterus terang karena ada perasaan takut. Misalnya takut untuk mengakui kesalahan yang dilakukan karena akan dimarahi.
3. Anak memiliki sifat pesimis, sering cemas, dan mudah putus asa.
4. Lebih percaya kepada teman atau orang lain ketimbang orang tuanya.
5. Tidak percaya diri dan tidak berani mengeluarkan pendapat.
6. Adanya rasa dendam dihatinya, sehingga dikemudian hari ia juga akan melakukan hal yang sama, yakni meluapkan amarahnya kepada adik, teman, atau anaknya kelak.

Dari itu semua, dapat disimpulkan bahwa mental anak tidak bagus ketika tumbuh dalam rasa takut pada ayahnya atau ketika tumbuh tanpa adanya sosok ayah disampingnya. Seperti yang dialami Bart, ketika mendapat rintangan besar dalam karir, dia tidak punya cukup keberanian untuk melaluinya. Hal itu diketahui seorang teman yang mengetahui langsung dari Bart bahwa sewaktu kecil dia sering mendapat perlakuan keras dari ayahnya.

Kelima, orang tua mungkin ingin menikmati masa tua dengan ditemani anaknya didekatnya. Salah satu kebahagiaan terbesar para orang tua, yaitu melihat anak kecilnya tumbuh dan bermain. Mungkin pada fase ini naluri orang tua akan bangkit dalam diri setiap orang dan merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga, merawat dan terus membesarkan buah hatinya. Ketika masa tua datang, mereka mungkin akan ditinggal anaknya karena alasan tertentu, saat itu mereka akan membayangkan kembali masa-masa indah ketika anaknya masih kecil dan mereka mengajarkan segala hal.

Saat sendiri atau hanya berdua dan orangtua membayangkan sosok anak, akan muncul rasa kangen yang luar biasa. Kadang mereka menelpon dan menanyakan kabar, hanya untuk mendengar suara anaknya dan ingin tau kalau disana si anak baik-baik saja. Biasanya mereka enggan bertanya kapan pulang, karena takut menurunkan semangat anaknya yang lagi berjuang diluar daerah.

Doa Ayah Bart ketika itu hanya satu, yaitu semoga dirinya masih dipertemukan dengan Bart anaknya didunia, sebelum kankernya bertambah parah dan dia lebih dulu meninggalkan dunia ini. Doanya terkabul, Bart yang sedang ada jadwal konser pun pulang untuk bertemu Ayahnya. Semalam dirumah Bart kaget ketika bangun pagi, diatas meja makan sarapan sudah tersedia dengan lengkap, hal yang tak pernah dilakukan ayahnya selama puluhan tahun. Dalam suasana hati yang kacau karena ada masalah dalam karirnya, Bart tak percaya perubahan yang terjadi pada ayahnya.

Ayahnya lebih perhatian, pandai memasak dan lebih ramah saat berbicara dengannya pagi itu. Bart menjadi marah dengan kejadian itu, dia memprotes keadaan yang tak biasa, meluapkan semua kebencian pada ayahnya yang meninggalkan masalah mental padanya karena perbuatan kasar dimasa lalu. Pertemuan mereka tak berjalan mulus, Bart belum bisa memaafkan Ayahnya yang telah berubah sejak dirinya meninggalkan rumah. Saat sedang tenggelam dalam rasa marah, Bart mendapatkan kertas hasil pemeriksaan kesehatan Ayahnya, diapun tau kalau selama ini Ayahnya menyembunyikan penyakit kanker darinya.

Ah, momen ini cukup menguras emosi, saya tak ingin melanjutkan kisahnya, mungkin kalian akan tau ketika menonton sendiri filmnya.

Keenam, mungkin ada kesalahan antara kau dan salah satu orang tuamu yg pernah terjadi dimasa lalu. Itu akan menjadi beban dlam perjalanan hidupmu dan orang tuamu, bicarakanlah berdua dan mintalah maaf, itu mungkin akan lebih baik.

***
Saat menulis ini, saya sedang bersama anakku Ahmad Sukarno, dan kami (saya dan istri) memanggilnya Tutano. Tutano, kata yang diucapkannya ketika pertama kali menyebut namanya sendiri, dan kamipun memanggilnya seperti itu. Saya membayangkan, kelak dia akan pergi keluar kota bahkan keluar negeri untuk mengejar cita-citanya. Saat itu, mungkin kami akan kesunyian tanpanya, tapi itulah hidup, kedepan teknologi akan semakin maju sehingga jarakpun dapat ditaklukan kalau hanya ingin bertemu muka.

Rabu, 16 Oktober 2019

Film Padman dan Revolusi Pembalut

Arunachalam  Muruganantham dan Mesin Ciptaannya
Entah apa jadinya dunia ini jika pembalut tak pernah ditemukan, mungkin nasib kaum perempuan takkan sebaik hari ini. Tuntutan kesetaraan gender dan persamaan hak perempuan untuk disejajarkan dengan lelaki, mungkin takkan bergema keras seperti saat ini. Bagaimana persamaan disuarakan ketika perempuan merasa memiliki kekurangan, yang membuat mereka akan membatasi diri dari dunia luar, bahkan pergaulan dengan sesama jenisnya.

Sejarah panjang kebersihan kaum perempuan penuh dengan cerita duka, yang membuat mereka seringkali diasingkan dari pergaulan dalam keluarga dan juga di masyarakat. Ada suatu masa ketika para perempuan kedatangan tamu, yang selalu rutin berkunjung selama 5 hari berturut-turut dalam setiap bulan. Tamu tersebut namanya menstruasi, yang kedatangannya saat pertama kali menandakan bahwa si perempuan telah memasuki usia dewasa. Dalam bahasa sehari-hari sering dikatakan datang bulan.

Karenanya pembalut kemudian menjadi jawaban bagi masalah yang dialami para perempuan, bahkan saat ini dapat dikatakan bahwa pembalut merupakan kebutuhan primer bagi perempuan.

Pembalut telah ada sejak abad ke-10, yaitu pada zaman yunani kuno, dalam bentuk pakaian yang berisi kain lap, kapas atau wol dari bulu domba, yang digunakan untuk menghentikan darah menstruasi. Selain itu ada juga yang menggunakan bulu kelinci atau bahkan rumput, sebelum ide awal membuat pembalut sekali pakai dicetuskan seorang perawat. Ide itu muncul seketika dalam sebuah peperangan, untuk menghentikan pendarahan yang berlebihan para prajurit.

Akhirnya seorang perawat prancis membuat pembalut pertama dari bubur kayu, yang terbukti mampu menyerap darah dengan cepat dan dapat langsung dibuang setelah dipakai. Karena harganya yang sangat murah dan bahan dasarnya sangat mudah didapat, produsen komersil kemudian meminjam ide tersebut untuk menjual produk pembalut pertama pada tahun 1988.

