Neuroplanologi - Bahagia Untuk Menjadi Kuat

Kota Bahagia adalah Kota yang mampu memberikan kebahagiaan bagi warganya. Saya ingin memulainya dari defenisi yang sederhana tentang Kota Bahagia, sesederhana yang saya pikirkan tentang jalan kebahagiaan.

Urbanisasi dan Masyarakat Kota

Urbanisasi muncul karena ada kebutuhan, begitupun dengan kota sebagai sebuah peradaban. Kota lahir karena kebutuhan, bukan secara alamiah, melainkan dibentuk dengan sengaja oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Neuroplanologi - Jalan Menuju Kota Bahagia / Happy City

Mungkin sudah saatnya sebuah pendekatan baru lahir, dengan memadukan disiplin Planologi dan Neurosains untuk mewujudkan sebuah kota yang bahagia. Dengan kajian yang lebih fokus membahas sebuah perencanaan yang lebih memberikan pengaruh terhadap saraf otak dan membuat manusia lebih bahagia. Semoga tak terlalu dini, saya ingin menyebutnya sebagai NEURO PLANOLOGI.

Silverqueen - Berhenti Menangis

Selalu ada kisah haru pada malam-malam disaat musim hujan yang pernah kita lalui bersama. Kau disana, dan aku disini, hanya kita berdua. Belum cukup setahun kita kenalan, tapi rasanya sudah bertahun-tahun kita berteman. Sangat akrab, dan kau selalu saja buatku rindu.

Pak Udin, Penjaga Tradisi Suku Bajo Mola di Wakatobi

Pak Udin merupakan seorang Suku Bajo yang berasal dari Mola, pemukiman suku bajo terbesar didunia yang berada di Pulau Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. Layaknya suku bajo yang selalu dikatakan dalam berbagai literatur, pak udin sangat menggantungkan hidupnya pada laut.

Sabtu, 28 September 2019

PEMBERONTAK - Takdir Anak Baru (Bagian 3)

"Sakit?". "Tidak Senior!". "Marah ko?". "Tidak Senior!"

Entah sudah berapa kali sandal eiger mendarat keras dikedua pipiku. Telinga yang sudah dari tadi terus siaga mencari-cari suara teman, hampir tak dapat mendengar bunyi lain selain bunyi ngiiii. Berdengung. Hantaman sandal eiger keras mendarat lagi dibagian kanan pipi sampai telinga, "taik! siapa yang memukul", kumaki mereka dalam hati. Dari balik gelapnya malam dan semak belukar yang tumbuh liar dikedua sisi jalan, hanya bayangan hitam yang terlihat samar tapi terus memukul. Bagaimana mungkin bisa melihat, sedang mengangkat kepala saja dianggap tabu.

"Tunduukk ko!, Tidak boleh anak baru mengangkat kepala!".

Perasaanku baru 3 pos didatangi, tapi rasanya seperti sudah dipukuli 10 orang lebih. Pos pertama, kejutan pertama  yang kami dapatkan dari seorang wanita, tamparan keras disalah satu pipi yang dipilih sesuka hatinya. Salah kami hanya satu, karena kami anak baru. Pos kedua, hantaman keras dikepala dengan penggaris logam, dan sakitnya masih belum hilang. Salah kami karena tak bisa merayap melewati penggaris yang ditempatkan berjarak 10 cm dari permukaan aspal. Belum lagi pos bayangan diantara pos, yang jumlahnya tak diketahui. Mereka lebih kreatif, dengan permainan membakar bulu hidung tiap anak lelaki yang lewat. Beruntung saya tak bernasib sial seperti teman disampingku tadi, disuru buka mulut kemudian diludahi seorang senior.

Masih banyak pos lain didepan sana, artinya masih ada puluhan orang kreatif yang dapat menciptakan beragam tindakan kekerasan jenis baru. Apakah setelah ini saya telah menjadi mahasiswa?. Setelah melewati penjara ini apakah saya telah menjadi mahasiswa?. Apa artinya semua ini?, apa gunanya materi keilmuan, organisasi dan kemanusiaan yang kemarin disampaikan kalau mereka sendiri melakukan kekerasan atas nama Mahasiswa?.

***
Didepan kami berdiri seorang pemateri, dia membawakan materi ke organisasian. Gaya bicaranya sangat berwibawah,  mencerminkan sosok seorang aktivis kampus yang telah malang melintang didunia ke organisasian. Orang-orang seperti dia yang kulihat selalu berdemonstrasi di tv saat SMA dulu, dengan mikrofon ditangannya mereka berorasi sambil membakar ban dan menutup jalan. Dia menyebutkan satu demi satu nama organisasi yang dapat kami masuki nanti, mulai dari organisasi fakultas, jurusan, dan organisasi lebih besar yang punya cabang disemua fakultas diseluruh kampus.

Kalian butuh organisasi, untuk membentuk karakter sebagai mahasiswa, karena mengikuti kuliah saja masih belum cukup untuk membentuk kepribadian dan kepemimpinan kalian. Mahasiswa adalah agen of change, yang punya tanggung jawab moril sangat besar pada bangsa dan juga negara. Tugas kita sangat berat, karenanya kita harus memasuki organisasi untuk dapat menjalankan peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Suara dan intonasinya sangat enak didengar, sepertinya semua temanku kagum padanya tak terkecuali saya, dia pasti seorang yang hebat dan sudah sering memimpin demo dikampus ini.

Materi telah selesai, masih tak ada juga dari kami yang mengajukan pertanyaan. Saya sendiri juga bingung apa yang hendak ditanyakan, kalaupun ada, saya pun tak berani. Tak banyak yang saya paham dari ucapannya, terlalu banyak istilah yang buatku bingung karena tak tau artinya. Kuliat kembali catatanku, sepulang dirumah nanti, semua kata asing yang dikatakannya tadi harus kucari artinya dikamus, kemudian kuhafal. Tentu akan sangat keren ketika mampu kugunakan saat berbincang atau berdebat dengan teman-teman.

Hari makin sore, waktu telah menunjukan pukul 17.05. Materi Pengenalan Organisasi Jurusan kemudian Metode persidangan juga telah usai, dan semua anak baru mulai menunjukan ekspresi kelelahan. Sebelum bubar, panitia kembali memberi arahan mengenai persiapan yang harus dibawa untuk besok, juga pakaian apa yang harus dipakai. Setiap anak baru pulang dengan membawa selembar kertas catatan, sepertinya malam ini cukup berat, dan tubuh ini pula terasa berat, butuh istrahat setidaknya biar sebentar.

Dalam angkot biru dengan garis hitam, entah berapa nomor trayeknya saya tak terlalu memperhatikan, ada jimy dan gani yang ternyata searah jalan pulang denganku. Kami bercakap seadanya, saling bertanya dimana tempat tinggal, jelas sekali terlihat kelelahan dari wajah kami semua dan para penumpang lain tau itu. "Kiri Pak", supir angkot menghentikan mobilnya. Sebelum pergi, saya menyerahkan selembar uang pecahan seribu dan satu koin pecahan lima ratus rupiah. Jimy dan Gani sudah turun duluan, katanya mereka tinggal didaerah batua raya, entahlah, saya belum cukup tau dan hafal jalan-jalan dan tempat-tempat di Kota ini.

Saya berhenti didepan lorong kecil, tak jauh disebelah kiri ada penjual gorengan, seorang perempuan paruh baya dari jawa, yang punya anak gadis berwajah menawan. Didepan bagian kiri ada sebuah pohon jati besar, itu pohon jati satu-satunya yang pernah kulihat di Kota ini, pohon jati yang sama dengan yang ada dihutan jompi dikampungku. Saya ingin pulang cepat untuk istrahat, tapi gerobak tahu isi sepertinya menarikku, hanya untuk sekedar melihat si gadis yang begitu menawan. Ah, betul juga, saya harus membeli tahu isi dan tempe goreng tuk makan malam.

Lorong kecil permukaannya setapak, dua kali belok kanan dan dua kali belok kiri, sampailah didepan rumah nenek haji yang kamar depannya kami kontrak. Lelahnya mulai terasa setelah tubuhku rebah diatas kasur, mataku sangat berat, rasanya ingin tidur saja supaya besok bisa bangun cepat. Diatas lantai keramik disamping dispenser, tahu isi dan tempe goreng hangat masih belum berani keluar dari kantung kresek berwarna bening. Dalam posisi terlentang, sayup-sayup kudengar suara seorang wanita bertanya, ternyata kakak perempuanku yang datang untuk menjenguk. Dia hanya ingin memastikan ada atau tidak pesan dari senior sebelum pulang dari kampus tadi. "Ada" jawabku, saya menarik selembar kertas yang sudah dari tadi tinggal cukup lama dikantung belakang celana jeansku, dan kuberikan padanya.

