Neuroplanologi - Bahagia Untuk Menjadi Kuat

Kota Bahagia adalah Kota yang mampu memberikan kebahagiaan bagi warganya. Saya ingin memulainya dari defenisi yang sederhana tentang Kota Bahagia, sesederhana yang saya pikirkan tentang jalan kebahagiaan.

Urbanisasi dan Masyarakat Kota

Urbanisasi muncul karena ada kebutuhan, begitupun dengan kota sebagai sebuah peradaban. Kota lahir karena kebutuhan, bukan secara alamiah, melainkan dibentuk dengan sengaja oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Neuroplanologi - Jalan Menuju Kota Bahagia / Happy City

Mungkin sudah saatnya sebuah pendekatan baru lahir, dengan memadukan disiplin Planologi dan Neurosains untuk mewujudkan sebuah kota yang bahagia. Dengan kajian yang lebih fokus membahas sebuah perencanaan yang lebih memberikan pengaruh terhadap saraf otak dan membuat manusia lebih bahagia. Semoga tak terlalu dini, saya ingin menyebutnya sebagai NEURO PLANOLOGI.

Silverqueen - Berhenti Menangis

Selalu ada kisah haru pada malam-malam disaat musim hujan yang pernah kita lalui bersama. Kau disana, dan aku disini, hanya kita berdua. Belum cukup setahun kita kenalan, tapi rasanya sudah bertahun-tahun kita berteman. Sangat akrab, dan kau selalu saja buatku rindu.

Pak Udin, Penjaga Tradisi Suku Bajo Mola di Wakatobi

Pak Udin merupakan seorang Suku Bajo yang berasal dari Mola, pemukiman suku bajo terbesar didunia yang berada di Pulau Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. Layaknya suku bajo yang selalu dikatakan dalam berbagai literatur, pak udin sangat menggantungkan hidupnya pada laut.

Selasa, 30 April 2019

Jompi - 6 Orang Penebang Kayu (Bagian 3)


Ada sebuah cerita bahwa air biru merupakan salah satu area yang dikeramatkan diwilayah jompi, tidak sembarang orang dapat mandi dan berenang disitu. Melihat air biru dari sini adalah melihat sebuah keindahan, air berwarna biru yang diatasnya terdapat batu besar menyerupai penutup.

Sekitar 1 meter dibelakangnya terdapat tebing batu yang cukup tinggi, tebing batu berwarna coklat keputih-putihan, seperti yang terdapat didalam gua. Tingginya kurang lebih 10 meter, menjulang keatas dan membuat kami takjub. Setiap kali datang di Jompi, tempat ini merupakan salah satu yang selalu membuat kami berhenti untuk melihat-lihat sambil menikmati keindahan alam.

Tak jauh didepannya ada mata air, mata air ini adalah penanda bahwa kami telah memasuki area pemandian mata 2. Kami melalui jalan tanah dengan membuka sendal, sebelum sampai di mata air, kami harus turun melewati pipa baja besar yang sedikit terendam air.

Ada 2 pipa besar peninggalan jaman belanda, yang memanjang dari bak besar diatas mata 3 sampai kerumah pompa diatas air terjun. Masih dengan membuka sendal, kami berjalan diatas pipa baja besar yang bersusun sampai ketempat tujuan kami di mata 2.

Sebagian dari kami telah membuka baju sedari tadi, saat sampai di mata 2 kami menaruh baju dan sendal di bebatuan, kemudian dari atas pipa baja ini kami melompat bersama-sama kedalam air.

Dari dalam air ada yang menyelam menuju batu besar ditengah sana, dan sebagian naik kepermukaan dan berenang kembali ke pipa. Kami terus melompat dan menyelam sampai kedasar sungai, ada pula yang berenang dengan gaya belakang dan ada juga yang mengapung dipermukaan dengan hanya kepala yang muncup diatas air.

Gaya mengapung adalah salah satu teknik yang juga kami kuasai, dimana leher sampai kaki berada didalam air dan hanya sebagian leher dan kepala yang berada dipermukaan air untuk bernapas. Kami dapat melakukan gaya mengapung seperti ini sampai beberapa menit di air tanpa capek atau kesemutan.

Ditengah sana ada sebuah batu besar, cukup besar hingga bagian atasnya sedikit terlihat keluar dari permukaan air, disitulah tempat kami beristrahat saat berenang. Aku sedang duduk diatas batu besar ini, melihat keatas sedang menikmati langit biru yang luas dan sedikit berawan. Dedaunan pohon besar yang tinggi menjulang jauh keatas, membingkai langit biru nan indah dalam pandanganku, sangat indah. Diatas pipa baja hitam 3 orang temanku duduk berbaris, sedang asik bercerita suatu hal yang tak kuketahui. Entah apa yang diceritakan, saya hanya menangkap wajah ceria mereka yang sedang tertawah terbahak-bahak.

Air didepanku berbunyi keras, karena hantaman tangan-tangan kuat yang sedang beradu cepat. 2 orang temanku sedang lomba berenang, La Angko dan La Firman, dengan gaya bebas mereka melaju berusaha saling mengalahkan. Tinggal sedikit lagi dan La Firman akan memenanginya, tapi La Angko dengan sigap menarik kakinya, menariknya kebelakang dan berusaha memenangi lomba.

Ini lomba yang telah berkali-kali mereka lakukan, dan hasilnya selalu saja sama, berakhir dengan tanpa ada yang menang dan kalah. Tarikan La Angko akan dibalas kuncian tangan oleh La Firman, dan merekapun akan melakukan gulat air, layaknya pegulat profesional yang sedang memperebutkan medali emas olimpiade.

"Ooii, apa kobikin menghayal disitu, kayak putri duyung saja" teriak La Endo kepadaku
Saya melompat kedalam air kemudian menyelam sampai ke pipa tempat mereka berkumpul.

"Koliat tadi dalam hutan, banyak orang tebang kayu to?" Tanya La Firman kepadaku
"Iya saliat"
"Bemana kalo kita tebang juga?", tiba-tiba dia mengulangi pertanyaannya
"Itumi dari tadi juga sapikir-pikir, kan banyak kita, 6 orang pasti bisa kita bawa keluar" sambung La Elang, "Baru lagi mahal sekarang harga kayu"
"Berapakah 1 batang?", tanyaku penasaran, yang kemudian dijawab oleh La Firman
"Yang panjang 2 meter saja bisa sampe 500 ribu"
"Wuih, 1 pohon saja bisa dapat 1 juta"
"Teusah pikir pembeli, sekarang banyak orang tampung kayu jati, mumpung belom habis jati"
"Iya di, daripada dorang kasi habis sendiri"
"Selama ini kita hanya ambil batang-batang yang kecil seukuran paha, laku juga dijual jadi pagar, to?"

"Apalagi kalo batang besarnya". Nada bicaranya semakin mendesak, tentu saja ini peluang bagus untuk lebih cepat dapat uang. Apalagi uang jajan kami kesekolah selalu pas-pasan, bahkan seringkali tanpa uang jajan, dan kami menahan lapar sampai waktu pulang sekolah.