Setelah itu harganya kemudian menjadi mahal, para wanita tak sanggup membelinya, akhirnya mereka tetap menggunakan cara tradisional, yaitu dengan kain kotor.

***
Di India, tak pernah ada pembicaraan tentang menstruasi dikalangan perempuan, karena itu merupakan hal yang dianggap sangat memalukan. Meskipun diawal kedatangan tamu tersebut para perempuan mendapat sambutan dalam sebuah perayaan tanda telah dewasa, tapi setelah itu mereka akan dijauhkan dari keluarga. Salah satunya, mereka akan tidur sendirian diluar rumah, karena tak diijinkan untuk tidur dalam rumah bersama keluarga lainnya saat malam. Selain itu, para lelaki dilarang bersentuhan dengan perempuan yang sedang kedatangan tamu, karena mereka dianggap kotor selama datang bulan.

Masih banyak bentuk-bentuk pelarangan lainnya yang dinisbatkan pada perempuan saat sedang datang bulan. Film Padman yang rilis pada tahun 2018 lalu, seolah membuka mata kita bagaimana pembalut perlahan-lahan telah merubah mindset orang india, untuk lebih membuka diri dan berani meninggalkan kebiasaan lama yang sangat membahayakan ketika menstruasi. Meski memiliki jumlah penduduk perempuan sangat besar, rasio perempuan di pedesaan India yang terkena penyakit kebersihan kemudian meninggal, cukup tinggi.

Setiap bulan ada 10-12 perempuan datang ke dokter dengan keluhan beberapa penyakit. Karena selama menstruasi mereka menggunakan kain kotor, dedaunan, bahkan abu sebagai pengalas, dan itu sudah berlangsung sejak lama. Semua itu telah mengundang penyakit, yang karenanya beberapa perempuan tak bisa memiliki anak, beberapa perempuan lainnya bahkan meninggal. Tak adanya pembicaraan mengenai menstruasi, serta bahaya yang ditimbulkan karena menggunakan sesuatu yang tidak higienis, ikut menyebabkan tak ada pula perempuan yang tau akan bahaya yang mengintai mereka.

Film Padman mengangkat kisah nyata seorang Arunachalam Muruganantham, yang diperankan aktor senior bolywood bernama Akhsay Kumar sebagai Lakshmi. Istrinya bernama Gayatri, dan mereka baru saja menikah tapi belum memiliki anak. Film ini bercerita tentang jatuh bangun Arunachalam (Lakshmi), melawan kondisi sosial masyarakat india yang masih menggunakan kain kotor saat menstruasi, dan enggan menggunakan pembalut karena harganya yang sangat mahal.

Setidaknya ada beberapa hal menarik yang dapat dilihat dan direnungkan dalam film Padman ini, antara lain sebagai berikut :

Pertama, terkadang perempuan tak dapat mengerti besarnya kasih sayang seorang lelaki. Hal itu karena apa yang ditunjukan lelaki berbeda dengan apa yang mereka inginkan. Para Perempuan cenderung mengartikan kasih sayang dan perhatian dalam bentuk konkrit, yang hadir dalam bentuk pujian, atau pertanyaan bagaimana kabarmu?, apakah kau baik-baik saja?, dan pertanyaan lain menyangkut kondisi pribadinya.

Sedangkan menurut lelaki, perhatian dan kasih sayang jauh lebih besar daripada hanya pujian dan pertanyaan sehari-hari. Perhatian dan kasih sayang seorang lelaki mewujud dalam bentuk tindakan dan perbuatan untuk melindungi perempuan dari bahaya besar yang sedang mengintainya. Sebagaimana yang ditunjukan Lakshmi dan keseriusannya membuatkan pembalut untuk melindungi sang istri dan semua perempuan desa dari bahaya penyakit dan kematian.

Dalam film ini lagi-lagi kita ditunjukan perbedaan mendasar antara lelaki dan perempuan. Perempuan memiliki rasa malu yang sangat besar, dan cenderung merespon dengan penuh perasaan setiap perubahan di masyarakat atau apa yang dikatakan masyarakat. Sedangkan lelaki tidak seperti itu, Lakshmi sadar bahwa yang dilakukannya itu adalah benar dan besar manfaatnya bagi istrinya dan semua perempuan di India, karenanya dia tak berhenti meski dihujat dan dihina penduduk sekampung, bahkan sampai hampir cerai dari gayatri istrinya.

Kedua, perempuan India pada masa itu masih sangat terbelakang. Setidaknya itu dari segi cara berpikir mereka, yang lebih mempercayai pengalaman empirik ketimbang pendapat medis mengenai kebersihan perempuan saat menstruasi. Dokter telah mengatakan bahwa penggunaan kain kotor adalah tindakan berbahaya yang dapat membawa petaka. Tapi para perempuan india tidak percaya akan hal itu, ketidakpercayaan mereka dilandasi belum adanya informasi yang beredar di masyarakat, bahwa ada seorang wanita meninggal karena penggunaan sesuatu yang tidak steril termasuk kain kotor.

Masalah ini bukan tanpa sebab, karena dilandasi rasa malu teramat besar para perempuan ketika menceritakan masalah menstruasi, sehingga informasi itu tertutup karena terus dirahasiakan bahkan sampai mati. Dari diagnosa yang dilakukan dokter pada beberapa pasien wanita yang terserang penyakit, menunjukan sebab utamanya karena penggunaan kain bekas yang tidak steril. Tapi tetap saja, kalaupun dokter mengatakan, informasi itu hanya si dokter dan pasien yang tau, tak diumumkan didepan orang banyak karena rasa malu tadi. Termasuk suami mereka sendiri tidak akan pernah tau akan hal itu.

Keterbelakangan masyarakat india kala itu, juga digambarkan pada bagaimana masyarakat sangat mudah diperdaya oleh sebuah mesin pemecah kelapa, yang ditanam kedalam patung dewa hanoman. Masyarakat India bahkan rela memberi uang 51 rupe untuk dimasukan kedalam patung dewa, setelah itu patung masuk kedalam box hitam. Ketika keluar, sudah ada 2 biji manisan didalam talang yang diambil oleh yang memberi sedekah tadi.

Masyarakat India di desa itu, termasuk para perempuan, lebih rela mengeluarkan uang 51 rupe kemudian mendapat 2 manisan, daripada membayar sebungkus pembalut dengan harga 55 rupe. Pembalut oleh mereka dianggap barang kotor, yang tidak layak dihargai 55 rupee, dan ketika ada perempuan desa yang membelinya, mereka akan diceritakan atau bahkan di buly oleh perempuan lainnya.