"Ini e. Bantu dulu carikan, cape sekali kurasa". Makan saja belum, apalagi mandi, saya hanya ingin tidur nyenyak diatas kasur kecil ini. Untung saja ada kakakku, meski perempuan dia sangat hafal jalanan di Kota ini. Dia datang hanya untuk mengambil selembar kertas itu, kemudian akan pergi entah kemana. "Kasi bangun saja kalau datang sebentar nah", kataku padanya.

Kembali kubayangkan tiap kejadian hari ini, dengan mata terpejam dapat kusaksikan dengan jelas tiap urutan kejadian, sepertinya masih berlangsung dialam lain dalam memoriku. Kuliat diriku sedang duduk dalam ruangan, menerima kuliah dari dosen sebagai seorang mahasiswa semester awal. Teman-teman keliatan sudah tak canggung lagi, beberapa dari mereka sering bertanya dan dosen selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Saya hanya menyimak sambil banyak mencatat, sepertinya saya cukup menikmati tiap sesi tanya jawab dalam ruangan kuliah. Akhirnya semua dapat berjalan normal, tiada hal buruk yang terjadi selama masa orientasi, semua kelihatan sangat akrab, antara sesama anak baru dan para senior sangat dekat tak ada sekat. Kampus juga sangat ramai, banyak mahasiswa ditiap sudut, di loby, di pelataran, di bawah pohon, semuanya tersenyum, sangat ramah.

"Breek, Breek".

Samar-samar kudengar ada yang memanggil, tapi dari mana saya tak tau. Panggilan itu jelas tertuju padaku, tapi siapa yang memanggil saat sedang kuliah begini. 

"Brek", ingin kujawab panggilannya tapi perasaanku tak enak pada dosen yang sedang menjelaskan didepan. 

"Brek bangun. Banguun oi".

Ah itu pasti kakakku, "masuk saja, pintu tidak dikunci". Kujawab panggilannya dengan suara seadanya yang terkesan malas, malas bicara, malas buka mata dan malas bergerak. Sepertinya mimpiku tadi cukup menyenangkan, tapi dia datang merusaknya dengan tiba-tiba, hm. Tapi tak apa, untungnya dengan cepat dia mengembalikanku pada dunia nyata, bukan dunia fantasi yang penuh realitas imajiner. Hampir saja saya tersesat dalam anggapan seolah semua ini telah berakhir dan masa orientasi telah berjalan normal. Sesaat kata-kata temanku La Galigo kembali terlintas, benar juga, biasanya apa yang terlihat dimimpi berbanding terbalik dengan kenyataan yang akan terjadi. Kata orang tua dikampung, kadang mimpi memberi peringatan dalam bentuk kejadian yang menyenangkan, supaya kita selalu waspada.

"Bangunmi, ini pesananmu e, coba liat dulu, siapa tau ada yang kurang", kata kakakku. Saya hanya membuka mata. Didepanku ada 2 kantung plastik hitam yang cukup besar dan satu kantung plastik bening agak kecil. "Itu nasi bungkus untuk makan malammu, kabari saja kalau ada yang diperlukan lagi nah. Semua yang ada didaftar sudah ada dalam sini", telunjuknya menunjuk kearah dua kantung plastik hitam disudut kamar.

"Saya pulang dulu". "Oke, Terimakasih banyak, nanti kuhubungi kalau adalagi", setelah menutup pintu dia pun pergi. Sampai tak kudengar lagi suara kendaraannya, saya masih belum ingin bangun.

Sabtu, 21 September 2019

Drs. Syarifuddin, MM - Biografi Singkat Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri

Namanya Drs. Syarifuddin. MM, lahir di Lakologou Kec. Tongkuno Kab. Muna pada 13 Februari 1960. Saat ini menjabat Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementrian Dalam Negri. Ayahnya bernama Haji La Udu dan ibunya bernama Wa Rimpu, yang merupakan anak dari Bhonto Balano.

Pada tahun 1987 ia mempersunting perempuan asal Lohia bernama Dra. Murni, anak dari La Mursidi asal Mabuti dan Wa Rudu asli Lohia. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai 5 orang anak, 2 lelaki dan 3 perempuan, semuanya lahir di Muna.

Anak pertama Arifahtun Zohrah, sebagai Finance Control di salah satu konsultan manajemen konstruksi di Jakarta Pusat. Yang ke-2 Allamahtul Qariah, sebagai Staff di salah satu Perusahaan Belanda Suaminya Tom Kanters adalah rekan kantornya sebagai konsultan manajemen konstruksi. Anak ke-3 Aristo Amrullah, sebagai Owner Representatif (OR) di salah satu BUMN. Anak ke-4 Ahdiatus Safiah, Mahasiswi Kedokteran Gigi di salah satu Universitas di Semarang. Dan yang terakhir Ansari Ummarah, adalah Mahasiswa Kedokteran Umum di Salah satu Universitas di Semarang

Syarifuddin kecil menamatkan pendidikan dasarnya di SDN Labundoua tahun 1972. Kemudian melanjutkan sekolah di SMEP Negri Pure selama 3 tahun, dan lulus pada tahun 1975. Dari Pure dia menuju ke Kota Raha untuk meneruskan pendidikan di SMEA Negri Raha, dan menerima ijazah kelulusan tahun 1979. Keinginan mendapat pendidikan lebih tinggi mengarahkan kakinya ke perguruan tinggi di Jogjakarta.

Fakultas Pendidikan di IKIP Negri Jogjakarta menjadi pilihannya, dimana pada tahun 1984 ia meraih gelar Sarjana (S1). Gelar S2 dia peroleh dari STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) Budiluhur Jakarta tahun 2000. Dan mendapatkan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik yang merupakan Beasiswa Bergengsi saat itu.

Sebagaimana manusia biasa, ia kerap mendapat cobaan hidup yang berat dari tuhan pencipta semesta. Baru setahun pindah dari Raha ke Jakarta, dirinya melanjutkan kuliah Magister di STIE Budiluhur. Karena biaya hidup yang tinggi, sedangkan ia harus menanggung hidup keluarga dan pendidikannya, ia dengan restu sang istri menjual cincin kawinnya. Ini sebuah pengalaman hidup yang tak pernah ia lupakan.

Awal bekerja di Kemendagri, sebagai staff biasa dia bertugas mengantar dan mencatat surat masuk juga keluar. Tak ada teman sekantor yang tau kalau dia mantan camat. Padahal untuk seorang mantan Camat, menjadi pengantar surat adalah penurunan. Dia tak melihatnya demikian. Semuanya ia kerjakan dengan penuh tanggung jawab. Sampai akhirnya ketekunan serta kesabarannya berbuah manis, dan mengantarkannya mencapai posisi yang dimimpikan semua ASN/PNS di daerah.

Dia seorang Aparatur Sipil Negara, yang memulai karir dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Muna pada tahun 1986. Sebelumnya mengabdi sebagai tenaga honorer di dinas tersebut. Karir kepemimpinannya dimulai ketika ia ditunjuk menjadi Kasubag TU pada Dinas Pendidikan Kab. Muna, kemudian sebagai Camat Wakorumba tahun 1990-1995.

Saat ini sosok Syarifuddin sangat lekat dengan keuangan, karena posisinya sebagai salah satu Ahli Keuangan yang dipercaya di era 5 Presiden berbeda. Dan selalu dipercaya menduduki jabatan strategis yang berkaitan dengan keuangan.

Dimulai dari Kabag Pembukuan Biro Keuangan Sekjen tahun 2000-2004. Kepala Sub Direktorat Pelaksanaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah Wilayah IV Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah tahun 2004-2006, dan Kasubdit Anggaran Daerah Ditjen Keuangan Daerah pada tahun 2006-2011.

Setelah 7 tahun menjadi Kasubdit, pada tahun 2011 ia ditunjuk menjadi Direktur Pelaksana dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah Ditjen Bina Keuangan Daerah. Kemudian tahun 2017 namanya masuk dalam penjaringan calon Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri.

Prosesi itu berlangsung sangat terbuka, tapi dia sendiri kerap tak menyadari sedang dalam pengawasan tim khusus Presiden. Setelah melalui seleksi sangat ketat, dengan persetujuan Presiden RI Ir. Joko Widodo, Pak Syarif dipilih menjadi Dirjen Bina Keuangan Daerah pada tahun 2017, dan masih menjabat sampai saat ini.