Akhir-akhir ini memang penebangan kayu jati semakin ramai, banyak anak seumuran kami jadi penebang jati dan ikut dalam kelompok-kelompok kecil penebang jati. Penebangan jati biasanya dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 3 orang, 2 orang secara bergantian menebang kayu dengan kampak, sedangkan 1 orang lagi memantau situasi dan memberikan kode ketika ada polisi atau ada gangguan lain yang mengancam. Ketika ingin mengangsur kayu, mereka akan memerlukan bantuan 2 orang lagi. 1 orang akan bertugas memantau situasi, sedangkan 4 orang lainnya akan mengangkat kayu keatas gerobak, setelah itu 1 orang dari mereka akan beralih tugas menjadi pengendali gerobak, dan 3 sisanya mendorong dari belakang.

Memotong dan mengangkut semua dilakukan pada malah hari, ketika malam telah larut sekitar jam 10, apabila kondisi tidak memungkinkan atau sedang ada patroli, pengangkutan akan dilakukan saat subuh sebelum shalat subuh. Begitupun ketika penebangan dilakukan, semua tak dilakukan hanya dalam semalam, melainkan beberapa malam, mulai dari memantau, memotong dan mengangsur.

“Kamorang sudah yakin mau tebang jati kah?" tanyaku pada yang lain
La Firman hanya menjawab singkat, "Kalo kosetuju jadi, kalau tidak, pikir-pikirmi dulu"

"Sebentarmi kita bicarakan kone itu, kita berenang dulu sekarang" kata La Endo. Kemudian saya ikut melompat kedalam air, menyelam jauh sampai kedasar sungai. Saya memegangi pasir halus yang ada didasar, juga melihat bebatuan berumur puluhan tahun yang sejak lama menghuni dasar sungai ini. Ketika mataku melihat kedepan, kusaksikan jernihnya air sampai batas akhir jarak pandang, seperti membentuk sebuah tembok biru.

Kami masih terus berenang, tapi pikiranku sedang gelisah memutuskan apakah setuju atau tidak untuk jadi penebang kayu. Banyak resiko yang tentu saja akan kami hadapi ketika jadi penebang jati, dari kecelakaan besar dalam hutan sampai resiko terburuk yaitu ditangkap polisi yang sedang patroli.

Saya masuk lagi kedalam air kemudian menyelam sampai kedasar, mencari batu yang cukup halus untuk meggosok belakang. Kami biasa melakukannya, bersih-bersih belakang dan seluruh badan dari kotoran hasil endapan keringat yang menempel di belakang, lengan dan juga paha sampai betis. Kami melakukannya berpasang-pasangan dan saya berpasangan dengan La Endo. Saya memulai dengan menggosok belakangnya, setelah selesai La Endo akan balas menggosok belakangku dengan batu yang tadi kami ambil dari dasar sungai. Sungainya tak begitu dalam, mungkin Cuma sekitar 3 meter dengan air yang sangat jernih, apabila dilihat dari atas maka dasar sungai yang berpasir dengan bebatuan kecil akan sangat keliatan.

Bersambung...

Senin, 29 April 2019

Jompi - Hutan dan Kesenangan Masa Kecil (Bagian 2)


“Tapi kau yang angkat kasi lewat itu kali yang disana”, tawanya kembali meledak, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. La Angko adalah orang yang selalu membuat kami tertawa, dalam kelompok kami, dia seorang pelawak yang tak pernah kehabisan bahan untuk membuat orang lain tertawa. Kalaupun bukan dengan cerita-cerita lucu, ekspresi wajah ataupun gaya bicaranya sudah cukup membuat kami tertawa untuk beberapa saat.

“Ayomi kita jalan pale, nanti bisa malam kalo trolama kita temani ini kayu jati”, kataku pada yang lain. Dan kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Apabila melewati hutan, jarak menuju jompi tidak terlalu jauh, hanya saja jalanan yang berbukit dan berbatu membuat waktu tempuh kami sedikit bertambah.

Masih dalam formasi berbaris memanjang kebelakang, kami berjalan menyusuri hutan jati. Didepan sana terlihat sebuah bukit kecil, bukit dengan tanah hitam berbatu yang telah biasa kami lewati. Sesekali oleh kami terdengar bunyi mobil truk dari kejauhan. Kicauan burung yang bersahut-sahut serta bunyi daun jati yang saling beradu ketika ditiup angin, menemani perjalanan kami menyusuri hutan jati yang sangat luas.

Melihat hutan jati dari dalam sangat jauh berbeda dengan hanya melihatnya dari luar, atau dari kejauhan, atau bahkan hanya mendengar cerita orang maupun kisah-kisah dalam tulisan. Pohon-pohon jati ini sangat tinggi, melihatnya menjulang keatas, seperti daun pohon ini sedikit lagi akan menyentuh awan. Pada batang dan beberapa cabangnya, terdapat tumbuhan anggrek yang sangat indah, ada yang telah berbunga namun ada pula yang tidak berbunga, hanya berupa daun hijauh memanjang dan melengkung kearah bawah. Oleh orang-orang di Muna, tumbuhan itu disebut sebagai “Anggrek Hutan”.

"Tidak dirasa to?
"Iya, itu sudah kelihatanmi jompi",
"Kalo lewat jalan tadi, pasti panas",
"Tepapa juga kalo panas, kan mau mandi juga dijompi"
"Kalo begitu besok coba kolewat dijalanan sendiri, kita lewat disini saja, bemana?"
"Kalo kotemani samau" canda La Angko ketika menjawab pertanyaan La Firman

Dari sini jompi sudah terlihat, air terjun yang letaknya paling depan terlihat jelas dari atas sini, untuk sampai kesana kami punya 2 pilihan jalan, lewat lapangan tenis atau lewat pintu gerbang sebelum jembatan. Dan kami memilih lewat pintu gerbang masuk.

Sebelum itu kami harus menuruni bukit, hanya ada 1 jalan menurun yang tidak cukup lebar, bahkan untuk dilewati 1 orang pun harus berhati-hati. Permukaan jalan tanah yang berbatu, cukup miring dan kadang menjadi lebih licin ketika tiba musim hujan. Kami melewatinya dengan perlahan dan La Endo memulainya dengan jalan paling depan, kemudian secara berurutan kami mengikutinya dari belakang. Atas petunjuk dari La Endo kami harus jalan ataupun berhenti untuk sesaat, dijalan yang kecil dan licin seperti ini kami selalu butuh seorang yang pemberani seperti La Endo. Kami selalu mangandalkannya, karena sudah beberapa kali dia menunjukan sikap yang lebih berani dari kami semua.

"Berhenti dulu" la endo memberi aba-aba dengan mengangkat tangan kanannya.
"Kenapa Hen?"
"Ada batang kayu didepan, tapi tidak terlalu besar, bisa sakasi pindah dulu".

Dia memindahkan batang kayu itu seorang diri dan kami tak dapat membantunya. Jalan ini tidak cukup bagi 2 orang untuk bersisian, kalaupun cukup, jurang disamping kanan dan tebing tanah disamping kiri akan sangat berbahaya bagi kami semua. La Endo dan kami sangat paham akan hal itu, karenanya dengan sikap pahlawan dia tak pernah mengeluh sedikitpun apabila mendapat kondisi seperti itu.