Ketiga, hanya perempuan yang dapat mengerti perasaan perempuan. Lakshmi telah memenangkan penghargaan dari lomba inovasi, namanya dan mesin pembuat pembalut ciptaannya menjadi sangat terkenal. Diapun memberi harga sangat murah untuk tiap pembalut yang dibuatnya, tapi hal itu belum mampu menyelesaikan masalah utama yang dihadapi. Perempuan di Desa belum bisa menerima dia dan hasil ciptaannya, yang secara kualitas setara dengan buatan pabrik namun dengan harga lebih murah.

Ternyata ketenaran dan harga murah belum mampu mengikis sekat pembatas bagi lelaki, untuk ikut serta dalam menyelesaikan masalah perempuan. Dengan capaiannya itu, Lakshmi belum dapat memenangkan hati perempuan didesa. Hal itu berubah ketika dirinya dibantu seorang teman perempuan untuk menjual pembalut ciptaannya dan berkomunikasi langsung pada perempuan di desa. Hasilnya lebih baik, perempuan desa dapat menerima dan memakainya dengan senang dan tenang, tanpa takut malu karena masalah mereka diketahui para lelaki.

Pada fase ini, Lakhsmi belajar teknik pemasaran pada seorang teman yang sejak awal membantunya dan mesin ciptaannya. Dengan bantuan si teman, akhirnya perempuan desa dapat menerima dan membuka diri dari perempuan lain untuk mengatasi masalah menstruasi. Dalam perkara ini, Lakshmi hanya membuka jalan agar supaya pembalut ciptaannya dapat dikenal diseluruh India, dan para perempuan sendiri yang terjun langsung ke masyarakat untuk memperkenalkan, mendistribusikan dan berkomunikasi langsung pada perempuan lainnya tentang pentingnya penggunaan pembalut saat menstruasi.

Keempat, Pembalut telah merubah masyarakat India. Dengan adanya pembalut murah, yang keseluruhan pengerjaan mulai dari produksi, pengemasan sampai distribusi dilakukan sendiri oleh para perempuan, tingkat penerimaan masyarakat menjadi lebih baik. Lakshmi mengadakan alat, melakukan pelatihan dan sosialisasi pada para pekerja perempuan, yang direkrut untuk menjadi pekerja pada perusahaan miliknya. Dari kelompok kecil pekerja ini, informasi mengenai pentingnya pembalut, bagaimana cara membuatnya, sampai pada bagian sterilisasi selembar pembalut, kemudian dikampanyekan oleh perempuan pekerja pada perempuan lainnya dengan cara yang lebih pribadi.

Selain merubah mindset perempuan dan masyarakat desa, alat buatan Lakshmi juga membawa perubahan ekonomi bagi para ibu rumah tangga. Para ibu rumah tangga mendapatkan penghasilan tambahan dengan bekerja dipabrik milik Lakshmi. Dari sini mereka dapat membantu para suami yang bekerja diluar, dan memperbaiki gizi anak-anak dengan sering membeli susu.

Nama Lakshmi makin terkenal diseluruh India, mukanya seringkali muncul dalam pemberitaan di koran dan saluran televisi nasional. Masyarakat desa semakin bangga dengan itu, alat buatannya pun didistribusikan ke desa-desa lain di India hingga perubahan yang terjadi didesanya juga ikut terjadi di desa lain diseluruh India.

Kini pembalut tidak lagi menjadi barang langka, dan penilaian masyarakat sebagai barang kotor tidak lagi melekat padanya. Masyarakat mulai menerima secara terbuka dan mulai merasakan manfaat besar dari pembalut. Berbagai inovasi kemudian dilakukan, untuk lebih memberikan kenyamanan dan keamanan bagi perempuan. Mulai dari pemberian perekat sampai penambahan sayap pada pembalut. Akhirnya para wanita india dapat terlepas dari masa lalu yang buruk, para wanita mulai terhindar dari berbagai penyakit yang mengancam.

Yang paling penting, tentu saja mereka tak lagi diasingkan tuk tidur diluar selama 5 malam. Para anak sekolah tak lagi malu dan berhenti sekolah karena takut tembus. Mereka kemudian dapat berprestasi layaknya para lelaki, dapat menjadi atlet ataupun profesi lainnya tanpa takut ketahuan sedang menstruasi.