Ditjen yang dipimpinnya sangatlah strategis, karena berhubungan dengan pengelolaan keuangan 34 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Dan Syarifuddin mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

Dalam politik, karir puncak yang dapat dicapai politisi yaitu menjadi Presiden atau Kepala Negara. Sedangkan Dalam Militer, yakni menjadi Jenderal Bintang 4. Bagi seorang ASN, mencapai eselon 1.a dengan posisi Direktur Jenderal di sebuah Kementrian, merupakan tingkatan paling tinggi dalam karir. Tak adalagi jabatan diatasnya. Pak Syarif telah sampai pada puncak karir sebagai ASN dan diakui sebagai salah satu Ahli Keuangan terbaik Pemerintah Pusat.

Sebagai salah satu Ahli Keuangan terbaik di Kemendagri, tahun 2018 dia ditugaskan memimpin Provinsi Jawa Tengah sebagai Pj Gubernur. Itu melalui SK Presiden,  dan dibawah pengawasan langsung Presiden RI. Riwayat kepemimpinannya semakin panjang, ketika di tahun 2018 sampai saat ini, dia diberikan amanah oleh masyarakat Sultra diperantauan, untuk menjadi Ketua Umum DPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara se Indonesia.

Perjalanan hidup seorang Syarifuddin, sangat pantas dijadikan teladan. Banyak pelajaran hidup yang dapat diperoleh darinya. Diantaranya keberanian mengambil langkah besar dalam hidup, juga ketekunan serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang diterima.

Sikap sederhana dan tetap rendah hati, adalah 2 hal penting yang juga harus dicontoh darinya. Setelah menjadi seorang Dirjen, yang memiliki pengaruh besar dalam persetujuan jumlah DAK (Dana Alokasi Khusus) dan DAU (Dana Alokasi Umum) Kabupaten/Kota se Indonesia, dirinya tetap sederhana dan rendah hati. Tidak seperti pejabat daerah kebanyakan, yang meninggikan diri karena punya jabatan ditangannya.

Ditengah kesibukannya sebagai Dirjen, Dosen di IPDN dan jabatan strategis lainnya yaitu Komisaris TransJakarta, dia masih memiliki satu harapan besar. Yaitu ingin membangun Muna supaya menjadi lebih baik. Supaya bisa maju dan berkembang mendekati Kota Kendari juga Kota Baubau. Niat itu yang menggerakan hatinya untuk maju dalam pemilihan Bupati Muna pada tahun 2020 ini.

Dengan posisi dan jabatannya saat ini, menjadi Bupati sebetulnya merupakan langkah mundur dalam karirnya. Padahal hanya tinggal selangkah lagi dia dapat menjadi Wakil Mentri. Kalau hanya mengharapkan uang, ia telah memiliki lebih dari cukup, pun jabatan, ia telah menduduki jabatan yang bahkan lebih tinggi dari Bupati dan setara Gubernur.

Tapi karena panggilan hati, ingin membangun kampung halamannya supaya maju seperti daerah-daerah lain, maka ia rela mundur satu langkah demi Muna. Demi masyarakat Muna yang seharusnya bisa lebih sejahtera.
.

Sabtu, 14 September 2019

PEMBERONTAK - Takdir Anak Baru (Bagian 2)

"Beruntung kita hari ini, semoga besok masih sama, hanya olahraga pagi", bisik Lagaligo padaku. 
"Ya, bukannya semua dalam pengawasan dosen?"
"Semoga saja, tapi saya masih ragu dengan semua senior itu"
"Kelihatannya mereka cukup baik"
"Dilapangan siapa yang tau"
"Mereka orang-orang terpelajar, menindas dengan kekerasan jelas mempermalukan diri sendiri"
"Itu kalau mereka semua mengerti"
"Bukannya mereka Mahasiswa?"
"Ya, kadangkala teori berbeda dengan prakteknya, jangan mudah percaya, itu saranku"
"Iya, terimakasih kawan"

Ruang auditorium terletak dilantai 2, setelah memasuki lobi harus menaiki tangga dibagian kiri, disana ada lorong kecil yang menghubungkan dengan gedung utama perkuliahan. Satu persatu para anak baru mengisi daftar hadir, kemudian diberikan sekantung perlengkapan yang didalamnya ada buku, pin, syal juga stiker dan baju kaos hitam khusus untuk para anak baru. Kata panitia, besok dan seterusnya anak baru sudah harus memakai baju kaos yang disiapkan, tidak lagi memakai putih hitam. 

Pak ketua jurusan datang, acara pun dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya kemudian lagu himne jurusan. Setelah itu secara berurutan ketua jurusan dan para dosen yang hadir memberikan kata sambutan, dan diakhiri sambutan dari ketua himpunan mahasiswa jurusan juga ketua panitia. Ada jedah waktu sebelum masuk materi pertama yang akan dibawakan oleh dosen, jedah ini kembali digunakan panitia untuk memberikan arahan, agar supaya banyak yang bertanya setelah dosen memberikan materi singkat. Namun sampai dosen selesai, tak juga ada yang berani bertanya, "itu artinya kalian belum mampu menjadi Mahasiswa", kata seorang panitia.

Dari balik jendela kaca ruang auditorium, nampak matahari hampir berada tepat diatas kepala, pertanda waktu hampir menunjukan pukul 12.00 siang, mungkin sebentar lagi akan tiba waktu istrahat dan makan siang. Sampai saat ini dua dosen telah memberikan materi, rasanya seperti sudah mulai kuliah, dan belum ada satupun anak baru yang berani mengajukan pertanyaan. Diluar ruangan, kampus mulai ramai, para senior berkumpul dilorong-lorong, sesekali beberapa dari mereka datang melihat-lihat, dari jendela kaca juga pintu 2 daun yang terletak didepan dan bagian belakang ruang auditorium.

Hampir tak banyak warna yang tersaji dari pemandangan diluar sana, sepertinya warna hitam menguasai seluruh area, semoga ini bukan pertanda mendung kemudian muncul petir yang diiringi hujan. Dalam percakapan singkat, seorang teman sesama anak baru sedikit memberitau, katanya saat sekarang ini banyak senior yang masuk kampus, padahal sebelumnya mereka biasanya ada kegiatan diluar dan enggan kekampus. Sepertinya acara orientasi mulai digunakan para senior untuk melihat-lihat para anak baru, yang perempuan akan mendapat perhatian khusus dari senior lelaki. Seperti yang terjadi pada beberapa teman perempuan kami anak baru, namanya mulai diingat dan sering dipanggil beberapa senior yang sedang melintas.

Begitulah perempuan, makhluk tuhan yang satu ini memang sudah kodratnya menarik lawan jenis, karenanya para lelaki akan dengan mudah menunjukan ketertarikannya, supaya mendapat kesempatan mengantar pulang. Berbeda dengan para anak baru lelaki, meskipun berwajah tampan atau manis layaknya anggur, mustahil bagi senior perempuan menunjukan ketertarikannya didepan banyak orang. Kadangkala hal seperti itu ikut menentukan nasib laki-laki dan perempuan akan mendapat perlakuan baik atau tidak dari para senior. Beruntung bagi mereka (perempuan), hanya dengan sedikit senyum dan memberi jawaban pengharapan, maka nasibnya akan aman, setidaknya itu menjadi jaminan sampai acara orientasi berakhir.

Waktu istrahat tiba, saatnya meregangkan sendi-sendi yang sempat kaku untuk beberapa saat. Para panitia bergerak cepat, menyediakan nasi bungkus untuk makan siang peserta orientasi. Setelah makan siang, panitia membolehkan para anak baru yang beragama islam untuk menjalankan ibadahnya dimasjid kampus. Kesempatan itu dimanfaatkan para anak baru untuk sedikit menjauh dari senior, juga untuk membasuh muka supaya lebih segar saat menerima materi selanjutnya yang akan dibawakan para dewan senior.

Rombongan anak baru pergi menuju masjid, tanpa koordinator, dalam barisan yang tak teratur. Mulai nampak kelompok-kelompok kecil diantara mereka. Masa orientasi menjadi pemicu munculnya komunikasi yang mulai terjalin akrab dan rasa saling mengerti maksud satu sama lain. Sebagian mulai berani menunjukan sikap berbaur, dengan memberikan respon tertawa lepas pada cerita temannya, sebagian cuma tertawa kecil pertanda masih malu-malu. Cuma beberapa lainnya masih jaim, dengan sikap diam berusaha menunjukan arogansi dan wibawahnya.

Entah apa yang  diceritakan, mereka hanya sedang menikmati perjalanan, melewati setapak belakang kampus menuju masjid yang letaknya disudut sana. Orientasi telah mendekatkan, karena memiliki rasa takut yang sama tentang apa saja yang akan dilakukan senior. Setelah rasa tegang yang mengganggu sejak malam sampai saat selesai makan siang tadi, kini mereka lebih santai, lebih bisa menerima dan membuka diri dalam pergaulan bersama temannya. Tak mudah membuat ikatan pertemanan dengan orang asing, yang beda bahasa, beda asal apalagi beda agama, masa orientasi telah menghapus sekat itu.