"Oke, jalanmi", kata La Endo yang kemudian disambut teriakan kami semua "Siaappp".
Kami lalu menuruni bukit. Didepan sana ada sungai kecil mirip saluran air, diatasnya dipasangi papan kayu sebagai jembatan bagi orang-orang yang ingin lewat. Setelah melewatinya, jalan menjadi cukup lebar, meskipun masih jalan tanah tapi cukup datar bagi kami untuk mempercepat langkah. Tak butuh waktu lama, kami telah sampai dijembatan pintu gerbang Jompi.

Didepan sana air terjun, arusnya cukup deras, sedangkan dibawah seperti sebuah mangkok kaca hijau berisi air bening yang diletakan dibawah air terjun. Air terjun ini merupakan sebuah bendungan yang dibangun sejak zaman belanda, untuk mengatur kekuatan aliran arus sungai. Kami melihat-lihat dari atas dan kepikiran untuk ikut berenang, apalagi sore ini cukup banyak anak-anak seumuran kami dan yang sedikit lebih dewasa juga berenang disana.

"Bemana, kita mandi disini saja?, tanyaku pada La Endo
"Trobanya orang disini bela, coba koliat, semua batu besar dibawah sudah ada yg pake, tiada tempat istrahat"
"Iya, masa kita mau berenang terus dan tidak istrahat?"
"Kalo La Angko mungkin bisa"
"Bisa juga, tapi kokasi napas bantuan kalo sa pingsan Firman"

Ada seorang anak, kira-kira usianya sedikit lebih tua dari kami, dia sedang memanjat rumah pompa dibagian kanan atas air terjun, dengan cepat dia memanjati bangunan tua yang sudah tak beratap itu. Dan dia telah sampai diatas, dengan sedikit memperbaiki tempat pijakannya dia kelihatan sedang bersiap untuk melakukan sesuatu.

Tempat itu cukup tinggi bagi anak-anak bahkan orang dewasa, dari permukaan air dibawah sampai dipuncak sana tempat anak itu berdiri, kira-kira tingginya sekitar 10 hingga 12 meter. Melihatnya saja saya merasa cukup ngeri, apalagi ketika sedang berada disana.

Anak-anak yang sedang berada dibawah mulai menghindar secara perlahan, sepertinya mereka sedang mengosongkan area bagian tengah air terjun. Tak lama kemudian si anak yang berada diatas bangunan tadi mulai melompat, dia melayang diudara, dengan gaya terbang ala bintang film. Wuush, dan dia jatuh dengan sempurna, tak ada yang sakit sedikitpun, karena sebelum menghantam air, dia dengan cepat merubah gaya seperti udang untuk mengantisipasi rasa pedis didada akibat menghantam air dari tempat tinggi.

Itu adalah teknik yang hampir dimiliki semua anak seumuran kami, yang terbiasa berenang di air terjun jompi. Kami pun memilikinya, hanya saja untuk melompat dari tempat yang sangat tinggi membutuhkan keberanian yg besar.

"Kobisa lompat dari situ Hen?" tanya La Angko
"Sabelom pernah lompat begitu, kalo jatuh duluan kaki saberani"
"Sateberani saya e, kalo dari atas air terjun sini saberani, paling hanya 8 meter tingginya kalo disitu" sambil menunjuk bagian atas bendungan.
"Jadi kita mandi di mata 2 saja kalo begitu"
"Ayomi pale, daripada cuma nonton orang disini"

Sebelum mata 2, kami melewati mata 1, disini banyak orang sedang mencuci, ada yang muda dan ada juga yang tua. Kawasan mata 1 merupakan tempat mencuci dan bermain anak-anak kecil, airnya tidak dalam hanya sebatas pinggang orang dewasa yang sedang berdiri. Kami kembali berjalan, melewati jalan tanah kecil yang dipermukaannya muncul akar-akar dari pepohonan besar disamping kanan dan kiri. Jompi merupakan kawasan hutan lindung berbukit yang juga dipenuhi pohon jati, terdapat sungai bersih nan jernih yang memanjang dari dalam hutan sampai kelaut, dan terdapat cukup banyak pohon besar lainnya.

Lewat bawah kami menyusuri sisi sungai menuju mata 2, sungai dikiri dan tebing batu dikanan menemani perjalanan kami. Didepan sana ada air biru, begitu orang-orang menyebutnya, dikarenakan airnya yang biru sementara dasarnya berpasir dan sedikit berbeda dengan air dibagian lain. Langkah kami hentikan sejenak untuk melihat-lihat air biru, tak ada yang berani berenang disini termasuk kami.

Bersambung...

Minggu, 28 April 2019

Jompi - Cerita Dari Masa Lalu (Bagian 1)


Kasihan Jompi, tempat yang dulu selalu ramai, sekarang seperti hutan tak terjamah. Jalan tanah menyusuri hutan yang dulu selalui dilalui banyak orang, kini dipenuhi semak belukar, pertanda sangat jarang dilewati. Dahulu ketika ke mata 2, seringkali kami berpapasan dengan orang lain yang berlawanan arah, saat datang maupun pulang, permandian ini tak pernah sepi oleh pengunjung.

Tapi  kini semua itu seperti cerita dongeng, penebangan kayu secara liar merusak nilai wisata kawasan ini. Jompi seakan diisolasi dari pengunjung dan orang ramai, demi memudahkan penebangan dan pengangkutan kayu lewat sungai. Untuk kerusakan yang telah terjadi, banyak pihak yang harus bertanggung jawab.

***
Kebun coklat ini tidak cukup besar, tanahnya tak terlihat lagi karena tertutup banyaknya dedaunan coklat yang mengering. Saya harus melewatinya  untuk sampai dibagian samping rumah temanku, namanya Hendrawan, biasa dipanggil La Endo.

"Heen, Heen", dari samping rumah saya memanggil namanya, saya terus memanggil karena cukup lama tak mendapat jawaban. Tak puas memanggil dari samping, saya menuju kedepan, tepat didepan pintu masuk rumahnya kemudian saya berteriak, "Heeeen".

"Ssssssttt, jangan keras-keras, masih tidur orang didalam", saya cukup kaget ketika tiba-tiba dia menjawabku, suaranya berasal dari bagian samping kanan rumahnya.

"Maaf, bemana kotidak menjawab sapanggil dari tadi", sambil senyum-senyum karena malu saya datang menghampirinya.

Seperti biasa, disore hari temanku ini sangat sibuk dengan ayamnya, dimulai dari memberi makan, memandikan, mengurut sampai menjemur ayam jagonya. Rambutnya masih acak-acakan, dan bagian kulit telinganya masih agak basah oleh air cuci muka, "berarti dia habis tidur siang beberapa waktu lalu", kataku dalam hati.