Senin, 14 Oktober 2019

Ketika Menulis Mengobatiku

Saya bukan seorang penulis, meski baru memulai aktifitas menulis dalam 3 tahun terakhir ini. Tulisan yang saya buatpun tidak bagus-bagus amat, bahkan mungkin dapat dikatakan sangat biasa bagi seorang pemula.
Selain itu, tema-tema yang saya angkat tidak menentu, dan sangat jarang menggambarkan kondisi saat ini. Atau mungkin lebih tepatnya tidak menggambarkan apa yang sedang tren dan diperhatikan mayoritas pengguna medsos saat ini.
Tapi saya santai saja, itu bukanlah hal yang harus dipikirkan seorang pemula, lagian mendapat banyak like, komentar ataupun kunjungan tidak akan membuat saya menjadi produktif.
Saya menulis atau mulai menulis bukan karena tuntutan, bukan juga karena pesanan, tapi murni karena ingin belajar. Selain itu, mungkin juga untuk mengobati penyakit lupa yang sudah sejak beberapa tahun terakhir ini kian bertambah parah.
Dan ajaibnya, setelah rutin menulis dan membuat tulisan, perlahan-lahan penyakit lupa yang saya selalu alami, mulai sedikit terobati. Ada manfaat lain dari menulis, saya juga jadi lebih mudah dalam mengingat beberapa hal penting dan juga angka-angka. Karena sebelumnya, mengingat angka-angka adalah salah satu kelemahanku.
Mengenai kecenderunganku yang selalu melupakan suatu hal yang belum lama diperbuat, istriku pernah mengatakan bahwa itu terjadi mungkin karena memori jangka pendek terganggu. Saya percaya saja dengan itu, dia tentunya lebih tau mengenai hal itu daripada saya, karena dia seorang perawat yang selalu bersentuhan dengan pelajaran tentang itu.
Dibandingkan saya yang kuliah di Fakultas Teknik, sudah pasti tidak mempelajari mengenai kesehatan ataupun tentang penyakit-penyakit. Pelajaran jurusan saja saya kadang kala masih susah untuk ikuti, apalagi pelajaran jurusan lain.
Mungkin menulis telah banyak mengobati saya, selain itu ada sangat banyak manfaat yang saya dapat dari menulis, diantaranya saya lebih sering berbicara dengan diri sendiri. Ini mungkin agak aneh, berbicara dengan diri sendiri terdengar lebih seperti orang yang mengalami gangguan jiwa, atau gila dalam bahasa kerennya.
Tapi itu yang saya alami ketika sedang menulis, ada sensasi seperti sedang berbicara dengan diri sendiri, bertanya dengan diri sendiri, kemudian menjawab pertanyaan sendiri. Tentu saja ini tidak seperti orang kesurupan yang seakan berbicara dengan makhluk dari dunia lain yang kemudian mengutarakan maksud dan keinginannya.
Sejatinya minatku untuk menulis sudah ada sejak beberapa tahun sebelum mulai menulis. Namun banyak hal yang kemudian selalu kupertimbangkan untuk memulainya, diantaranya adalah rasa takut hasilnya tidak bagus dan kemudian malu tuk ditampilkan didepan umum.
Perasaan-perasaan itu sangat menganggu, seakan menjadi sebuah tembok besar yang dijaga ribuan prajurit pemanah, dan selalu siaga serta siap menyerang tiap musuh yang hendak mendekat. Saya ibarat seorang pejuang, pejuang gagah dan berani yang hendak meruntuhkan tembok besar itu.
Saya sedang membayangkan kisah seorang anak muda gagah dan berani, dengan seorang diri dia meruntuhkan tembok khaibar yang sangat kokoh. Dialah Ali, sepupu Nabi Besar Muhammad Saww yang memiliki banyak kemuliaan, keberaniaannya disebut-sebut sampai keseluruh penjuru dunia.
Diawal upayaku meruntuhkan tembok itu, kurasakan tangan ini sangat berat untuk menganggkat senjata, pula kakiku yang semula kuat, mendadak lemah tak berani melangkah. Sangat susah bagiku untuk maju, apalagi menyerang tembok secara langsung, mendekatinya saja saya akan langsung kalah, tersungkur oleh prajurit pemanah.
Pelan tapi pasti, perjuanganku akhirnya membuahkan hasil, adanya sedikit celah yang dapat kumanfaatkan mengantarku pada kemenangan besar. Akhirnya tembok besar itupun mampu kuruntuhkan dengan semangat dan kekuatanku sendiri.
Setelah itu, bukannya kemenangan meriah yang kuraih, melainkan tantangan baru untuk terus mempertahankan semangat dan berpikir lebih kreatif mencari ide-ide baru untuk tulisan selanjutnya.
Akhirnya kuputuskan membuat sebuah catatan, yang kunamakan catatan ide, dimana setiap ide atau setiap ada gagasan maupun tema yang terlintas dipikiranku, kemudian kucatat.
Dalam catatan tersebut, kuberi nomor dan juga keterangan. Nomor memudahkan dalam memisahkan ide satu dengan lainnya, sedangkan keterangan memudahkan dalam mengecek, ide/tema mana yang sudah menjadi tulisan dan mana yang belum.
Akhirnya catatan ide yang kubuat telah menyentuh angka lima puluhan, namun dari total itu belum ada setengahnya yang telah menjadi tulisan.
Kadangkala semangat memang lebih besar daripada kekuatan untuk memulai dan menyelesaikan suatu perkara. Dengan catatan ide tersebut tiada yang sia-sia, toh suatu saat nanti ketika kubuka kembali catatan ide dan melihat catatan dinomor awal, saya masih bisa mengingat apa yang sedang kupikirkam tentang tema yang kutulis.
Akhirnya saya dapat menyelesaikan tulisan pertama, meski saat itu saya cukup sibuk dengan pekerjaan yang hampir deadline. Setelahnya kurasakan sebuah energi baru mengalir kedalam sel-sel otakku dan memintaku membuat tulisan berikutnya.
Dan begitupu seterusnya, ketika saya mampu menyelesaikan sebuah tulisan, sensasi serupa kembali kurasakan, ada tuntutan dalam diriku untuk kembali mencari ide baru dan membuat tulisan baru. Untuk saat ini, saya hanya bisa menyampaikan dan belum mampu memberi penjelasan tentangnya, mengenai hal itu saya masih sangat kurang referensi.
Setelah membuat beberapa tulisan, saya lebih bersemangat tuk terus menulis, sampai akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan seseorang sebagai panutan. Ketika memiliki panutan, mungkin saya bisa mencontek alur tulisannya dan inti kalimat dalam beberapa paragraf.
Saya yakin, setelah membuat banyak tulisan, saya akan mendapatkan sendiri alur tulisanku, saya akan mendapat banyak referensi untuk memilih tiap kata yang kusenangi. Saya yakin proses itu akan terus berjalan, sampai kutemukan hal yang lebih menyenangkan lagi dalam setiap upayaku membuat tulisan dan membaca kembali tulisanku.
Saya selalu mengingat tulisan Yusran Darmawan, menulis adalah proses menajamkan semua insting dan indra kita dalam interaksi dengan semesta. Selain itu diapun mengatakan menulis adalah proses menyatu dengan alam, proses menangkap gerak spontan semesta dan kemudian dilukiskan dalam kata.
Dalam setiap proses yang kulewati, selalu ada upaya untuk menangkap pesan semesta lewat geraknya yang spontan. Semakin sering saya menulis mungkin semakin sering pula alam memperlihatkan geraknya yang unik.
Semakin sering kuamati, akan melatih instingku agar semakin peka dalam menangkap pesan-pesan alam. Akhirnya sejak awal tahun ini, saya jadi rutin menulis, ada tulisan yang selesai namun ada juga yang tidak, setidaknya yang dapay kuselesikan lebih banyak dari tulisanku tahun lalu.
Yang dapat kuselesaikan akan saya posting di blog pribadi, dan yang belum selesai biarlah menjadi arsip dalam folder pribadi. Kuyakin suatu hari nanti saya bisa menyelesaikan tulisan-tulisan itu dalam susunan kata dan kalimat yang baru dan lebih baik dari yang kumiliki saat ini.

Sabtu, 28 September 2019

PEMBERONTAK - Takdir Anak Baru (Bagian 3)

"Sakit?". "Tidak Senior!". "Marah ko?". "Tidak Senior!"

Entah sudah berapa kali sandal eiger mendarat keras dikedua pipiku. Telinga yang sudah dari tadi terus siaga mencari-cari suara teman, hampir tak dapat mendengar bunyi lain selain bunyi ngiiii. Berdengung. Hantaman sandal eiger keras mendarat lagi dibagian kanan pipi sampai telinga, "taik! siapa yang memukul", kumaki mereka dalam hati. Dari balik gelapnya malam dan semak belukar yang tumbuh liar dikedua sisi jalan, hanya bayangan hitam yang terlihat samar tapi terus memukul. Bagaimana mungkin bisa melihat, sedang mengangkat kepala saja dianggap tabu.