Tak semua datang ke masjid beraga islam dan ingin beribadah, ada yang cuma ikut-ikutan hanya karena ingin mendapat waktu istrahat lebih. Diteras masjid mereka membuat lingkaran dengan duduk bersila. "Saya Bara asal sulawesi tenggara, senang bisa ketemu kalian dari seluruh Indonesia. Dahulu saya punya teman SD pindahan dari Ambon namanya Iskandar, juga Yanti seorang siswi pindahan dari SMP Manokwari".

"Pantas, dari logatmu saya dengar sepertinya tak asing, saya Ode juga dari sulawesi tenggara, di Muna", sambungnya dengan cepat. "Berarti kalian sekampung, perkenalkan saya Khair dari maluku utara". "Ternate ya?" tanyaku. "Bukan, tapi sebuah pulau dibagian selatan yang kamu pasti tidak tau". Dan kami semua tertawa.

Sebuah upacara layaknya sukuran mulai berlangsung, dalam perkenalan ini mereka dapat saling mengenal nama, asal dan wajah masing-masing. Wajah-wajah kampung yang lugu, masih kusam karena belum tersentuh bedak-bedak kota, dalam beberapa tahun setelah ini akan banyak yang berubah karena menyesuaikan dengan kehidupan kota. Beberapa lainnya telah selesai shalat dan langsung bergabung dalam lingkaran.

"Saya Kais, dari Papua". "Betul kau orang papua kah?". "Iya, saya kelahiran Papua". "Aku baru liat orang papua putih dan rambutnya lurus kayak kamu, saya Ardi dari Kalimantan". "Saya Bojes dari Sulawesi Tengah". "Saya Gani, dari Pulau Buru, Ambon". 

"Pulau Buru ya, sepertinya pulau itu salah satu tempat yang diilhami di negri ini, banyak tokoh besar Indonesia yang pemikirannya bermekaran dari tempat itu. Pramoedya Ananta Toer, kau kenal nama itu gani?, sastrawan Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara yang terkenal dengan maha karyanya tetralogi pulau buru. Semoga kau bukan si Minke yang datang kuliah ke Makassar dan mendapatkan gadis cantik seperti Annelies kemudian dijadikan istri". 

"Ah, Lagaligo, paling suka kau bercanda. Saya pernah dengar nama Pramoedya dari para orang tua, beliau sepertinya mantan tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru, kalau saya tak salah ingat. Tapi Minke, siapa lagi orang itu?". "Haha, sudahlah tak usah dipikirkan, saya Lagaligo dari Luwu". "Salam kenal, saya Upi dari Padang".

"Fara dari Sorong". "Alam dari Majene Sulawesi Barat". "Amel dari Manado". "Fidel dari Ternate". "Faldo dari Merauke". "Huma dari Tobelo". "Mujiono dari Jawa". "Jimy dari Nusa Tenggara". Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri dan persahabatan menjadi kian erat, meruntuhkan segala sekat yang sempat tumbuh beberapa hari lalu. "Hei kalian para anak baru, segera kembali, pemateri sudah datang, kalian tak boleh terlambat", kata seorang panitia mengingatkan.

Selasa, 10 September 2019

PEMBERONTAK - Takdir Anak Baru (Bagian 1)

Dibawa purnama, ditengah malam buta ditepi pantai tempat wisata, berlangsung sebuah parade mirip tentara jepang sedang melakukan penindasan terhadap para romusa. Ini sudah menjadi adat kebiasaan yang telah dilakukan turun temurun sejak dulu, sejak jurusan kita berdiri, kata salah satu dari mereka beberapa saat yang lalu. "Jadi, hanya karena kebiasaan yang telah dilakukan terus menerus, penindasan ini terasa legal dan akan menjadi takdir para anak baru, begitu?", protes si anak baru dalam hati. Romusa adalah pekerja paksa, kebebasannya telah direnggut tentara jepang sejak pertama kali mereka bekerja, sampai kapan? entahlah, tiada yang tau kapan mereka selesai dan kemudian berhenti bekerja demi kepentingan jepang.

"Berteriak ko!, bilang tabe senior!".
"Tabe senior".

Malam semakin larut, sebentar lagi sang waktu akan mengubah warna langit menjadi kuning kemudian terang, dari yang sebelumnya gelap gulita dan begitu dingin. Sementara teriakan dan tawa-tawa mereka belum ada tanda-tanda akan berhenti, semakin lama makin terasa sampai kedalam dada dan menusuk jauh sampai kedasar sisi emosional. Jelas saja, manusia mana yang akan diam tanpa rasa marah dalam dirinya, ketika diperlakukan bak seorang budak, anehnya itu dilakukan oleh orang-orang yang menganggap diri mereka intelektual, ironis sekali.

Namaku Bara, saya dan 42 orang lainnya adalah anak baru, malam ini malam terakhir kami ditempat ini dan kukira semua akan berjalan biasa juga menyenangkan, karena kami ada ditempat wisata. Beberapa waktu lalu mereka masih ramah, masih setia menemani kami meski harus ikut begadang karena presentase. Sekarang semuanya berubah, mungkin senyum mereka sore tadi semua palsu, kebaikan-kebaikan mereka dilapangan beberapa hari ini semua cuma akting, cukup masuk akal. Hanya dengan melihat perubahan malam ini, saya dan mungkin teman-teman lainnya akan berkata, "kalian telah menjebak kami, dengan kebaikan dan kata-kata manis perempuan-perempuan itu".

***
Di Kota ini tak ada ayam berkokok, hampir tak dapat kukenali tanda-tanda kapan pagi kan datang. Beruntunglah menjadi anak muda, badan masih bagus dengan tenaga dan stamina yang masih sangat kuat untuk begadang kemudian bangun cepat saat subuh. Itu salah satu adab kehidupan kota yang mau tak mau harus terus dibiasakan, karena jam tidur di kota beda dengan dikampung yang tiba-tiba menjadi sunyi senyap ketika waktu mulai melewati pukul 08.00 malam.

Hari ini mesti bangun cepat, para anak baru diharuskan berkumpul jam 05.30 pagi dan tak boleh terlambat barang satu detik pun. Tiada kata maaf bagi yang terlambat, karena hukuman tak mengenal alasan dalam jenis apapun, mau yang rasional, romantis, horor, apalagi dramatis, semua akan bernasib sama dihadapan mereka. Lantas bagaimana caranya supaya tidak terlambat, sedangkan waktu yang ditentukan bukan berdasarkan zona pembagian waktu yang lazim digunakan di Indonesia. 

Sejak pertama bersekolah sampai malam ini, belum pernah kuperas otak untuk memecahkan sebuah masalah, seperti ada tanda tanya besar yang harus terjawab sebelum mataku terpejam malam ini dan bangun besok subuh. Dan tanda tanya itu belum juga terjawab hingga mata terbuka dan ternyata waktu telah menunjukan pukul 04.07 subuh. Tumben bangun secepat ini, biasanya waktu bangunku jam 05.00 pagi dan lebih dikit, sepertinya otakku mulai terprogram secara otomatis menentukan waktu bangunku karena adanya alasan yang sangat kuat.

Jelas ini lebih dahsyat daripada ketakutan akan terlambat masuk kelas saat sekolah dulu, atau terlambat dan dikuncikan pintu pagar sekolah, atau bahkan ketakukan akan dimarahi guru karena terlambat. Ketakutan subuh ini jauh lebih kuat, sampai membangunkanku sebelum waktu rutin bangun tidurku. Kusambar handuk yang tergantung lemas dibelakang pintu, baunya masih dapat ditolerir hidung dan otak, artinya masih bisa dipakai seminggu lagi sebelum dicuci seadanya. Tak perlu waktu lama untuk mencuci badan, cukup 4 kali siram dan rasanya sudah seperti berendam dalam kolam renang disaat subuh, dingin.

Jalanan masih sunyi, hanya para pedagang sayur yang terlihat sesekali melintas, mereka memacu motornya  cukup cepat, mungkin dengan kecepatan 60-80 km/jam. Ini pemandangan rutin yang akan selalu kudapati saat berada di kota, dan ketika keluar rumah sebelum pukul 05.00 subuh untuk menunggu angkot tujuan kampus. Ada semacam Bau oli yang tak cukup kuat menusuk hidung, begini rupanya bau angkot yang baru keluar tuk mencari penumpang dipagi hari, ada musik disco dan sopir angkot asal Nusa Tenggara yang dengan cuek mengendalikan gas dan persenelan dari balik kemudi.