Kedatanganku tidak mengagetkannya, karena siang tadi kami sudah bertemu sewaktu pulang sekolah, dan janjian akan pergi ke Jompi sore ini.
"Bemana, jadi kita pergi dijompi to?" saya bertanya untuk memastikan kesiapannya.
"Iya jadi, tapi tunggu sebentar, saganti dulu baju n celana", lewat pintu samping diapun masuk kedalam rumahnya. Tak lama berselang adiknya La Elang keluar, kemudian disusul kakaknya La Firman dan dia yang terakhir, dari penampilannya sepertinya mereka sudah siap untuk jalan.

Sambil melangkahkan kaki keluar untuk meraih sendalnya, La Elang bertanya padaku, "La Aman mana?", saya belum sempat menjawab ketika adikku muncul dari samping rumah dan menjawab, "hadir". "Sakira koteikut, samau singgahi sebetulnya, karena kau yang tadi bilang mau pergi", kata La Firman yang disambut tawa kami semua.

Kami bergegas melewati jalan setapak, disamping kirinya tumbuh subur bambu kecil yang tersusun rapi menjadi pagar.
"Kita singgahi juga La Angko e?" kataku pada yang lain.
"iya, karna tadi debilang mau ikut juga, tapi deminta disinggahi”.

Tak berapa lama kami telah sampai didepan rumahnya, nampak La Angko sedang duduk dikursi depan rumahnya. "Angko, sinimi kita jalan", kata La Firman. Dengan bergabungnya La Angko berarti semua telah berkumpul, perjalanan menuju jompi pun dimulai, saya menawarkan supaya lewat dihutan karena dijalan raya masih panas oleh sinar matahari. Dan merekapun setuju.

Untuk menuju hutan, kami melewati jalan raya dan beberapa rumah penduduk, lorong kecil yang tidak begitu besar membuat kami membentuk formasi berbaris layaknya semut. Didepan sana hutan telah terlihat, ada pohon bambu disebelah kanan, pohon jambut mete yang disebelah kiri jadi penanda batas kebun warga. Jalan tanah yang terbentuk secara alami karena seringkali dilewati, tersambung jauh sampai menembus hutan, memanjang kedalam lalu hilang diantara rimbunnya semak belukar.

Sebelum memasuki hutan kami melintasi sungai mati, cukup lebar dan dalam hingga melewati kepala, sampai harus turun dan kemudian memanjat kembali tanah disisi sebelah untuk melewatinya. "Maju terus" kata La Angko yang jalan kedua dari depan, dia berteriak lantang kemudian tertawa, "coba liat, kotor bajunya" sambil mengejek dia menunjuk kearahku dan tawanya disambut tawa yang lain. Memang tadi sewaktu turun kedalam sungai saya tergelincir tapi tak sampai jatuh "salah injak tadi saya, untung tidak jatuh", kataku yang ikut tertawa.

Kami terus berjalan, memasuki hutan jati yang luas dengan semak belukar yang rimbun, sesekali kami bernyanyi, kadang lagu yang serius kadang pula lagu yang menggembirakan, atau hanya sekedar nana nana untuk menghibur diri.

"Coba lihat ini pohon-pohon jati, banyak skali, mungkin hanya di Muna ada hutan jati banyak bgini"
"Iya juga, temungkin ditempat lain ada hutan jati yang luas kayak di Muna"
"Lama sekalimi ini hutan jati, sudah dari jaman belanda katanya orang tua"

Tak jauh dari tempat kami, ada pohon rebah yang masih basah, dari kondisinya sepertinya baru beberapa hari ditebang. Dengan penuh curiga kami mendekatinya.

"Coba liat isi dalamnya" sambil menunjuk kearah batang jati yang telah ditebang orang, "sudah coklat, tua sekali ini kayu, pasti keras, yang begini tidak mampan digigit rayap, bisa patah giginya".
"Jangankan rayap, kampak kecil saja patah kalau potong yang begini".

Kami mengerumuni pohon jati yang belum lama ditebang orang, melihat dan memeriksanya, berbekal pengetahuan seadanya tentang jati, yang hampir tiap hari didengarkan dari pembicaraan orang-orang.

"Siapalagi yang tebang ini pohon kasian, tamba banyak saja orang tebang jati sekarang ini”
“iya, Kemarin malam saliat juga orang mengangsur dijalan atas sana, besar skali kayunya”
"Liat disana, ada lagi jati yang ditebang, disana juga ada"

Kami pergi melihat jati lain yang ditebang, menuju kesana tak perlu tenaga atau parang tajam untuk memotong semak belukar yang menghalangi. Oleh para penebang kayu, semak belukar telah dibersihkan, itu dilakukan untuk memudahkan semua proses dari penebangan sampai pengangsuran. Pengangsuran merupakan aktifitas memindahkan batang jati yang telah ditebang, dari dalam hutan menuju tempat penyimpanan sebelum dijual.

Kami hanya saling bertatapan dengan wajah keheranan, sebelum La Firman membuat kaget dengan bertanya satu hal yang sama sekali belum kami pikirkan. "Bemana kalo kita ambil ini jati?". Mengambil jati orang adalah sesuatu yang sulit dan sangat berbahaya, untuk anak-anak seperti kami pemukulan atau hal buruk lainnya bisa menjadi resikonya.

“Apa? ambil kayu?” karena kaget yang bercampur lucu La Angko tertawa terbahak-bahak, menertawai maksud La Firman yang cukup mustahil buat anak-anak macam kami.

Kami masih anak-anak kala itu, jiwa humor kami tentu masih sangat kuat, kami akan otomatis ikut tertawa ketika ada teman lain yang tertawa, apalagi ketika La Angko yang mulai tertawa dan berkisah tentang cerita-cerita lucunya. “Bisa juga kita ambil, kalau mau”, sesaat La Angko menghentikan tawanya dan mulai berbicara, dari raut wajahnya kelihatannya dia akan serius, sedangkan kami masih belum bisa berhenti tertawa sepenuhnya.

Bersambung...

Rabu, 20 Maret 2019

Ketika Akan Memulai Kembali Perjalanan


Hujan turun dengan perlahan, menyiram sedikit demi sedikit tanah yang sebelumnya belum sempat mengering. Untuk sesaat saya masih menunggu dengan tenang, namun perlahan kondisi sedikti berubah, dan sayapun mulai gelisah entah kapan mobil jemputan kan datang.

Dalam kamar yang hanya berukuran 3x4 kembali kupandangi putraku yang sedang tertidur lelap, sesekali kupikir kembali kondisi yang buatku harus berpisah dengannya tuk sementara waktu. Ini merupakan pilihan sulit, saya hanya berusaha membuat pilihan sulit diantara pilihan-pilihan teramat sulit.

Saat itu 6 Januari 2018, hari mulai siang dan tanpa terasa hujanpun mulai turun dengan deras. Gelisah dan sedikit panik, itulah 2 hal yang mulai kurasakan ketika kulihat waktu di HP telah menunjukan pukul 13.25. “Semoga saya tidak ketinggalan pesawat”, kataku dalam hati.

Perjalanan menuju bandara sugimanuru kami tempuh dalam waktu kurang lebih 25 menit, waktu yang lumayan singkat mengingat kondisi jalan yang belum sepenuhnya baik. Dalam mobil sang driver dengan ramah membuka pembicaraan, hanya sekedar memastikan kembali karena baru melihatku beberapa hari lalu diterminal kedatangan bandara Sugi Manuru.