"Tunduukk ko!, Tidak boleh anak baru mengangkat kepala!".

Perasaanku baru 3 pos didatangi, tapi rasanya seperti sudah dipukuli 10 orang lebih. Pos pertama, kejutan pertama  yang kami dapatkan dari seorang wanita, tamparan keras disalah satu pipi yang dipilih sesuka hatinya. Salah kami hanya satu, karena kami anak baru. Pos kedua, hantaman keras dikepala dengan penggaris logam, dan sakitnya masih belum hilang. Salah kami karena tak bisa merayap melewati penggaris yang ditempatkan berjarak 10 cm dari permukaan aspal. Belum lagi pos bayangan diantara pos, yang jumlahnya tak diketahui. Mereka lebih kreatif, dengan permainan membakar bulu hidung tiap anak lelaki yang lewat. Beruntung saya tak bernasib sial seperti teman disampingku tadi, disuru buka mulut kemudian diludahi seorang senior.

Masih banyak pos lain didepan sana, artinya masih ada puluhan orang kreatif yang dapat menciptakan beragam tindakan kekerasan jenis baru. Apakah setelah ini saya telah menjadi mahasiswa?. Setelah melewati penjara ini apakah saya telah menjadi mahasiswa?. Apa artinya semua ini?, apa gunanya materi keilmuan, organisasi dan kemanusiaan yang kemarin disampaikan kalau mereka sendiri melakukan kekerasan atas nama Mahasiswa?.

***
Didepan kami berdiri seorang pemateri, dia membawakan materi ke organisasian. Gaya bicaranya sangat berwibawah,  mencerminkan sosok seorang aktivis kampus yang telah malang melintang didunia ke organisasian. Orang-orang seperti dia yang kulihat selalu berdemonstrasi di tv saat SMA dulu, dengan mikrofon ditangannya mereka berorasi sambil membakar ban dan menutup jalan. Dia menyebutkan satu demi satu nama organisasi yang dapat kami masuki nanti, mulai dari organisasi fakultas, jurusan, dan organisasi lebih besar yang punya cabang disemua fakultas diseluruh kampus.

Kalian butuh organisasi, untuk membentuk karakter sebagai mahasiswa, karena mengikuti kuliah saja masih belum cukup untuk membentuk kepribadian dan kepemimpinan kalian. Mahasiswa adalah agen of change, yang punya tanggung jawab moril sangat besar pada bangsa dan juga negara. Tugas kita sangat berat, karenanya kita harus memasuki organisasi untuk dapat menjalankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Suara dan intonasinya sangat enak didengar, sepertinya semua temanku kagum padanya tak terkecuali saya, dia pasti seorang yang hebat dan sudah sering memimpin demo dikampus ini.

Materi telah selesai, masih tak ada juga dari kami yang mengajukan pertanyaan. Saya sendiri juga bingung apa yang hendak ditanyakan, kalaupun ada, saya pun tak berani. Tak banyak yang saya paham dari ucapannya, terlalu banyak istilah yang buatku bingung karena tak tau artinya. Kuliat kembali catatanku, sepulang dirumah nanti, semua kata asing yang dikatakannya tadi harus kucari artinya dikamus, kemudian kuhafal. Tentu akan sangat keren ketika mampu kugunakan saat berbincang atau berdebat dengan teman-teman.

Hari makin sore, waktu telah menunjukan pukul 17.05. Materi Pengenalan Organisasi Jurusan kemudian Metode persidangan juga telah usai, dan semua anak baru mulai menunjukan ekspresi kelelahan. Sebelum bubar, panitia kembali memberi arahan mengenai persiapan yang harus dibawa untuk besok, juga pakaian apa yang harus dipakai. Setiap anak baru pulang dengan membawa selembar kertas catatan, sepertinya malam ini cukup berat, dan tubuh ini pula terasa berat, butuh istrahat setidaknya biar sebentar.

Dalam angkot biru dengan garis hitam, entah berapa nomor trayeknya saya tak terlalu memperhatikan, ada jimy dan gani yang ternyata searah jalan pulang denganku. Kami bercakap seadanya, saling bertanya dimana tempat tinggal, jelas sekali terlihat kelelahan dari wajah kami semua dan para penumpang lain tau itu. "Kiri Pak", supir angkot menghentikan mobilnya. Sebelum pergi, saya menyerahkan selembar uang pecahan seribu dan satu koin pecahan lima ratus rupiah. Jimy dan Gani sudah turun duluan, katanya mereka tinggal didaerah batua raya, entahlah, saya belum cukup tau dan hafal jalan-jalan dan tempat-tempat di Kota ini.

Saya berhenti didepan lorong kecil, tak jauh disebelah kiri ada penjual gorengan, seorang perempuan paruh baya dari jawa, yang punya anak gadis berwajah menawan. Didepan bagian kiri ada sebuah pohon jati besar, itu pohon jati satu-satunya yang pernah kulihat di Kota ini, pohon jati yang sama dengan yang ada dihutan jompi dikampungku. Saya ingin pulang cepat untuk istrahat, tapi gerobak tahu isi sepertinya menarikku, hanya untuk sekedar melihat si gadis yang begitu menawan. Ah, betul juga, saya harus membeli tahu isi dan tempe goreng tuk makan malam.

Lorong kecil permukaannya setapak, dua kali belok kanan dan dua kali belok kiri, sampailah didepan rumah nenek haji yang kamar depannya kami kontrak. Lelahnya mulai terasa setelah tubuhku rebah diatas kasur, mataku sangat berat, rasanya ingin tidur saja supaya besok bisa bangun cepat. Diatas lantai keramik disamping dispenser, tahu isi dan tempe goreng hangat masih belum berani keluar dari kantung kresek berwarna bening. Dalam posisi terlentang, sayup-sayup kudengar suara seorang wanita bertanya, ternyata kakak perempuanku yang datang untuk menjenguk. Dia hanya ingin memastikan ada atau tidak pesan dari senior sebelum pulang dari kampus tadi. "Ada" jawabku, saya menarik selembar kertas yang sudah dari tadi tinggal cukup lama dikantung belakang celana jeansku, dan kuberikan padanya.

"Ini e. Bantu dulu carikan, cape sekali kurasa". Makan saja belum, apalagi mandi, saya hanya ingin tidur nyenyak diatas kasur kecil ini. Untung saja ada kakakku, meski perempuan dia sangat hafal jalanan di Kota ini. Dia datang hanya untuk mengambil selembar kertas itu, kemudian akan pergi entah kemana. "Kasi bangun saja kalau datang sebentar nah", kataku padanya.