Dikejauhan susunan huruf kapital mulai terlihat, membentuk sebuah kata yang mencerminkan kebesaran dan keagungan sebuah kampus, tempat para siswa dibentuk sebelum layak menggunakan kata maha didepannya. Mahasiswa, kata itu begitu agung, sangat besar sampai mampu menggulingkan sebuah rezim yang telah berkuasa hingga 32 tahun lamanya, waktu yang cukup untuk membuat 1 generasi kehilangan ingatan kolektif tentang sejarah bangsanya. Mahasiswa sangat berbeda dengan siswa pada umumnya, yang terbiasa dengan sikap patuh dan mengikuti semua yang disampaikan guru, Mahasiswa tidak, dia mampu berpikir kritis dan berani menyuarakan pendapat atas ketidakadilan yang terjadi.

Kata maha didepannya merupakan cerminan suatu kebesaran, yang mengambil salah satu sifat maha dari tuhan untuk diturunkan ke bumi, begitu para senior mendoktrin setiap anak baru. Mahasiswa juga pembawa api perubahan, nyalanya akan terus berkobar disetiap zaman dan membakar semangat untuk bergerak melakukan perubahan, bergerak melakukan perlawanan atas ketidakadilan yang terjadi ditiap zaman. Sangat tidak gampang memegang tanggung jawab itu, setiap anak baru harus melewati tahap demi tahap proses pengkaderan yang berat dan keras untuk membentuk diri menjadi seorang Mahasiswa.

Angkot berhenti sebelum pintu gerbang kampus, ini hari pertama Pekan Orientasi Mahasiswa Baru, acara wajib untuk membekali dan membentuk siswa baru menjadi seorang mahasiswa. Putih hitam warna yang cukup akrab pagi ini, yang jadi simbol untuk mempersatukan para anak baru dan membedakan dengan para senior, mungkin ini salah satu bentuk diskriminasi tapi dalam dosis yang sedikit. 

"Jongkok ko!", "Masuk dengan jalan bebek!"

Teriakan demi teriakan menyambut dari dalam, olahraga pagi seakan menjadi seremoni pembuka acara, dan para anak baru menyambut dengan wajah senyum ceria, ini hal kecil, jalan bebek sepanjang 100 meter bukan sesuatu yang sulit. Satu persatu pasukan hitam putih berdatangan, menuju satu titik dihadapan tiang bendera dengan berjalan bebek. Diatas sana sang saka merah putih sepertinya sedang tidur, belum ada angin keras yang bangunkannya untuk kembali berkibar dengan bebas menantang angkasa. Semua pasukan putih telah berkumpul, genap berjumlah 43 kepala sedang berbaris rapi membentuk 9 barisan. Dihadapannya berdiri seorang senior yang menjabat sebagai koordinator lapangan atau Korlap yang bertugas memberikan arahan.

Setelah memberi salam, sang korlap melanjutkan,  "Waktu sudah menunjukan pukul 05.30 pagi, sebagaimana yang disepakati kemarin, selamat tak ada yang datang terlambat. Acara orientasi ini akan berlansung selama 4 hari, dimana 2 hari berlangsung dikampus dan 2 hari sisanya berlangsung di lapangan, tepatnya ditempat wisata". Segera disambut tepuk tangan semua anak baru. Sepertinya semua merasa senang dengan kebijakan para senior selaku panitia acara, dan merekapun para panitia merasa senang dengan antusias para anak baru.

Hari ini acara pembukaan, dan dibuka langsung oleh ketua jurusan, setelah itu para anak baru akan menerima beberapa materi pengantar yang berhubungan dengan mata kuliah pada jurusan dan tentang ke organisasian. Yang berkaitan dengan mata kuliah akan dibawakan langsung oleh dosen, sedangkan tentang organisasi dan ke ilmuan dibawakan oleh dewan senior. Sebelum memasuki ruangan, setiap anak baru diminta mengambil perlengkapan didekat pintu masuk, dan tidak lupa untuk mengisi daftar hadir. 

"Bubar!"

Senin, 26 Agustus 2019

Peran Habibie dan Teori Telapak Kaki dalam Pembangunan Kota Parepare

Ketika Membicarakan Provinsi Sulawesi Selatan, salah satu nama daerah yang wajib disebut adalah Kota Parepare. Sebuah Kota dibagian barat Sulawesi Selatan, yang menjadi tempat persinggahan dalam setiap perjalanan dari Makassar menuju bagian utara provinsi ini, atau menuju Sulawesi Barat, Tengah, maupun Sulawesi Utara. Kala bercerita mengenai Parepare, ingatan kita akan tertuju pada sosok seseorang yang pernah menjadi orang nomor 1 di negri ini, dia adalah Bacharuddin Jusuf Habibie, yang namanya kembali dikenang lewat film Habibie dan Ainun. Habibie merupakan mantan Presiden Republik Indonesia yang ke-3, atau satu-satunya orang Sulawesi yang sampai saat ini pernah menjabat sebagai Kepala Negara. Di Parepare dia dilahirkan, tepatnya pada tahun 1936 atau 83 tahun yang lalu, pada sebuah rumah dijalan Abdul Halim jantung Kota Parepare.
  
Pak Habibie adalah simbol kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang telah berjasa besar dalam dunia penerbangan khususnya pengembangan pesawat. Sebagai salah satu pemimpin bangsa, dia juga sukses memimpin Negri ini pada saat masa peralihan, dari era orde baru menuju era reformasi. Dan sebagai seorang suami, dia merupakan sosok lelaki yang sangat setia pada ainun istri tercintanya. Parepare yang merupakan tanah kelahirannya, akan sangat beruntung karena memiliki jejak salah seorang tokoh besar seperti Pak Habibie.

Dalam upayanya melakukan pembangunan disemua sektor, Kota Parepare membutuhkan sebuah konsep dan teori yang dapat menggabungkan image Habibie dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian mungkin Kota Parepare akan mendapat banyak keuntungan dengan menjadikan nama Habibie sebagai salah satu ikon Kota Parepare. Dan dengan konsep Telapak Kaki, akan lebih mempertegas bahwa ada sebuah cita-cita besar yang ingin dicapai Kota Parepare dalam upayanya membangun Kota dan Manusianya.

1. Peran Habibie Dalam Pembangunan Kota Parepare
Setidaknya ada beberapa gambaran dalam memori banyak orang ketika mensifati seorang Habibie, yaitu ; Cerdas, Pemimpin dan Cinta Sejati. Orang banyak akan selalu melekatkan kemudian mencari citra itu pada tiap aspek yang membawa nama Habibie. Karenanya, akan lebih mudah mengetuk ingatakan publik mengenai Habibie, ketika menggunakan simbol-simbol yang berkaitan dengan citra itu. Hal ini yang kemudian harus terus dilakukan pemerintah Kota Parepare saat ini, yaitu mengabadikan setiap momen masa kecil yang berkaitan dengan Habibie, dan menciptakan simbol yang dapat membawa ingatan publik semakin dekat pada sosok Habibie.

Sebagai salah satu tokoh besar, nama Habibie dapat menjadi magnet bagi pembangunan Kota Parepare. Ada berbagai ide pembangunan yang kemudian dapat digagas dengan menggunakan Habibie sebagai icon nya. Sebut saja museum BJ Habibie yang akan didirikan dirumah tempat lahir Habibie, ide ini sangat baik karena mendapat dukungan langsung dari Pak Habibie. Yang paling menarik adalah monumen cinta sejati Habibie dan Ainun, 

2. Teori Telapak Kaki Sebagai Konsep Dasar Pembangunan Kota Parepare
Teori telapak kaki dirumuskan oleh walikota Parepare Taufan Pawe, dalam upaya mewujudkan Kota Parepare menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Selatan. Sebagaimana yang seringkali dikatakannya kala menjawab pertanyaan tentang teori ini, Taufan Pawe menyebutkan, kalau di Parepare banyak telapak kaki yang datang, maka percayalah akan banyak sumber-sumber ekonomi baru. Dari pernyataan itu, ada harapan besar ingin membangun Kota Parepare namun dengan pendekatan yang berbeda, yang dianggap akan mampu membawa perubahan besar bagi Kota Parepare. Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah maksud dari teori telapak kaki tersebut?.