Kamipun mulai bercerita dengan sesekali diselingi tawa yang secara alamiah keluar karena merasa saling memahami maksud pembicaraan satu sama lain. Untuk kesekian kalinya saya menggunakan jasa angkutan bandara dari raha menuju bandara Sugimanuru di Kabupaten Muna Barat.

Bandara Sugimanuru terletak di Kabupaten Muna Barat, yang merupakan Kabupaten baru pecahan dari Kabupaten Muna.

Dalam perjalanan menuju bandara, berulang kali kami melewati hutan, kebun dan juga perkampungan warga. Suasana pedesaan masih sangat terasa disana, dimana tidak ada pusat perbelanjaan dan juga gedung besar yang dikunjungi banyak orang. Tak ada keramaian dan kendaraan mahal yang lalu lalang, suasana sekeliling masih terasa sunyi.

Hujan tak berhenti saat kami telah sampai di bandara, saya pun kembali mengingat-ingat percakapan diperjalanan dengan sang driver mobil bandara. Dia tahu profesiku, namun saya enggan bertanya latar belakang pendidikannya, biarlah itu menjadi rahasia dalam pertemuan kami yang singkat.

Dia bercerita tentang perekonomian di kota raha, menurutnya dengan adanya bandara dapat memberikan penghasilan bagi beberapa orang, dibandingkan sebelumnya keadaan di daerah sangat susah, orang hanya bisa hidup kecuali menjadi PNS.

Bahkan buat para pedagang dipasar pun masih cukup susah, hal itu dirasakan oleh beberapa penjual-penjual di pasar, yang katanya penjualan rame hanya pada tanggal 1 sampai tanggal 20 saja, setelah itu penjualan agak menurun. Saya pribadi tidak tau akan hal itu, saya menerima itu sebagai informasi tambahan yang cukup berharga.

Kuseruput kembali kopi hitamku dari cangkir biru yang tinggal setengah, beberapa waktu sebelumnya setelah melakukan cek in, kembali kulakukan ritual wajib sebelum berangkat, ya, memesan secangkir kopi hitam pada penjual di bandara Sugimanuru.

Tak ada pilihan, karena hanya ada satu kantin yang menyediakan kopi hangat dikawasan bandara. Sungguh beruntung ibu pemilik kantin kecil ini, dia tak perlu bekerja keras memeras emosi dan kesabaran untuk bersaing dengan penjual lainnya dalam menarik pembeli.

Bandara telah berubah, dengan tampilan yang lebih baik dari sebelumnya, bangunan baru, fasilitas baru, dan tentu saja dengan pelayanan yang lebih baik. Menunggu di dalam pun akan terasa lebih nyaman, dengan fasilitas pendingin ruangan dan televisi yang siap menghibur dengan tayangan seadanya.

Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan bandara sebelumnya, yang panas dan penuh sesak ketika menunggu diruang tunggu bandara. Kini semua itu hanya kenangan, hanya membayangkannya sudah cukup membuat diri terhibur, alangkah beruntungnya bandara kini telah berubah.

Saat ini bandara Sugi Manuru baru melayani rute penerbangan Raha – Makassar, dengan pesawat ATR berkapasitas 72 penumpang dari 2 maskapai, yaitu Garuda Indonesia dan Wings Air.

Kabar terbaru mengatakan bahwa saat ini tengah diusahakan agar supaya kedepan, bandara Sugimanuru dapat menarik 1 lagi maskapai baru. Maskapai yang dimaksud adalah Citylink, namun bukan dengan pesawat ATR seperti milik Garuda dan Wings Air, armada yang digunakan adalah pesawat bermesin jet dengan ukuran lebih kecil.

Tentu tidak gampang menarik pesawat dengan badan lebih besar untuk dapat beropeasi di Bandara Sugimanuru. Selain persyaratan teknis bandara yang harus dipenuhi, ada persyaratan jumlah penumpang atau jumlah lalu lintas harian yang juga harus dipertimbangkan.

Untuk memenuhi dua persyaratan tersebut, tidaklah mudah seperti membangun jalan maupun jembatan. Salah satu yang terpenting adalah, bagaimana menjadi Kabupaten Muna ataupun Kabupaten Muna Barat menjadi tempat yang akan dipertimbangkan untuk dikunjungi banyak orang.

Banyak motif orang ingin datang, apakah ingin berwisata atau untuk urusan bisnis atau mungkin urusan lain yang juga penting. Intinya 2 Kabupaten ini mampu memoles diri masing-masing agar supaya menarik bagi pengunjung.

Apabila ingin menjadi daerah tujuan wisata, maka wajib untuk mengoptimalkan seluruh potensi wisata yang dimilikinya. Melakukan pengelolaan dan penataan objek wisata yang lebih baik, tentu saja dengan tidak melupakan keunikan yang dimiliki dan tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, yaitu budaya dan sejarah.

Sedangkan apabila ingin menjadi daerah tujuan bisnis, maka wajib membuka diri untuk masuknya investor. Hal ini agaknya cukup berat, karena selain harus didukung potensi daerah, hal lain yang tak kalah penting adalah komitmen pemerintah dalam menyediakan kemudahan-kemudahan investasi bagi pengusaha.

Karena peraturan dan juga mekanisme pengurusan administrasi yang berbelit-belit kan membuat semua pengusaha berpikir 1000 kali untuk datang dan berinvestasi. Apalagi belum-belum sudah meminta “Fee” ke pengusaha, atau sudah menanyakan “apa yang akan saya dapat”.

Semoga para pejabat-pejabat di daerah tidak seperti itu, dan lebih memikirkan bagaimana caranya daerah maju, bagaimana caranya daerah mendapat pemasukan yang baik agar dapat memberikan penghidupan yang layak bagi warganya.

Tentu saja hal itu sangat perlu untuk dipikirkan lebih keras oleh para pejabat di daerah. Bukan hanya pasrah dengan kondisi keuangan daerah yang pas-pasan atau bahkan kurang, terus mengharapkan dana-dana lainnya datang dari Pemerintah Pusat.

Setidaknya, segala upaya yang telah dilakukan sampai saat ini patut disyukuri dan diapresiasi, karena daerah kecil seperti Kab. Muna dan Kab. Muna Barat masih mendapat perhatian dari pemerintah pusat, hal itu tercermin dari pembangunan bandara Sugimanuru dan Pelabuhan Penyeberangan Raha dengan menggunakan dana APBN.

Ini kemudian menjadi titik balik perkembangan Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat sebagai adik yang masih muda.