Kembali kubayangkan tiap kejadian hari ini, dengan mata terpejam dapat kusaksikan dengan jelas tiap urutan kejadian, sepertinya masih berlangsung dialam lain dalam memoriku. Kuliat diriku sedang duduk dalam ruangan, menerima kuliah dari dosen sebagai seorang mahasiswa semester awal. Teman-teman keliatan sudah tak canggung lagi, beberapa dari mereka sering bertanya dan dosen selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Saya hanya menyimak sambil banyak mencatat, sepertinya saya cukup menikmati tiap sesi tanya jawab dalam ruangan kuliah. Akhirnya semua dapat berjalan normal, tiada hal buruk yang terjadi selama masa orientasi, semua kelihatan sangat akrab, antara sesama anak baru dan para senior sangat dekat tak ada sekat. Kampus juga sangat ramai, banyak mahasiswa ditiap sudut, di loby, di pelataran, di bawah pohon, semuanya tersenyum, sangat ramah.

"Breek, Breek".

Samar-samar kudengar ada yang memanggil, tapi dari mana saya tak tau. Panggilan itu jelas tertuju padaku, tapi siapa yang memanggil saat sedang kuliah begini. 

"Brek", ingin kujawab panggilannya tapi perasaanku tak enak pada dosen yang sedang menjelaskan didepan. 

"Brek bangun. Banguun oi".

Ah itu pasti kakakku, "masuk saja, pintu tidak dikunci". Kujawab panggilannya dengan suara seadanya yang terkesan malas, malas bicara, malas buka mata dan malas bergerak. Sepertinya mimpiku tadi cukup menyenangkan, tapi dia datang merusaknya dengan tiba-tiba, hm. Tapi tak apa, untungnya dengan cepat dia mengembalikanku pada dunia nyata, bukan dunia fantasi yang penuh realitas imajiner. Hampir saja saya tersesat dalam anggapan seolah semua ini telah berakhir dan masa orientasi telah berjalan normal. Sesaat kata-kata temanku La Galigo kembali terlintas, benar juga, biasanya apa yang terlihat dimimpi berbanding terbalik dengan kenyataan yang akan terjadi. Kata orang tua dikampung, kadang mimpi memberi peringatan dalam bentuk kejadian yang menyenangkan, supaya kita selalu waspada.

"Bangunmi, ini pesananmu e, coba liat dulu, siapa tau ada yang kurang", kata kakakku. Saya hanya membuka mata. Didepanku ada 2 kantung plastik hitam yang cukup besar dan satu kantung plastik bening agak kecil. "Itu nasi bungkus untuk makan malammu, kabari saja kalau ada yang diperlukan lagi nah. Semua yang ada didaftar sudah ada dalam sini", telunjuknya menunjuk kearah dua kantung plastik hitam disudut kamar.

"Saya pulang dulu". "Oke, Terimakasih banyak, nanti kuhubungi kalau adalagi", setelah menutup pintu dia pun pergi. Sampai tak kudengar lagi suara kendaraannya, saya masih belum ingin bangun.

Sabtu, 21 September 2019

Drs. Syarifuddin, MM - Biografi Singkat Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri

Namanya Drs. Syarifuddin. MM, lahir di Lakologou Kec. Tongkuno Kab. Muna pada 13 Februari 1960. Saat ini menjabat Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementrian Dalam Negri. Ayahnya bernama Haji La Udu dan ibunya bernama Wa Rimpu, yang merupakan anak dari Bhonto Balano.

Pada tahun 1987 ia mempersunting perempuan asal Lohia bernama Dra. Murni, anak dari La Mursidi asal Mabuti dan Wa Rudu asli Lohia. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai 5 orang anak, 2 lelaki dan 3 perempuan, semuanya lahir di Muna.

Anak pertama Arifahtun Zohrah, sebagai Finance Control di salah satu konsultan manajemen konstruksi di Jakarta Pusat. Yang ke-2 Allamahtul Qariah, sebagai Staff di salah satu Perusahaan Belanda Suaminya Tom Kanters adalah rekan kantornya sebagai konsultan manajemen konstruksi. Anak ke-3 Aristo Amrullah, sebagai Owner Representatif (OR) di salah satu BUMN. Anak ke-4 Ahdiatus Safiah, Mahasiswi Kedokteran Gigi di salah satu Universitas di Semarang. Dan yang terakhir Ansari Ummarah, adalah Mahasiswa Kedokteran Umum di Salah satu Universitas di Semarang

Syarifuddin kecil menamatkan pendidikan dasarnya di SDN Labundoua tahun 1972. Kemudian melanjutkan sekolah di SMEP Negri Pure selama 3 tahun, dan lulus pada tahun 1975. Dari Pure dia menuju ke Kota Raha untuk meneruskan pendidikan di SMEA Negri Raha, dan menerima ijazah kelulusan tahun 1979. Keinginan mendapat pendidikan lebih tinggi mengarahkan kakinya ke perguruan tinggi di Jogjakarta.

Fakultas Pendidikan di IKIP Negri Jogjakarta menjadi pilihannya, dimana pada tahun 1984 ia meraih gelar Sarjana (S1). Gelar S2 dia peroleh dari STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Budiluhur Jakarta tahun 2000. Dan mendapatkan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik yang merupakan Beasiswa Bergengsi saat itu.

Sebagaimana manusia biasa, ia kerap mendapat cobaan hidup yang berat dari tuhan pencipta semesta. Baru setahun pindah dari Raha ke Jakarta, dirinya melanjutkan kuliah Magister di STIE Budiluhur. Karena biaya hidup yang tinggi, sedangkan ia harus menanggung hidup keluarga dan pendidikannya, ia dengan restu sang istri menjual cincin kawinnya. Ini sebuah pengalaman hidup yang tak pernah ia lupakan.

Awal bekerja di Kemendagri, sebagai staff biasa dia bertugas mengantar dan mencatat surat masuk juga keluar. Tak ada teman sekantor yang tau kalau dia mantan camat. Padahal untuk seorang mantan Camat, menjadi pengantar surat adalah penurunan. Dia tak melihatnya demikian. Semuanya ia kerjakan dengan penuh tanggung jawab. Sampai akhirnya ketekunan serta kesabarannya berbuah manis, dan mengantarkannya mencapai posisi yang dimimpikan semua ASN/PNS di daerah.

Dia seorang Aparatur Sipil Negara, yang memulai karir dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Muna pada tahun 1986. Sebelumnya mengabdi sebagai tenaga honorer di dinas tersebut. Karir kepemimpinannya dimulai ketika ia ditunjuk menjadi Kasubag TU pada Dinas Pendidikan Kab. Muna, kemudian sebagai Camat Wakorumba tahun 1990-1995.