Telapak kaki merupakan bagian dari tubuh manusia yang terletak pada bagian bawah kaki. Kaki pada manusia berfungsi untuk berjalan, yang kemudian dapat membawa tubuh dan seluruh indra pada manusia menuju tempat-tempat yang diinginkannya. Kaki manusia Juga memiliki bagian-bagiannya sendiri, antara lain punggung kaki, mata kaki, jari kaki dan telapak kaki. Telapak kaki merupakan tempat kaki berpijak, karenanya bagian ini yang akan selalu merasakan nyaman atau tidaknya sebuah tempat berpijak. Sebagai tempat berpijak, telapak kaki kerapkali meninggalkan jejak yang akan menjadi penanda keberadaan seseorang disuatu tempat, atau penanda bagi orang lain dalam menentukan arah.

Dengan demikian, maka ada 2 (dua) kata kunci yang didapatkan ketika membahas telapak kaki, yang pertama tempat berpijak dan yang kedua sebagai penanda. Kedua kata kunci ini yang akan dikembangkan untuk membentuk citra baru Kota Parepare.

a. Sebagai Tempat Berpijak
Kota Parepare diharapkan dapat menjadi daerah tujuan orang, bukan hanya sebagai tempat persinggahan atau daerah transit sebagaimana yang dikenal selama ini. Penekanan konsep telapak kaki pada poin ini yaitu, bagaimana menjadikan Kota Parepare sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang untuk berpijak. Dengan demikian orang yang datang ke Kota Parepare akan memilih untuk tinggal lebih lama daripada hanya sekedar singgah. Sebagai tempat berpijak yang aman dan nyaman bagi semua orang, tentu saja Kota Parepare harus memperhatikan hal mendasar tentang apa saja yang dapat membuat orang lebih aman dan nyaman tinggal disebuah kota.

Salah satu jawaban yang mengemuka adalah kualitas infrastruktur kota yang baik. Selain kualitas infrastruktur, kenyamanan juga ditentukan oleh seberapa mudah dan cepat orang-orang dapat mengakses pedagang atau toko yang menyediakan semua kebutuhannya. Karenanya Kota Parepare dituntut menyiapkan segala macam infrastruktur digital untuk memudahkan para anak milenial mencari dan menemukan segala kebutuhannya yang berada didalam Kota. Dari semua itu, ada satu hal yang harus diperhatikan untuk lebih dikuatkan perannya, yaitu dengan lebih mengeksplorasi tema-tema yang berkaitan dengan Habibie.

Cara-cara itu sangat perlu untuk mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah apabila hendak membangun Kota Parepare menjadi pusat pertumbuhan baru. Karena untuk menjadikan Kota Parepare sebagai tempat berpijak yang baik bagi semua orang, adalah dengan cara membuat Kota Parepare menjadi tempat yang layak sebagai daerah tujuan semua orang, bukan sebagai daerah transit tapi sebagai daerah tujuan akhir.

b. Sebagai penanda
sebagai penanda, dengan pendekatan yang dilakukan berdasarkan pada teori ini, diharapkan setiap orang yang datang atau berkunjung ke Kota Parepare dapat meninggalkan jejak yang baik bagi orang berikutnya untuk datang atau berkunjung ke Kota Parepare. Artinya ketika seseorang datang ke Kota Parepare dan memiliki kesan yang baik selama berada di Parepare, maka itu akan menjadi cerita yang dibawa pulang dan akan diceritakan lagi pada teman, keluarga juga orang-orang terdekat mengenai pengalaman selama berada di Kota Parepare. Lewat cara-cara seperti ini penyebaran informasi mengenai Kota Parepare akan sangat cepat tersebar. Dan dengan cara ini kemungkinan bagi orang berikutnya untuk lebih percaya dengan informasi mengenai Kota Parepare akan sangat besar.

Disisi lain, jejak juga dapat menjadi sebuah penanda dan dari tanda itu diharapkan dapat menuntun orang-orang untuk datang ke Kota Parepare. Sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, kesan yang baik merupakan jejak yang baik, yang akan menjadi penanda, atau penuntun pada sebuah tujuan yaitu Kota Parepare. Teori telapak kaki dengan rumusan yang lebih detail sampai bentuk program pembangunan, diharapkan dapat membuat Kota Parepare selalu meninggalkan jejak yang baik bagi setiap yang datang dan pergi. Kesan yang baik terhadap suatu tempat atau sebuah Kota, memiliki banyak bentuk. Bisa berupa keramahan masyarakatnya, keunikan kotanya, keindahan kotanya, atau bahkan keunikan atraksi budaya atau kemeriahan penyambutan ketika seseorang datang ke sebuah tempat. Untuk mewujudkan hal itu maka Kota Parepare harus lebih berbenah, dan mengangkat ikon kota yang memiliki nilai unik atau tidak sama dengan kota lain, seperti Kisah Cinta Habibie dan Ainun, atau hal lain yang menyangkut Habibie kaitannya dengan pesawat maupun teknologi.

Sebuah tanda yang baik, kelak akan mengingatkan kembali orangnya atau orang lain tentang parepare. Artinya dengan menggunakan teori telapak kaki sebagai konsep dasar pembangunan Kota Parepare, bukan hanya mengajak orang untuk datang ke Parepare, tapi memanggil kembali orang-orang yang pernah datang ke Parepare karena memiliki memori indah di Kota Parepare, seperti yang terjadi pada Habibie saat ini. Sangat tidak mungkin bagi Pak Habibie melupakan Parepare yang merupakan tanah kelahirannya.

Rabu, 21 Agustus 2019

Kota Membunuh Desa

Telah bertahun-tahun urbanisasi menjadi masalah serius di perkotaan. Terjadinya perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota menyebabkan munculnya masalah-masalah baru di kota. Karenanya, berbagai program dan kebijakan pun dirumuskan untuk menahan laju urbanisasi. Salah satu tujuannya yaitu, untuk menciptakan pemerataan pembangunan antara Desa dan Kota, karena selama ini selalu dikatakan Desa cenderung lebih lambat berkembang daripada Kota.

Kenapa demikian?, mungkin karena sejak dulu istilah Kota dan Desa digunakan untuk menciptakan sebuah stigma kemajuan masyarakat dan lingkungan, dimana Kota menjadi simbol kemajuan dan Desa menjadi simbol ketertinggalan. Karenanya, masyarakatpun berlomba-lomba menuju kota untuk memperoleh hidup lebih baik dan tidak ketinggalan atau menjadi terbelakang.

Selain sebagai tujuan urbanisasi, kota juga menjadi tujuan investasi serta tempat tumbuh dan berkembangnya layanan jasa. Sebagai tujuan urbanisasi, kota dituntut mempersiapkan hunian lebih banyak untuk menampung besarnya jumlah penduduk yang datang. Sedangkan sebagai tujuan investasi, kota dituntut mempersiapkan lahan dalam jumlah besar untuk mendirikan bangunan-bangunan bertingkat, kawasan perumahan elit, atau bahkan gedung pencakar langit. Dan sebagai pusat berkembangnya layanan jasa, kota akan memiliki arus pergerakan orang dan barang yang akan semakin tinggi dari waktu kewaktu.

Dari sini dapat kita katakan, bahwa tumbuh dan berkembangnya sebuah kota kearah yang lebih modern, meniscayakan makin tingginya perubahan guna lahan yang akan terjadi. Banyak kota-kota besar di Indonesia yang saat ini tengah berkembang, tapi dalam prosesi itu mereka semakin kehilangan banyak lahan terbuka dan lahan persawahan. Maraknya pembangunan semakin mendesak arah pembangunan kota sampai kewilayah pinggiran, karena lahan yang tersedia didaerah pusat kota telah habis. Akibatnya daerah pinggiran juga terkena dampak perubahan tata guna lahan.

Saya ingin menggambarkan situasi ini dengan Teori Sistem Dunia (World System Theory). Ini merupakan teori yang membagi negara-negara didunia menjadi 3 bagian berdasarkan kekuatan ekonomi dan politik. Para perencana mengadopsi teori ini untuk menggambarkan kota beserta wilayah pengaruhnya. Mereka Kemudian mengelompokkannya menjadi 3 bagian yaitu ; Core atau daerah pusat kota, Semi Peripheri atau setengah pinggiran dan Peripheri atau daerah pinggiran. Daerah pinggiran awalnya merupakan basis utama pendukung kota, dia menyediakan hampir semua kebutuhan kota, dan ketika terjadi perluasan kawasan kota maka lahan-lahan didaerah pinggiranpun akan berubah menjadi kawasan kota. Gerak perkembangan akan mengarah keluar kota, menjangkau semua daerah-daerah sekitar yang sebelumnya masih minim pembangunan. Gerak ini dapat terbaca ketika munculnya area semi perpheri yang menjadi batasan atau area peralihan, sebelum daerah pinggiran kelak akan menjadi daerah kota.