Pentingnya KLB Sebelum Membangun


A : Bro bisa bantu saya?
B : Bantu apa itu?
A : Gambarkan rumahku, samau renovasi n bikin 3 lantai
B : Wuih, luar biasa itu. Luas berapa tanah n bangunan yang mau dibikin?
A : Luas tanahnya 20x25 m, sekitar 500 m2, kalo bangunan rencananya 20x10 rata sampe lantai 3
B : Mau buat ruko kah? Wkwkwk
A : Wkwk, rumah ini bro, bisa to?
B : Bisa saja, tapi kalo diijinkan
A : Sapa yang larang? Ini pake uangku bukan uangnya orang
B : Hehe, bro, kalo mau bikin rumah tingkat, kita harus tau aturan KLB, KDB, Tinggi Bangunan, dll. Karena tidak bisa dikasi ijin mendirikan bangunan kalo salahi aturan
A : O, begitu kah?
B : Iya bro, sajelaskan pale sedikit tentang KLB kalau mau
A : Bisa itu bro, tapi kasi mudah saja biar mudah juga dipahami
B : Siapp.

KLB singkatan dari Koefisien Lantai Bangunan, yang merupakan koefisien perbandingan antara luas seluruh lantai dan luas kavling atau persil, atau luas tanah yang tadi disebutkan. Itu menurut Peraturan Mentri Agraria dan Tata Ruang Nomor 16 Tahun 2018 tentang Rencana Detail Tata Ruang.

Luas seluruh lantai artinya hasil penjumlahan luas dari lantai 1 sampai lantai 3, bukan hanya lantai dasar saja. Nilai KLB ini ditentukan dalam Rencana Detail Tata Ruang, yang mengatur secara terperinci tentang penggunaan ruang pada kawasan perkotaan dalam bentuk zonasi.

Jadi semua pembangunan yang dilakukan, entah itu pembangunan baru atau renovasi bangunan, diatur dalam rencana tata ruang dari yang skala besar atau makro sampai yang skala kecil atau mikro.

Misalnya tempatnya kita sekarang ini, Kabupaten Muna, kawasan perkotaannya itu Raha, yang mencakup 4 Kecamatan ; Katobu, Laiworu, Lasalepa dan Batalaiworu. Ada Rencana Tata Ruang yang disusun untuk mengatur segala pembangunan dan penggunaan lahan atau tanah yang ada di Kota Raha, itumi RDTR.

Jadi bukan hanya membangun, tapi untuk kegiatan apa bangunan yang mau dibangun, itu juga diatur dalam Tata Ruang, khususnya RDTR yang dilanjutkan lebih mendetail di RTBL. Yang disebutkan barusan itu Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, turunannya RDTR.

B : Bagaimana? Susah hidupmu to?
A : Iya, asli susah, kenapakah harus diatur-atur begitu bro?

Begini, katanya senior kita manusia merupakan makhluk kadang-kadang, kadang kita menjadi orang baik dan bertindak baik, kadang juga kehilangan kendali dan bertindak buruk. Kalau berlaku baik katanya pak ustad kita mendekati malaikat, tapi kalau bertindak jahat dan kasar kita mendekati binatang atau mungkin juga iblis.

Mungkin itu maksudnya penceramah shalat jumat di masjid dekat hutan kemarin dulu, katanya Manusia diciptakan dari tanah, kemudian ditiupkan roh, jadi manusia punya potensi menjadi malaikat ataupun iblis.

Nah, karena punya 2 sifat itu makanya manusia harus dikendalikan, harus diatur jangan sampe berbuat jahat dan kemudian menjadi iblis buat manusia lainnya. Termasuk diatur dalam menggunakan haknya untuk membangun, jangan sampai pembangunan yang dilakukan hanya mengikuti hawa nafsu dan tidak disadari bisa berakibat buruk untuk dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.

A : Terus, apa hubungannya dengan tata ruang?
B : Tata ruang sebagai alat untuk mengatur dan mengendalikan sifat manusia, supaya bisa mendekati sifat malaikat dan menjauhi sifat-sifat iblis.
A : Wuih, kayaknya bicaramu sudah seperti ustad
B : Tata ruang memang seperti itu, makanya orang tata ruang atau perencana atau bahasa kerennya Planner, seperti saya ini, akan mendekatkan kau pada malaikat, bukan iblis
A : gayamu anu,
Termasuk didalamnya pengaturan tentang Koefisien Lantai Bangunan, yang mengatur tentang berapa luas lantai maksimum yang bisa dibangun pada sebuah bangunan, entah itu rumah tinggal, kantor ataupun ruko.

KLB biasa dinyatakan dengan bilangan desimal seperti 1-2-3-4-5 atau biasanya juga dengan koma misalnya ; 1,3-1,4-1,5. Bisa dibilang, semakin besar nilai KLB maka semakin besar pula luas lantai yang diijinkan untuk dibangun. Jadi sebetulnya KLB ini aturan untuk rumah bertingkat saja, yang maksudnya untuk mengendalikan berapa besar ruang udara yang dipakai manusia.

A : Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana cara menghitung KLB?

Jadi begini, sebelum membangun penting untuk tau berapa luas lantai dasar bangunan yang bisa kita bangun di tanahnya kita. Setelah itu kita harus tau juga berapa luas seluruh lantai yang diijinkan dan berapa jumlah lantai maksimal. Makanya penting untuk tau berapa nilai KDB dan KLB yang diijinkan didaerah lokasi tanahnya kita itu.

Misalkan :
KDB yang diijinkan adalah 60%
KLB yang diijinkan adalah 2,3
Luas tanah 500 m2

Yang pertama kita cari dulu berapa luas lantai dasar yang diijinkan, atau KDB nya yaitu :

KDB : 60% x 500 = 300 m2

Jadi luas maksimal dasar bangunan yang diijinkan untuk dibangun adalah 300 m2, atau 20 x 15 m. Angka ini bisa kurang tapi tidak boleh lebih. Setelah ini baru kita bisa hitung KLB, yaitu ;

= KLB x Luas Lahan
= 2,3 x 500
= 1.150 m2

Dari sini kita sudah dapat nilai KLB nya yaitu sebesar 1.150 m2, artinya sebesar itu juga luas lantai yang boleh dibangun. Kalau lantai dasar 300 m2, berarti tinggal dikurangi saja, 1.150 – 300 = 850 m2, angka ini merupakan jumlah luas lantai maksimal yang dapat dibangun diatas lantai dasar bangunan. Sekarang tinggal dicari tau berapa lantai diijinkan untuk dibangun, yaitu ;

= KLB / KDB
= 1.150 / 300
= 3,83 dapat dibulatkan menjadi 4

Berarti area tempat kita mau membangun diijinkan untuk bangunan 4 lantai, tapi dengan ketentuan lantai 1, 2 dan 3 bisa dengan luas lantai maksimal 300 m2, sedangkan lantai 4 hanya bisa seluas 250 m2 saja. Jadi, karena kita hanya mau bangun rumah 20x10 = 200 m2, berarti sangat diijinkan, karena masih dibawah KDB yang ditentukan yaitu  60%, trus tuk tingkat 3 dengan luas lantai sama dari bawah sampai atas, juga dibolehkan, karena tidak melebihi nilai KLB yang ditentukan.