Saat ini sosok Syarifuddin sangat lekat dengan keuangan, karena posisinya sebagai salah satu Ahli Keuangan yang dipercaya di era 5 Presiden berbeda. Dan selalu dipercaya menduduki jabatan strategis yang berkaitan dengan keuangan.

Dimulai dari Kabag Pembukuan Biro Keuangan Sekjen tahun 2000-2004. Kepala Sub Direktorat Pelaksanaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah Wilayah IV Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah tahun 2004-2006, dan Kasubdit Anggaran Daerah Ditjen Keuangan Daerah pada tahun 2006-2011.

Setelah 7 tahun menjadi Kasubdit, pada tahun 2011 ia ditunjuk menjadi Direktur Pelaksana dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah Ditjen Bina Keuangan Daerah. Kemudian tahun 2017 namanya masuk dalam penjaringan calon Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri.

Prosesi itu berlangsung sangat terbuka, tapi dia sendiri kerap tak menyadari sedang dalam pengawasan tim khusus Presiden. Setelah melalui seleksi sangat ketat, dengan persetujuan Presiden RI Ir. Joko Widodo, Pak Syarif dipilih menjadi Dirjen Bina Keuangan Daerah pada tahun 2017, dan masih menjabat sampai saat ini.

Ditjen yang dipimpinnya sangatlah strategis, karena berhubungan dengan pengelolaan keuangan 34 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Dan Syarifuddin mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

Dalam politik, karir puncak yang dapat dicapai politisi yaitu menjadi Presiden atau Kepala Negara. Sedangkan Dalam Militer, yakni menjadi Jenderal Bintang 4. Bagi seorang ASN, mencapai eselon 1.a dengan posisi Direktur Jenderal di sebuah Kementrian, merupakan tingkatan paling tinggi dalam karir. Tak adalagi jabatan diatasnya. Pak Syarif telah sampai pada puncak karir sebagai ASN dan diakui sebagai salah satu Ahli Keuangan terbaik Pemerintah Pusat.

Sebagai salah satu Ahli Keuangan terbaik di Kemendagri, tahun 2018 dia ditugaskan memimpin Provinsi Jawa Tengah sebagai Pj Gubernur. Itu melalui SK Presiden,  dan dibawah pengawasan langsung Presiden RI. Riwayat kepemimpinannya semakin panjang, ketika di tahun 2018 sampai saat ini, dia diberikan amanah oleh masyarakat Sultra diperantauan, untuk menjadi Ketua Umum DPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara se Indonesia.

Perjalanan hidup seorang Syarifuddin, sangat pantas dijadikan teladan. Banyak pelajaran hidup yang dapat diperoleh darinya. Diantaranya keberanian mengambil langkah besar dalam hidup, juga ketekunan serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang diterima.

Sikap sederhana dan tetap rendah hati, adalah 2 hal penting yang juga harus dicontoh darinya. Setelah menjadi seorang Dirjen, yang memiliki pengaruh besar dalam persetujuan jumlah DAK (Dana Alokasi Khusus) dan DAU (Dana Alokasi Umum) Kabupaten/Kota se Indonesia, dirinya tetap sederhana dan rendah hati. Tidak seperti pejabat daerah kebanyakan, yang meninggikan diri karena punya jabatan ditangannya.

Ditengah kesibukannya sebagai Dirjen, Dosen di IPDN dan jabatan strategis lainnya yaitu Komisaris TransJakarta, dia masih memiliki satu harapan besar. Yaitu ingin membangun Muna supaya menjadi lebih baik. Supaya bisa maju dan berkembang mendekati Kota Kendari juga Kota Baubau. Niat itu yang menggerakan hatinya untuk maju dalam pemilihan Bupati Muna pada tahun 2020 ini.

Dengan posisi dan jabatannya saat ini, menjadi Bupati sebetulnya merupakan langkah mundur dalam karirnya. Padahal hanya tinggal selangkah lagi dia dapat menjadi Wakil Mentri. Kalau hanya mengharapkan uang, ia telah memiliki lebih dari cukup, pun jabatan, ia telah menduduki jabatan yang bahkan lebih tinggi dari Bupati dan setara Gubernur.

Tapi karena panggilan hati, ingin membangun kampung halamannya supaya maju seperti daerah-daerah lain, maka ia rela mundur satu langkah demi Muna. Demi masyarakat Muna yang seharusnya bisa lebih sejahtera.
.

Sabtu, 14 September 2019

PEMBERONTAK - Takdir Anak Baru (Bagian 2)

"Beruntung kita hari ini, semoga besok masih sama, hanya olahraga pagi", bisik Lagaligo padaku. 
"Ya, bukannya semua dalam pengawasan dosen?"
"Semoga saja, tapi saya masih ragu dengan semua senior itu"
"Kelihatannya mereka cukup baik"
"Dilapangan siapa yang tau"
"Mereka orang-orang terpelajar, menindas dengan kekerasan jelas mempermalukan diri sendiri"
"Itu kalau mereka semua mengerti"
"Bukannya mereka Mahasiswa?"
"Ya, kadangkala teori berbeda dengan prakteknya, jangan mudah percaya, itu saranku"
"Iya, terimakasih kawan"

Ruang auditorium terletak dilantai 2, setelah memasuki lobi harus menaiki tangga dibagian kiri, disana ada lorong kecil yang menghubungkan dengan gedung utama perkuliahan. Satu persatu para anak baru mengisi daftar hadir, kemudian diberikan sekantung perlengkapan yang didalamnya ada buku, pin, syal juga stiker dan baju kaos hitam khusus untuk para anak baru. Kata panitia, besok dan seterusnya anak baru sudah harus memakai baju kaos yang disiapkan, tidak lagi memakai putih hitam. 

Pak ketua jurusan datang, acara pun dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya kemudian lagu himne jurusan. Setelah itu secara berurutan ketua jurusan dan para dosen yang hadir memberikan kata sambutan, dan diakhiri sambutan dari ketua himpunan mahasiswa jurusan juga ketua panitia. Ada jedah waktu sebelum masuk materi pertama yang akan dibawakan oleh dosen, jedah ini kembali digunakan panitia untuk memberikan arahan, agar supaya banyak yang bertanya setelah dosen memberikan materi singkat. Namun sampai dosen selesai, tak juga ada yang berani bertanya, "itu artinya kalian belum mampu menjadi Mahasiswa", kata seorang panitia.

Dari balik jendela kaca ruang auditorium, nampak matahari hampir berada tepat diatas kepala, pertanda waktu hampir menunjukan pukul 12.00 siang, mungkin sebentar lagi akan tiba waktu istrahat dan makan siang. Sampai saat ini dua dosen telah memberikan materi, rasanya seperti sudah mulai kuliah, dan belum ada satupun anak baru yang berani mengajukan pertanyaan. Diluar ruangan, kampus mulai ramai, para senior berkumpul dilorong-lorong, sesekali beberapa dari mereka datang melihat-lihat, dari jendela kaca juga pintu 2 daun yang terletak didepan dan bagian belakang ruang auditorium.