Teori ini tidak menafikkan perubahan, tapi menjelaskan lebih lanjut bahwa gerak negara-negara didunia akan sangat tak terduga, bisa keatas juga bisa bergerak kebawah. Sebuah negara yang awalnya berada diatas atau merupakan negara inti, dapat bergerak kebawah dan berubah menjadi negara semi perheri atau bahkan peripheri. Begitupun sebaliknya dengan negara Peripheri, dapat bergerak keatas menjadi semi peripheri sampai pada tahap tertentu menjadi core, atau negara inti. Contohnya inggris dan spanyol, yang dimasa lalu merupakan 2 negara kuat, mereka memiliki armada laut yang besar, tapi setelah perang dunia kedua mereka turun kelas dan amerika naik kelas menjadi negara inti, sampai saat ini.

Dari teori ini kita dapat melihat 2 gerak kota yang akan sangat memberikan pengaruh pada daerah pinggiran sampai ke desa. Core sebagai daerah pusat pembangunan atau kita namakan kota, dalam perkembangannya akan menghasilkan gaya menekan dan gaya menarik. Gaya menekan Kota akan menekan sampai kedaerah pinggiran dan mempengaruhi penggunaan lahan. Daerah pinggiran yang bukan merupakan daerah pusat pemukiman, perkantoran, industri, perdagangan juga jasa, akan berubah karena intervensi kota. Akibatnya terjadi alih fungsi lahan-lahan pertanian dan perkebunan menjadi perumahan dan juga gudang-gudang industri. Semakin maju dan berkembang sebuah kota maka semakin kuat juga penetrasinya terhadap daerah sekitarnya.

Selain gaya menekan, kota memiliki gaya menarik sangat kuat. Gaya tarik ini bukan hanya mampu menarik penduduk untuk datang ke kota, lebih dari itu gaya tarik kota juga mampu menarik sikap dan perilaku masyarakat sekitar dan desa untuk mengikuti sikap dan perilaku masyarakat kota. Hal ini ditandai dengan kecenderungan masyarakat di sekitar kota dan masyarakat desa mempraktekan kebiasaan-kebiasaan masyarakat kota, seperti ; cara berpakaian, cara berbicara dan lain sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan ini awalnya dimulai oleh beberapa orang yang telah tinggal lama di kota, ketika mereka kembali ke desa, mereka tetap membawa kebiasaan di kota dan mempengaruhi masyarakat lain. Lama kelamaan hal itu semakin kuat dan diikuti lebih banyak masyarakat di desa, akibatnya lambat laun kebiasaan di desa menghilang, berganti dengan kebiasaan kota.

Hal itu juga turut berpengaruh pada corak bangunan dan berkurangnya lahan pertanian juga perkebunan. Bangunan-bangunan gaya pedesaan memiliki corak tersendiri, mereka sangat unik dengan desain khas yang mencerminkan karakter suku dan budaya, serta sangat kaya akan filosofi dalam tiap komponen bangunan, mulai dari jumlah komponen, jenis bahan, desain juga model atap. Semua telah diwarisi secara turun temurun dan dilakukan dengan tujuan menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya leluhur. Kini, di Desa mulai diisi dengan bangunan-bangunan permanen gaya perkotaan. Bentuk dan materialnyapun banyak mencontoh dari apa yang pernah diliat ada di kota. Dari penggunaan lahan, gaya tarik kota menyebabkan lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang banyak terdapat di desa, tidak mampu dipertahankan atau diteruskan. Salah satu alasannya yaitu adanya pergeseran pola hidup masyarakat desa. Para orang tua yang sebelumnya menggarap lahan di desa, apabila mempunyai anak mereka akan menyekolahkan di kota. Setelah lama bersekolah dan menetap di kota, kecenderungan untuk pulang dan melanjutkan menggarap lahan orang tuanya akan sangat kecil.

Suasana kota yang membuat hidupnya serba mudah, telah mempengaruhi hidupnya yang semula pekerja keras dengan tenaga lebih kuat, menjadi pribadi dengan tenaga yang tidak lagi kuat. Pola hidup di kota yang tidak seperti desa, akan mempengaruhi struktur ototnya dan membuatnya tidak mampu lagi melakukan pekerjaan keras seperti mencangkul dan menggarap sawah. Karena ketidak mampuan itu, sehingga tiada yang mengikuti hidup orang tuanya menggarap lahan di desa, akibatnya lahan itu menjadi tidak tergarap dan mati. Itu merupakan satu dari sekian banyak contoh. Contoh lain yang juga dapat mempengaruhi, seperti konflik internal, atau dijual karena sang anak membutuhkan dana untuk sekolah. Hal ini berbeda dengan sebagian orang cina, mereka tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, begitu selesai SMA akan langsung menerima tanggung jawab menjaga toko atau melanjutkan usaha orang tuanya.

Apakah semua itu salah?, tentu saja tidak. Sejak awal kota telah disimbolkan sebagai sebuah kemajuan, karenanya berbagai hal baru yang mencerminkan perkembangan zaman harus ada di kota. Kota memang sengaja dijadikan sebagai pusat kegiatan, ada perumahan disana, ada gudang dan berbagai macam industri, ada banyak bangunan-bangunan permanen dan segala fasilitas yang memudahkan masyarakat ada didalamnya. Sedangkan Desa, hanya menyiapkan bahan mentah tuk kebutuhan kota, hanya menyiapkan tenaga kerja untuk kebutuhan kota dan selalu diposisikan sebagai mitra yang baik, yang selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhan perkotaan.

Ada sebuah pertanyaan yang kemudian hadir dalam benak kita, "bagaimana kalau desa terkena pengaruh kota, apakah desa akan hilang dan berganti menjadi kota?". Bisa jadi demikian. Desa dan Kota memiliki identitasnya sendiri. Kota dengan masyarakat yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga sesama tetangga sekalipun tidak saling mengenal. Sedangkan Desa sebaliknya, masih ada hubungan kekerabatan disana, jangankan tetangga rumah, tetangga lorong dan jalan saling kenal. Ada banyak permasalahan yang diwariskan kota ke desa ketika desa akan bergerak menjadi kota. Seperti yang saat ini terjadi pada beberapa kota berkembang di Indonesia, mereka mencontoh jakarta, akibatnya mereka juga mendapati masalah-masalah baru yang sampai saat ini tidak mampu diselesaikan Jakarta, Banjir salah satunya.

Daya tarik kota bukan hanya menarik orang, tapi menarik desa agar berubah menjadi seperti kota, akibatnya desa akan mati dan mungkin juga akan menghilang. Karenanya, tiada lagi tempat pulang, sebagaimana fitra manusia yang selalu rindu ingin kembali ke asal, dan desa merupakan asal mula peradaban sebelum tumbuh menjadi kota yang modern. Seperti yang digambarkan Jalaludin Rumi dalam Puisinya "Nyanyian Seruling Bambu", disana ada nyanyian sedih seruling bambu yang sangat rindu ingin kembali ke asalnya (rumpunnya).

Penulis : Laode Muh. Azis Syahban, H

Jumat, 16 Agustus 2019

Kota Yang Menjaga Ingatan Kolektif Masyarakat

Bagi seorang perencana, merencanakan Kota Menuju kemajuan adalah sebuah visi besar yang sangat ingin diwujudkan. Ketika arah perkembangan pembangunan kota sesuai dengan yang telah direncanakan, ada rasa bahagia karena cita-cita mewujudkan kota yang modern akan terlaksana. Sebelum terwujud, gambaran tentang kawasan perkotaan dimasa depan sudah terlebih dahulu hadir dalam fikiran perencana.

Dengan demikian, sudah seharusnya bagi para planner tidak merasa asing lagi dengan perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lingkungan sekitar. Karena gambaran-gambaran perubahan itu sebelumnya sudah hadir dalam alam imajinasi, tahap demi tahap sampai kebentuk final perubahan yang ingin diwujudkan. 

Sebagai seorang perencana, saya cukup sering memikirkan hal itu, dan pada beberapa kasus saya mendambakan terciptanya sebuah kota yang ideal dengan kondisi lingkungan dan masyarakat yang baik. Sampai pada suatu ketika, saat saya pulang kampung dan berjalan kaki dipagi hari. 

Saya menyusuri kembali lorong-lorong setapak yang dulu selalu kami lalui bersama. Pergi ketempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan yang dulu jadi tempat kami bermain. Sambil mengenang kembali masa kecil yang selalu kami habiskam dibawah pohon mangga dan manggopa saat siang sehabis pulang sekolah sampai sore hari.

Sesaat saya termenung, setelah itu melihat kondisi sekeliling yang telah berubah dan berganti dengan banyak rumah baru. Sepertinya saya belum siap dengan perubahan. Ketika pulang kampung, saya berpikir ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa kecil. Sepertinya tidak akan terjadi, banyak yang telah berubah, mungkin ketika datang kembali tahun depan, saya akan merasa asing dikampung sendiri.