B : Bagaimana, Gampang to?
A : Iya, hehe, tiada masalah kalau begitu. Hanya saja saya ada pertanyaan, kalau tidak keberatan
B : Santai saja, kan kita sama-sama belajar.
A : begini bro, barusan saya download Permen 16 yang tadi kau bilang. Tuk KDB ada memang didalam, apa defenisinya dan bagaimana cara menentukan nilainya. Banyak variabel KDB yang saya juga tidak mengerti, seperti kawasan yang dilestarikan, debit dan infiltrasi, itu ada semua cara hitungnya. Tapi untuk hitung nilai KLB saya belum dapat, seperti nilai KLB 2,3 yang diijinkan itu, bagaimana cara hitungnya, dalam Peraturan Menteri tidak ada saya liat.

Jadi begini, menghitung KLB sebetulnya ada 2 tahap, yang pertama tahap menentukan nilai KLB dalam dokumen rencana kemudian disahkan dalam bentuk perda, dan yang kedua menghitung KLB dari nilai yang sudah ditentukan. Yang kita lakukan tadi bagian kedua, setelah KLB telah ditentukan, sedangkan tahap pertama ini yang agak panjang prosesnya.

Meskipun tidak ada dalam Peraturan Menteri, tapi 2 komponen utama dalam menghitung KLB seperti KDB dan Tinggi Bangunan sudah dibahas didalamnya. Tinggi bangunan ini yang kemudian digunakan untuk menghitung jumlah lantai yang diijinkan, agak sedikit berbeda dengan perhitungan diatas dimana jumlah lantai dihitung belakangan.

Perhitungan yang saya gunakan untuk menentukan nilai KLB atau FAR (Floor Area Ratio) adalah KDB x Jml Lantai , kalau nilai KDB 70%, berarti 70/100 x Jml Lantai.

Mengenai jumlah lantai dapat dihitung menggunakan rumus yang terdapat dalam pedoman yang kamu download tadi itu. Meskipun itu menghitung tinggi bangunan, bisa juga dipakai untuk menentukan berapa jumlah lantai ketika tinggi bangunan sekian, umpamanya.

Selain itu, perhitungan ini bisa kita gunakan untuk menentukan nilai KLB sebuah lahan kosong yang akan direncanakan untuk dibanguni ditahun yang akan datang, tapi lagi-lagi saya hanya mengingatkan. Proses ini terlalu panjang dan mungkin susah, cukup para Planner saja yang lakukan.

Film Ralph Breaks The Internet dan Pelajaran Mencari Uang di Internet


Saya teringat tayangan di salah satu stasiun televisi swasta, disana ada Presiden Republik Indonessia sedang membagikan Kartu Indonesia Pintar. Ketika mendekati akhir acara, seperti biasa bapak presiden memanggil beberapa anak keatas panggung untuk diberi pertanyaan.

Pertanyaan yang diajukan bapak presiden sangatlah mudah, “setelah mendapat Kartu Indonesia Pintar, uangnya nanti mau dipake buat apa?”.

Dengan penuh percaya diri anak yang ditanya memberikan beberapa jawaban. Namun ada satu jawaban menohok, yang membuat seisi ruangan sampai tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali bapak presiden. “Saya ingin beli HP Android” begitu katanya.

***

Siapa sangka kebutuhan akan internet akan sampai besar seperti sekarang ini. Saking besarnya, sampai-sampai telah melampaui beberapa kebutuhan sekunder lainnya, dan hampir menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat modern dijaman ini.

Kebutuhan akan internet yang sangat besar itu, mengharuskan masyarakat memiliki perangkat yang cukup memadai agar dapat mengakses internet dimanapun mereka berada. Perangkat yang dimaksud tentu saja adalah Handphone, namun bukan HP sembarang, melainkan HP dengan system Android.

Kisah anak diatas merupakan gambaran nyata zaman ini. Gambaran seorang anak sekolah dasar yang tidak mampu dan mendapat bantuan agar dapat membeli kebutuhan sekolah. Bukannya memenuhi kebutuhan pendidikan, malah dia berencana ingin membeli HP dengan dana bantuan yang didapatkan.

Keinginan anak itu tidaklah salah, namun tidak sepenuhnya benar. Anak sekolah saat ini, ketika diperhadapkan pada 2 pilihan antara membaca buku kertas dan membaca buku digital, maka kebanyakan dari mereka akan memilih untuk membaca buku digital, atau berhadapan dengan HP.

Mungkin saja sebagian besar anak sekolah dijaman ini telah paham bahwa internet dapat menjawab segala pertanyaan yang dibutuhkan. Bahkan jawaban untuk soal matematika yang diberikan guru kelasnya sekalipun, internet mampu memberikan jawaban dan cara menjawab yang lebih mudah.

Begitu hebatnya internet, selain dapat memberikan informasi terbaru, juga dapat memberikan lebih banyak hal yang sangat berguna dalam kehidupan nyata. Sehingga menjadi sangat penting bagi semua orang untuk dapat menggunakan internet dengan baik.

Akhir tahun 2018 lalu film “Ralph Breaks The Internet” resmi ditayangkan. Agar dapat memberikan jawaban serta panduan bagaimana memanfaatkan internet dengan baik. Setelah membaca sedikit synopsis, saya putuskan untuk mendownload film yang menurutku sangat menarik ini.

Film ini adalah seri kedua setelah Wreck-it Ralph yang tayang pada tahun 2012 lalu. Berbeda dengan film pertama, film kedua ini menceritakan petualangan seorang penjahat dalam game “Fix-it Felix Jr“ bernama Ralph dengan seorang gadis pembalap dalam game “Sugar Rush” bernama Venelope.

Petualangan mereka bermula ketika Ralph ingin menghidupkan kembali game Sugar Rush tempat Venelope bekerja. Game itu akan dijual pemiliknya, karena biaya untuk membeli stik baru lebih mahal daripada yang dapat dihasilkan game sugar Rush dalam setahun.

Akhirnya Ralph bersama Venelope memutuskan pergi ke dunia internet, untuk mencari stik baru di situs jual beli online bernama “e-Bay”.

Setidaknya ada beberapa hal menarik yang kan didapati dalam perjalanan mereka berdua didunia internet. Sedangkan bagi yang terbiasa menggunakan internet, akan mendapati beberapa hal pada internet seperti diperagakan atau diperankan dalam film ini.

Yang pertama, meskipun perjalanan Ralph dan Venelope kedunia internet untuk membeli stik baru. Namun ada alasan lain yang membuat venelope menyambut baik niat Ralph menuju dunia internet, yaitu untuk mengobati masalah kebosanannya.

Venelope merasa bosan dengan game balapannya Sugar Rush, karena terus saja menang dan telah mengetahui segala seluk beluk lintasan balap dalam gamenya. Sebelum masuk didunia internet, dia pernah sangat berharap agar ada lintasan baru dalam game balapnya, atau ada game balapan baru yang lebih seru.

Internet ternyata mampu menjawab hal itu, mampu mengobati kebosanan yang dialami venelope terhadap dunia sebelumnya. Ketika pertama kali sampai didunia interet, mereka dihadapkan pada sebuah realitas baru yang sangat jauh berbeda dengan dunia yang selama ini mereka tempati.