Hampir tak banyak warna yang tersaji dari pemandangan diluar sana, sepertinya warna hitam menguasai seluruh area, semoga ini bukan pertanda mendung kemudian muncul petir yang diiringi hujan. Dalam percakapan singkat, seorang teman sesama anak baru sedikit memberitau, katanya saat sekarang ini banyak senior yang masuk kampus, padahal sebelumnya mereka biasanya ada kegiatan diluar dan enggan kekampus. Sepertinya acara orientasi mulai digunakan para senior untuk melihat-lihat para anak baru, yang perempuan akan mendapat perhatian khusus dari senior lelaki. Seperti yang terjadi pada beberapa teman perempuan kami anak baru, namanya mulai diingat dan sering dipanggil beberapa senior yang sedang melintas.

Begitulah perempuan, makhluk tuhan yang satu ini memang sudah kodratnya menarik lawan jenis, karenanya para lelaki akan dengan mudah menunjukan ketertarikannya, supaya mendapat kesempatan mengantar pulang. Berbeda dengan para anak baru lelaki, meskipun berwajah tampan atau manis layaknya anggur, mustahil bagi senior perempuan menunjukan ketertarikannya didepan banyak orang. Kadangkala hal seperti itu ikut menentukan nasib laki-laki dan perempuan akan mendapat perlakuan baik atau tidak dari para senior. Beruntung bagi mereka (perempuan), hanya dengan sedikit senyum dan memberi jawaban pengharapan, maka nasibnya akan aman, setidaknya itu menjadi jaminan sampai acara orientasi berakhir.

Waktu istrahat tiba, saatnya meregangkan sendi-sendi yang sempat kaku untuk beberapa saat. Para panitia bergerak cepat, menyediakan nasi bungkus untuk makan siang peserta orientasi. Setelah makan siang, panitia membolehkan para anak baru yang beragama islam untuk menjalankan ibadahnya dimasjid kampus. Kesempatan itu dimanfaatkan para anak baru untuk sedikit menjauh dari senior, juga untuk membasuh muka supaya lebih segar saat menerima materi selanjutnya yang akan dibawakan para dewan senior.

Rombongan anak baru pergi menuju masjid, tanpa koordinator, dalam barisan yang tak teratur. Mulai nampak kelompok-kelompok kecil diantara mereka. Masa orientasi menjadi pemicu munculnya komunikasi yang mulai terjalin akrab dan rasa saling mengerti maksud satu sama lain. Sebagian mulai berani menunjukan sikap berbaur, dengan memberikan respon tertawa lepas pada cerita temannya, sebagian cuma tertawa kecil pertanda masih malu-malu. Cuma beberapa lainnya masih jaim, dengan sikap diam berusaha menunjukan arogansi dan wibawahnya.

Entah apa yang  diceritakan, mereka hanya sedang menikmati perjalanan, melewati setapak belakang kampus menuju masjid yang letaknya disudut sana. Orientasi telah mendekatkan, karena memiliki rasa takut yang sama tentang apa saja yang akan dilakukan senior. Setelah rasa tegang yang mengganggu sejak malam sampai saat selesai makan siang tadi, kini mereka lebih santai, lebih bisa menerima dan membuka diri dalam pergaulan bersama temannya. Tak mudah membuat ikatan pertemanan dengan orang asing, yang beda bahasa, beda asal apalagi beda agama, masa orientasi telah menghapus sekat itu.

Tak semua datang ke masjid beraga islam dan ingin beribadah, ada yang cuma ikut-ikutan hanya karena ingin mendapat waktu istrahat lebih. Diteras masjid mereka membuat lingkaran dengan duduk bersila. "Saya Bara asal sulawesi tenggara, senang bisa ketemu kalian dari seluruh Indonesia. Dahulu saya punya teman SD pindahan dari Ambon namanya Iskandar, juga Yanti seorang siswi pindahan dari SMP Manokwari".

"Pantas, dari logatmu saya dengar sepertinya tak asing, saya Ode juga dari sulawesi tenggara, di Muna", sambungnya dengan cepat. "Berarti kalian sekampung, perkenalkan saya Khair dari maluku utara". "Ternate ya?" tanyaku. "Bukan, tapi sebuah pulau dibagian selatan yang kamu pasti tidak tau". Dan kami semua tertawa.

Sebuah upacara layaknya sukuran mulai berlangsung, dalam perkenalan ini mereka dapat saling mengenal nama, asal dan wajah masing-masing. Wajah-wajah kampung yang lugu, masih kusam karena belum tersentuh bedak-bedak kota, dalam beberapa tahun setelah ini akan banyak yang berubah karena menyesuaikan dengan kehidupan kota. Beberapa lainnya telah selesai shalat dan langsung bergabung dalam lingkaran.

"Saya Kais, dari Papua". "Betul kau orang papua kah?". "Iya, saya kelahiran Papua". "Aku baru liat orang papua putih dan rambutnya lurus kayak kamu, saya Ardi dari Kalimantan". "Saya Bojes dari Sulawesi Tengah". "Saya Gani, dari Pulau Buru, Ambon". 

"Pulau Buru ya, sepertinya pulau itu salah satu tempat yang diilhami di negri ini, banyak tokoh besar Indonesia yang pemikirannya bermekaran dari tempat itu. Pramoedya Ananta Toer, kau kenal nama itu gani?, sastrawan Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara yang terkenal dengan maha karyanya tetralogi pulau buru. Semoga kau bukan si Minke yang datang kuliah ke Makassar dan mendapatkan gadis cantik seperti Annelies kemudian dijadikan istri". 

"Ah, Lagaligo, paling suka kau bercanda. Saya pernah dengar nama Pramoedya dari para orang tua, beliau sepertinya mantan tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru, kalau saya tak salah ingat. Tapi Minke, siapa lagi orang itu?". "Haha, sudahlah tak usah dipikirkan, saya Lagaligo dari Luwu". "Salam kenal, saya Upi dari Padang".

"Fara dari Sorong". "Alam dari Majene Sulawesi Barat". "Amel dari Manado". "Fidel dari Ternate". "Faldo dari Merauke". "Huma dari Tobelo". "Mujiono dari Jawa". "Jimy dari Nusa Tenggara". Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri dan persahabatan menjadi kian erat, meruntuhkan segala sekat yang sempat tumbuh beberapa hari lalu. "Hei kalian para anak baru, segera kembali, pemateri sudah datang, kalian tak boleh terlambat", kata seorang panitia mengingatkan.