***
"Sebentar siang kita pergi jemput tanta Ati di bandara", kata istriku. Beliau datang dari Mataram Nusa Tenggara Barat, untuk merayakan lebaran idul adha di Raha bersama keluarga. Kira-kira jam 04.00 sore beliau sudah sampai di Raha. Setelah acara penyambutan yang berlangsung secara alamiah, tanta At duduk di sofa untuk meluruskan badan dan kaki yang lelah sehabis perjalanan jauh.

Mereka sudah tinggal ditengah kota sebelum tahun 80. Dulu didepan edras, setelah itu pindah dibelakang gedung perkantoran milik Pemerintah Daerah saat ini. Lama kami bercerita, saya juga ingin mendengar pendapatnya tentang apa yang berubah sejak terakhir kali dia tinggalkan Raha dan menuju Mataram. Mungkinkah dia dan orang lain yang cukup lama meninggalkan Raha juga merasa asing ketika pulang, entahlah.

Saya cukup penasaran dengan muna jaman dulu, bagaimana lingkungannya, bagaimana gedung2nya, bagaimana jalan-jalannya dan bagaimana orang-orangnya. Menurut tanta At, dahulu sekitar tahun 80an, ketika 17 an orang-orang melaksanakan upacara bendera di makam pahlawan. Saat itu cukup ramai, karena dalam kawasan makam pahlawan ada pelataran cukup luas untuk melaksanakan upacara bendera.

Dulu Makam Pahlawan berada didalam Kota Raha, tepatnya di pengadilan dan kantor camat Katobu saat ini. Pabila orang-orang ingin mencari Makam Pahlawan hari ini atau besok, mereka tidak akan mendapatinya lagi didalam Kota. Karena sudah dipindahkan di Kecamatan Watopute yang letaknya berada cukup jauh keluar Kota Raha. Untuk kesana harus melewati Hutan Warangga.

Entah apa alasannya, semoga ada alasan historis kuat yang melatar belakangi. Padahal akan cukup bagus pabila dipindahkan pada lokasi lain yang masih dalam Kota, mungkin lebih baik lagi kalau dipertahankan. Seperti dibeberapa daerah yang pernah kukunjungi, Makam Pahlawan berada didalam Kota, ditetapkan sebagai RTH yang dijaga dan menjadi salah satu ikon kota.

Dengan demikian, tiap perayaan 17 Agustus orang-orang bisa mengikuti upacara atau berziarah ke Makam Pahlawan. Biar bagaimanapun, kondisi nyaman, kesenangan dan kebebasan yang hari ini kita rasakan, semua berkat jasa para pahlawan. Jangan pernah ada niat untuk menjauhkan pahlawan dari ingatan kolektif masyarakat.

Banyak yang berubah sejak tahun 80an, katanya. Tau masjid agung didepan RSUD lama?, dulu disitu stadion olahraga, stadion sepak bola tepatnya.

"Saya masih ingat pasar lama di alun-akun sekarang, dulu waktu terbakar saya masih SD", kataku. 

"Oh, itu pasar kedua, dulu itu pasar didekat pertokoan sana, digedung bulog yang sekarang", sanggah tanta Ati.

Sebelum dipindahkan, pasar itu dulu terbakar, mungkin itu kebakaran paling hebat yang terjadi didalam Kota Raha. Api menyala sangat besar, drum-drum bensin, solar dan minyak tanah beterbangan diudara seperti kembang api. Masyarakat di jalan Sangke Palangga sekarang, lari sampai ke Gunung Benyamin untuk menyelamatkan diri. Para orang cina lari sampai Warangga, mereka meninggalkan toko beserta isinya, hanya membawa karung uangnya.

"Kalau kantor bupati dulu dimana?, tanyaku lagi. 

Kantor Daerah dulu didepan sana, dikantor perhubungan sekarang. Sebelum jadi Kantor Daerah/ Kantor Bupati, dulunya itu adalah asrama tentara. Tapi dulu didepannya kantor, laut, belum ada baypass dan dikantor DPRD lama masih bukit-bukit. Baypass ada setelah Pemerintah Daerah saat itu melakukan penimbunan laut.

"Berarti Pak Ridwan bukan orang pertama yang lakukan reklamasi pantai", kataku dalam hati.

"Dulu masih banyak pohon jati disitu", tangannya menunjuk kearah jalan poros Raha-Tampo. Jompi juga dulunya masih bagus, saat malam orang bisa datang, karena penerangannya cukup bagus. Saat PORDA jompi digunakan untuk cabang olahraga tenis dan renang, waktu itu kolam renangnya bagus sekali. Airnya selalu bersih dan selalu jernih, bagaimana tidak, dekat situ ada air terjun yang airnya jernih dan bersih, jadi gampang sekali kolam renang dibersihkan dan ganti air.

Sebelum PORDA jompi juga dibersihkan untuk tempat wisata, jadi orang-orang se Sulawesi Tenggara dulu kenal jompi sebagai tempat wisata yang ada dalam Kota Raha. Saat dibersihkan, palang pintu air dibuka seluruhnya, dengan begitu semua kotoran berupa dedaunan dan lumpur yang mengendap didasar sungai, bersih karena terbawa arus sungai yang deras. Setelah bersih dan dasarnya menjadi jernih kembali, pintu air ditutup seperti semula.

"Kalau bioskop bagaimana?", makin lama mendengar ceritanya, saya jadi makin penasaran dengan keadaan Kota Raha jaman dulu.

Ada di toko sana, gedungnya masih ada sampai sekarang, hanya kurang tau juga kalau sudah jadi gudang atau yang lain. Dulu bioskop sangat ramai, jadi salah satu tempat berkumpul orang-orang dan anak muda kala itu. Mama tua biasa jualan didepan bioskop kalau sore, tanta Ati biasa ikut. Ada orang cina, saya lupa namanya, kalau lewat dan ketemu saya, biasa kasi tiket nonton. Waktu itu tanta Ati masih kecil, dia cuma bilang, "ini karcis panggil teman-temanmu nonton".

Karena anak-anak mungkin dia sengaja kasi karcis nonton ke kami. Film yang diputar untuk karcis itu, judulnya "Ratapan Anak Tiri" yang dulu lagi tenar. Tapi semua senang saat itu, tanta At awalnya kaget karena baru pertama kali nonton dilayar yang sangat besar. Dulu itu belum ada televisi, tapi saat televisi mulai masuk, orang-orang mulai sedikit yang nonton di bioskop. 

Sayang sekali, padahal saat ini bioskop kembali ngetren, dan banyak orang lebih suka nonton di bioskop daripada nonton dirumah. Film-film yang ditawarkan juga lebih bagus dengan kualitas gambar dan suara lebih baik daripada televisi ataupun laptop dan komputer.

Lama kami bercerita, mungkin tepatnya tanta Ati yang bercerita dan saya sebagai pendengar setia. Saya menarik beberapa kesimpulan, salah satunya adalah, hampir tidak adalagi bangunan sebelum tahun 80 yang ada dalam Kota Raha. Bangunan yang ada dalam Kota saat ini, mungkin hanya bangunan dibuat setelah tahun 80.

Bangunan lama dengan nilai sejarah tinggi atau bukti sejarah yang telah berumur, bagaimanapun kondisinya, telah menyimpan begitu banyak memori kolektif masyarakat. Ada banyak kisah dan kenangan didalamnya, yang sekali waktu ketika merasa kangen, generasi setelahnya dapat mengunjungi dan peroleh banyak manfaat serta pelajaran darinya.

Kota boleh saja menjadi berkembang dan berubah modern, tapi jangan sampai menghilangkan secara keseluruhan kenangan masa kecil. Kedepan, mungkin harus ada kebijakan pembangunan dari Pemerintah yang lebih bisa mempertahankan bangunan lama yang bernilai historis. Mungkin untuk bangunan pemerintah yang telah berumur 30 tahun lebih, tak boleh dirubah seluruhnya, hanya boleh direnovasi. Hehe.

***
Hari ini sudah hampir 2 tahun saya menetap di Raha dan belum lagi keluar daerah, sepertinya saya sudah tidak merasa asing lagi. Saya kepikiran ingin menjaga keadaan Kota Raha saat ini dalam bentuk dokumentasi gambar dan tulisan. Mungkin 50 tahun dari sekarang, ada orang seperti saya yang akan sangat penasaran dengan keadaan Kota ini dan membandingkan dengan kondisi saat itu. Semoga penasarannya akan sedikit terobati dengan melihat foto-foto dan tulisan dari saya, semoga saja.

Penulis : Laode Muh. Azis Syahban, H