Internet merupakan dunia tanpa batas, dunia yang dapat membuat seseorang menemukan hal baru sehingga tak ingin kembali ketempat asal. Internet merupakan sebuah dunia digital, yang dapat membuat venelope menemukan mimpinya membalap pada sebuah balapan jalanan tanpa aturan.

Yang kedua, semua yang dijumpai Ralph dan Venelope didunia internet adalah avatar 3D para pengguna internet. Avatar merupakan sebuah representasi atau penjelmaan pengguna computer dalam dunia internet, yang membuat pengguna tetap terkoneksi dengan internet. Kehilangan avatar berarti kehilangan koneksi.

Pada sebuah adegan dalam film ini, ketika Ralph keluar dari e-bay dalam keadaan kesal dia memukul-mukul papan reklame. Karena tidak dapat menghancurkannya diapun menjadi lebih kesal, kemudian mengangkat papan reklame tersebut dan membuangnya.

Papan reklame yang dibuang Ralph tadi terbang jauh keatas dan mengenai salah satu avatar pengguna internet. Avatar tersebut kemudian menghilang, dan seketika pengguna internetnyapun kehilangan koneksi ke internet atau mengalami Lost Conection.

Ralph dan Venelope sebetulnya adalah pendatang atau imigran gelap didunia internet. Mereka masuk kedunia internet tidak mewakili atau bukan avatar seorang pengguna internet. Mereka hanyalah tokoh dalam game yang menyelinap masuk kedunia internet dengan jaringan wifi pemilik rumah game.

Hal ini menjelaskan kembali bagaimana sebuah wifi bekerja. Dengan menjadikannya sebagai hotspot, sebuah wifi kemudian dapat membuat lebih dari satu lalu lintas kedunia internet untuk dapat digunakan lebih dari satu pengguna.

Karena itu, Ralph dan Venelope dapat masuk ke dunia internet dengan menggunakan jaringan wifi milik Mr. Litwak, meskipun sebelumnya Mr.Litwak telah menggnakan avatarnya dan masuk lebih dulu.

Yang ketiga, internet merupakan dunia digital yang dapat memenuhi semua kebutuhan manusia didunia nyata. Kebutuhan akan sebuah barang contohnya, dengan internet, orang dapat membeli barang apapun yang diinginkannya dengan harga yang dapat ditawar.

Seperti yang dilakukan Ralph dan Venelope, yang memutuskan pergi ke e-bay untuk mencari stik baru. E-bay laksana sebuah mall raksasa, yang menyediakan segala hal untuk dibeli. Tempatnya sangat bersih dan tertata dengan baik, karenanya akan sangat mudah mencari jenis barang yang diinginkan.

Selain itu, proses pembayaran yang disediakan oleh internet tidak seperti mall ataupun pasar didunia nyata, dimana barang dibayar langsung. Di internet tidak demikian, mereka memberi kebebasan pembeli dalam memilih jenis barang, dan memberikan kesempatan dalam batas waktu tertentu untuk melunasinya.

Internet sangat memberikan kemudahan bertransaksi bagi calon pembeli dan para penjual. Calon pembeli tinggal memilih barang, setelah itu membayar, dan barang akan datang dalam beberapa jam atau beberapa hari ke alamat anda.

Ketika kita mengingat kembali sebuah pepatah “Pembeli adalah Raja”, maka sesungguhnya apa yang disediakan internet adalah betul-betul menjadikan pembeli sebagai seorang raja.

Bagimana tidak, seorang raja yang memiliki kuasa penuh, sangat berhak untuk memilih sebuah barang di pasar. Apakah barang yang telah dipilih kemudian akan dibayar atau dikembalikan, itu adalah keistimewaan yang hanya dimiliki oleh seorang raja, bukan masyarakat biasa. Dan internet menerapkan itu.

Yang keempat, internet dapat menjadi tempat hiburan baru dan menantang bagi Venelope. Berbeda dengan dunia game tempat asalnya, internet menawarkan berbagai game balapan super seru seperti Slaughter Race dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

Selain itu, dengan koneksi internet, tiap game yang ada didalamnya dapat memberikan tantangan berbeda sesuai karakter gamernya. Kehadiran lebih dari satu player memungkinkan mereka bekerjasama untuk dapat menyelesaikan misi super sulit dalam sebuah game.

Yang kelima, untuk eksis di internet dan memiliki banyak pengunjung, seseorang harus memiliki sebuah website yang tertata, rapih dan menarik. Hal itu demi menarik dan memudahkan pengunjung untuk datang dan mampir lebih lama.

Di internet, website layaknya sebuah rumah persinggahan. Sebagaimana rumah didunia nyata, apabila rumah bersih, indah dan juga menarik, maka pengunjung akan sangat betah dan nyaman tinggal lama didalamnya.

Dalam film terlihat sebuah website milik JP Spamley yang sudah tua, tak terawat dan juga sangat berantakan. Website milik Spamley tersebut tidak memiliki pengunjung, mungkin hanya Ralph dan Venelope yang akhirnya mengunjunginya.

Untuk memberi layanan informasi buat Ralph dan Venelope saja, Spamley sampai harus bersusah payah mencari-cari dokumennya. Sampai akhirnya diapun memanggil asistennya bernama Gord, juga dengan susah payah melalui beberapa teriakan cukup keras.

Yang keenam, internet merupakan salah satu tempat untuk mencari uang. Untuk membeli stik, Ralph dan Venelope tidak mempunyai uang, itu karena mereka bukanlah avatar. Namun pertemuannya dengan spamley merubah segalanya, mereka kemudian mengerti bahwa internet dapat memberikan mereka uang.

Lewat sebuah iklan popup mereka mengetahui, bahwa uang dapat didapat dengan bermain game online. Ada banyak pilihan game yang dapat dicoba, dengan tingkat kesulitan berbeda-beda. Semakin sulit gamenya maka akan semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh.

Selain bermain game online, ada cara lainnya yang dilakukan Ralph dan Venelope untuk mendapat uang sebesar $27.001 dalam waktu  kurang dari 24 jam. Setelah bertemu dengan Shank mereka akhirnya tau, bahwa dengan video viral uang bisa akan lebih cepat didapatkan.

Yang ketujuh, ada aturan-aturan tidak tertulis dalam menggunakan internet, dan aturan paling pertama adalah “jangan membaca komentar”. Ada sisi terburuk manusia disini, tapi kau harus abaikan, masalanya bukan padamu tapi mereka sendiri.

Itu adalah petuah bijak yang disampaikan Yess, seorang kepala Algoritme situs BuzzTube kepada Ralph.

***

Ingin rasanya menonton film ini sampai habis, tapi apa boleh buat, saya harus keluar sebentar untuk sebuah urusan yang penting dan cukup mendesak. Sayapun mulai penasaran dengan hal apalagi yang akan ditemui Ralph dan Venelope dalam perjalanannya didunia internet.

Saya berharap mereka mengunjungi Facebook atau Tweeter. Mungkin mereka akan bertemu monster Hoax disana, yang sedang berperang dan coba menguasai sebuah system media sosial. Atau ada adegan lain tentang pertengkaran beberapa avatar didalamnya karena berbeda pilihan politik.